Connect with us

Gubernur, Pilot & Mekanik

Irwandi Yusuf menerbangkan pesawat. SUPARTA/ACEHKITA.COM

Feature

Gubernur, Pilot & Mekanik

Dengan teliti, Ia memutar mengelilingi burung besi miliknya, memastikan semua instrumen berfungsi dengan benar, mulai pengukur ketinggian, kecepatan angin, navigasi, baling-baling, hingga roda.

“Ini prosedur resmi yang wajib saya lakukan sebelum terbang,” kata Sang Pilot, Irwandi Yusuf.

Menjadi pilot merupakan obsesinya sejak kecil. “Cita-cita aku jadi pilot tempur. Cuma karena anak kampung, sekolah juga dikampung, tidak ada yang danai. Tapi obsesinya tetap tersimpan.”.

Keinginannya baru terpenuhi ketika usianya tak lagi muda, “Begitu ada peluang, saya belajar, ketika masuk sekolah penerbangan pun usia saya 53 tahun. Pesawat ini walau bukan pesawat tempur, tapi mirip kan?,” tanya Gubernur Aceh (terpilih) periode 2017-2022.

Selasa 20 Juni 2017 pagi, Ayah dari 1 putra dan 4 putri itu memenuhi janjinya untuk menerbangkan seorang reporter televisi yang ingin meliput Aceh dari udara, seraya mereportase sensasi terbang dengan dengan bakal orang nomor satu di Aceh.

Sekitar setengah jam lepas landas, pesawat yang diberi nama Hanakaru Hokagata kembali ke ke hanggar. “Dia bawa pulang rujak,” kata Pilot sambil menunjuk ke belakang.

Rupanya, si reporter televisi muntah di kala pesawat bermanuver dengan posisi miring. Di antaranya saat mengitari Masjid Raya Baiturrahman, Pasar Ikan Lampulo maupun di atas kapal laut yang sedang mengangkut penumpang ke Sabang dari Ulee Lheue.

“Dia belum apa-apa, Pernah Kanjeng Raden apa gitu dari Solo, pingsan malah,” terang Irwandi.

Irwandi menjelaskan, saat itu mengangkut si Kanjeng dari Banda Aceh ke Meulaboh, saat tiba di Calang Ia menurunkan ketinggian pesawatnya, lalu memutar mengelilingi kantor bupati. Dari spion, Irwandi melihat orang yang duduk di belakang sudah tidak bergerak.

“Sesampai di Bandara Cut Nyak Dhien, dia harus digotong,” kenang mantan juru propaganda GAM (Gerakan Aceh Merdeka) tersebut seraya tersenyum.

Belakangan, menerbangkan pesawat menjadi bagian dari keseharian yang sangat dinikmati suami dari Darwati Agani ini. Alasannya, bila di darat hidup hanya dua dimensi: panjang dan lebar, di udara ada tiga dimensi: Panjang, lebar, atas dan bawah.

“Apalagi saat tinggi, tidak kelihatan apa-apa di bawah, ngak tampak apa-apa ke atas, saat itu terasa hanya kita dengan Tuhan.”

Walau demikian Irwandi tidak punya jadwal terbang khusus, bila cuaca baik dan mudnya baik, dia akan menunggangi kuda besinya itu. Ia juga pernah membatalkan terbang dan kembali ke bandara semula ketika memperkirakan cuaca di depan tidak baik.

“Waktu itu urat urat takut saya lebih besar dari pada urat berani, jadi saya balik. Pernah juga urat berani lebih dominan, saya terbang saat cuaca paling buruk, terbangnya malam lagi.”

Soal diterjang badai di udara, Ia juga pernah mengalaminya. Saat itu terbang dari Gayo menuju Banda Aceh, di belakangnya duduk rekannya yang baru pertama kali ikut terbang. Alat pemantau cuaca sengaja dimatikan, begitu juga aplikasi pemantau yang terhubung ke satelit dari HP-nya.

Menjelang tiba di atas Seuelawah, pesawat mulai goyang-goyang, terhempas, moncong pesawat terangkat seperti menabrak gunung. Setengah panik Irwandi terus mengendalikan burung besinya yang ternyata masuk dalam awan merah atau dalam dunia penerbangan dikenal Cumulus Nimbus, awan yang sangat dihindari oleh pilot.

Lalu Irwandi melakukan manuver, menurunkan ketinggian pesawat dengan melingkar dalam seketika. “Saya berhasil keluar, tapi yang duduk di belakang dari tadi terus berteriak girang, mungkin dikiranya memang seperti itu duduk dalam pesawat saya, akhirnya saya cerita, baru dia diam,.”

Cerita horor lainnya, saat pulang malam hari dari Meulaboh. Menurut Irwandi, sesampainya di kawasan Lhoknga, dia memanggil menara kontrol Bandara Sultan Iskandar Muda, meminta izin untuk mendarat.

Pelan-pelan Irwandi mulai menurunkan ketinggian, dia terbang mengikuti garis navigasi menuju bandara, dari petunjuk dia merasa sudah dekat dengan landasan, tapi dia tak melihat tanda-tanda Runway. Lalu dia menaikkan kembali ketinggian pesawat, kemudian kembali mengontak menara kontrol.

Sejurus kemudian lampu di bandara mulai menyala, tapi yang dihidupkan malah lampu Runway (landasan pacu) bukan Toucdown Zone Light (Lampu yang memandu pilot ke arah pendaratan). Pun demikian Irwandi berhasil mendaratkan pesawatnya dengan sempurna.

Selain punya lisensi mengendalikan pesawat, Irwandi juga mampu memperbaiki tiap kerusakan pada pesawatnya. Keahlian itu dia pelajari langsung dari pabrik pembuatan Shark Aero di Slovakia.

“Saat itu pesawat yang saya pesan lama sekali selesainya. Nah saya berpikir, sambil menunggu kenapa saya tidak sekaligus belajar jadi mekaniknya.”

Pasca dilantik sebagai gubernur nanti, Irwandi mengaku masih akan menggunakan pesawat pribadinya untuk kegiatan dinas, tugas negara yang paling dekat akan dilakukannya adalah melantik bupati dan wakil bupati terpilih.

“Pelantikan-pelantikan di tempat yang jauh dan ada bandaranya, saya pergi pakai pesawat. Dulu juga saya begitu, tidak pernah memakai mobil dinas. Saya pakai mobil pribadi, saya sopirnya dan melaksanakan tugas negara. Boleh menggunakan milik pribadi untuk tugas negara kan?.” []

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Feature

To Top