Connect with us

ESAI | Cairnya Batas antara Seni Lokal dan Asing

Berita

ESAI | Cairnya Batas antara Seni Lokal dan Asing

PERJALANAN hampir 25 kilometer sekali jalan dari pusat Kota Yogyakarta di malam hari ke dataran tinggi di lereng Gunung Merapi, tidak menyurutkan langkah para “pemulia” seni untuk datang ke Museum Ullen Sentalu. Di sinilah festival Asia Tri Jogja 2012 berlangsung sejak 2-4 Oktober lalu. Saya ingin menggunakan frasa “pemulia” seni bagi para seniman dan pengunjung ini, karena mereka tidak memikirkan jauhnya jarak, dinginnya cuaca, dan beberapa ruas jalan yang terkadang tidak diberi penerangan memadai, untuk dapat hadir dan “memuliakan” para penampil yang datang dari mancanegara serta beberapa daerah di Indonesia, juga “memuliakan” seni itu sendiri.

Tercatat para penampil adalah Anna Estelles (Spanyol), Rina Takahashi, Jun Amanto, Kasco Takemoto, Takateru Kudo, Naomi Mirian (Jepang), Kiran Rajagopalan (India), Anouk Wilke (Belanda), Jocelyne Montpetit (Kanada), Maya Dance Theatre (Singapura), Eblen Macari Ensemble (Meksiko), Sanggar Tari Ullen Sentalu, Komunitas Kaliurang, Sanggar Tadulako Palu, Suji Dance Company, Lintas Batas, Sugeng Obor Fire Dance, Bimo Dance Theater (Indonesia). Festival seni pertunjukan keliling yang pertama kali diselenggarakan di Korea Selatan pada 2005 lalu dan diprakarsai oleh seniman-seniman dari tiga negara yaitu Yang Hye Jin (Korea Selatan), Soga Masaru (Jepang), serta Bimo Wiwohatmo dan Bambang Paningron (Indonesia/Yogyakarta).

Jamak terdengar sejak beberapa dekade ini tentang kemirisan generasi terdahulu bahwa budaya dan seni telah banyak yang dilupakan dan beberapa malah telah punah seperti halnya terjadi pada flora dan fauna. Terkini dapat kita lihat saat pemberian anugerah Bentara Budaya bagi para maestro seni Indonesia yang rata-rata sudah sepuh dan ada yang merupakan satu-satunya pewaris terakhir dan tunggal dari ruh kesenian yang diampunya. Ada kesan bahwa yang antik dan klasik seperti halnya seni ingin dijaga dan ditempatkan sebagai sesuatu yang berkesan dan langka, sehingga generasi-generasi baru akan terkagum-kagum melihatnya. Hal ini akhirnya akan menjadi semacam dikotomi bahwa seni itu ada yang baru/modern/kontemporer dan seni yang lama. Dikotomi ini akhirnya menurut saya akan menyesatkan karena kategorisasi waktu penciptaan seni itu sendiri bukan tolok ukur yang tepat, karena batas antara yang baru dengan yang lama sangatlah kabur, terlebih bila pemisahnya adalah waktu yang tidak berbentuk.

Ada beberapa sikap yang kemudian muncul: menghilangkan yang lama, tanpa ada penggantinya; menghilangkan yang lama dan menggantikannya dengan yang baru; mendaur yang lama dan mengkombinasikannya dengan yang baru; dan tetap konsisten pada yang lama itu sendiri. Cara yang pertama dan kedua biasanya terkesan politis dan erat kaitannya dengan kebijakan penguasa, di Indonesia kasus ini marak pasca-65; cara ketiga digarap oleh para seniman cum akademisi yang memadukan ilmu konseptual dengan terapan; cara yang keempat dipegang erat oleh para empu dan pewaris seni, terkadang akhirnya cara keempat ini juga membuat seni itu hilang karena semakin sulitnya menemukan generasi baru yang ingin mempelajari seni itu. Mempelajari yang lama, bagi segelintir anak muda masa kini, dianggap sudah bukan masanya lagi, seni lama menjadi hal yang dianggap memalukan, bahkan menjijikkan. Maka efeknya adalah semisal generasi muda yang lebih tergila-gila pada Psy dengan Gangnam Style-nya dan melupakan bahwa Indonesia juga memiliki seni Jathilan yang lebih duluan ada dan berkembang, tapi akhir-akhir ini diabaikan. Cara ketiga ini dengan baik misalnya ditunjukkan oleh Kiran Rajagopalan yang berasal dari India saat membawakan koreografi klasik India yang merupakan salah satu episode dari Ramayana di festival Asia Tri Jogja. Sebelum pentas, dia memberikan penjelasan singkat tentang pertunjukannya. Kiran dalam tarian itu menjadi representasi beberapa tokoh sekaligus dan penonton hanya dapat membedakan cerita tarian itu jika cermat mengamati bahasa tubuhnya. Seni-gabungan ini juga ditunjukkan dengan apik oleh grup Lintas Batas yang menggabungkan beberapa elemen musik seperti Sunda, Melayu, Batak, Karo, modern, dan musik dance.

Para “pemulia” seni, seniman dan penontonnya, adalah dua komponen penting yang dapat memastikan seni itu dapat berkelanjutan. Seniman berkarya kepada publik dan publik mengapresiasinya, relasi ini hampir serupa dengan rantai produksi-konsumsi. Tapi posisi ini sangatlah dinamis. Publik juga dapat mempelajari seni itu dan akhirnya menjadi seniman. Begitulah prosesnya berlangsung. Maka hal yang sangat menggembirakan saat melihat grup Maya Dance Theatre dari Singapura, setelah memainkan empat komposisi tariannya yang diangkat dari tradisi India lama, mengundang enam anak-anak untuk dapat naik ke pentas dan berlatih singkat tarian yang gerakannya menggunakan bantuan tongkat kecil yang saling dipukulkan dengan pasangan di depannya serta akhir gerakannya seperti permainan ular naga yang lazim dimainkan oleh anak-anak. Antusiasme yang tinggi ditunjukkan oleh anak-anak ini saat pembawa acara dan salah seorang penari pria di grup Maya Dance itu meminta mereka untuk naik ke pentas, berlatih, dan setelah hampir sepuluh menit, simulasi selesai dengan digemuruhi tepuk tangan yang semarak dari hadirin yang terdiri dari warga lokal dan para wisatawan dalam dan luar negeri. Festival ini juga tidak didominasi dengan pengisi dari usia dewasa saja yang ditunjukkan dengan tampilnya para penari cilik dari Sanggar Tari Ullen Sentalu.

Batas antara yang lokal dan asing dalam seni juga semakin cair. Hal ini dikarenakan orang-orang tidak merasa segan untuk belajar seni yang bukan bagian dari entitas lokalnya berasal dan juga mengajar seni kepada orang lain yang berasal dari luar entitasnya. Maka kelas-kelas sanggar yang mengajari seni lokal Indonesia misalnya yang ada di Bali, Solo, Yogyakarta, dan daerah lainnya di Indonesia seringkali dipenuhi oleh warga baik warga lokal maupun warga asing yang ingin belajar dan mahir dalam seni itu. Hal ini menjadi ironi tersendiri bagi konteks Aceh, saat beberapa daerah terutama di Jakarta dan Yogyakarta secara serius menerapkan latihan tari Saman, bahkan menjadi bagian kegiatan ekstrakurikuler siswa dan dilombakan secara rutin, di Aceh usahanya malah terkesan tidak sesemangat itu. Dalam festival ini, saat vokalis perempuan dari grup Eblen Macari Ensemble yang berasal dari Meksiko mendendangkan Bengawan Solo-nya Gesang, gelora tepuk tangan dan teriakan semangat serentak dilontarkan penonton. Siapa yang akan menyangka orang Meksiko akan menyanyikan lagu Indonesia dengan irama musik Jazz?

Pertunjukan selesai. Penonton yang memadati salah satu bagian dari Museum Seni dan Budaya Jawa ini bergegas pulang. Embun sudah menempel di kursi sepeda motor dan kaca mobil. Bergegas menembus dinginnya cuaca dan pekatnya malam kembali ke rumahnya. Harapan tentang keberlangsungan suatu seni masih tetap ada dan tetap digaungkan. []

RIZKI ALFI SYAHRIL Mahasiswa Pascasarjana Universitas Gadjah Mada. Ia Pegiat di Poros Aceh-Jogja. Pemilik akun twitter @rizkialfi

Continue Reading
Baca juga...
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Berita

To Top