Connect with us

Gwangjang Market, Wisata Kuliner di Pasar Tua

Gwangjang Market. KHITHTHATI/ACEHKITA.COM

Kuliner

Gwangjang Market, Wisata Kuliner di Pasar Tua

Jalan jalan ke Pusat Kota tua Joseon di Seoul tak ada salahnya singgah ke pasar Gwangjang ketika perut keroncongan minta diisi.

Terlebih buat pecinta makanan Korea jangan ketinggalan untuk kemari. Tempat ini menawarkan pengalaman makanan tradisional dan budaya dibawah suasana aroma tempat makan pinggir jalan.

Pasar bersama pertama negara Kimchi ini tak hanya menawarkan beragam masakan, sebagai bagian dari tempat wisata populer juga dijajalkan sutra, satin dan berbagai kain linen untuk pakaian dan seprai. Pusat pembelanjaan yang paling terkenal untuk kwalitas produk dan terbesar di Seoul.

Hampir semua toko mempunyai pabrik sendiri dan menyuplainya kepasar lainnya seperti Namdaemun, Dongdaemun dan Pyounghwa Clothing Market bahkan ke beberapa mall besar di Korea Selatan. Pilih pilih yang baik dan menarik dengan harga yang terjangkau tentunya membuat suasana belanja lebih menyenangkan.

Dibangun pertama kali pada tahun 1905 menjadikan pasar tradisional ini sebagai pasar tertua dan terbesar yang beroperasi diseluruh negeri gingseng.

Walaupun beberapa generasi telah terlampaui namun kita masih bisa membayangkan bagaimana tempat ini masih kelihatan seperti setengah abad yang lalu. walaupun terlihat tidak terlalu besar namun berisi sekitar lima ribu toko dan memperkerjakan lebih dari 200.000 orang.

Setiap harinya kebanyakan toko mulai buka dari jam 8.30 dan tutup pada 6.30 walaupun sebagiannya berakhir lebih lama lagi, namun kebanyakan tempat makan akan tutup dihari minggu. Jadi silahkan datang selain hari itu. Beralamat di 88 Changgyeonggung-ro distrik Jongno – gu, cara tergampang untung mencapai tempat ini adalah dengan naik subway (kereta api listrik) kearah Jongno 5 ga di line nomor 5 berwarna biru tua dan keluar di pintu exit 8 atau 9 yang langsung berada didekat pasar.

Ketika menikmati tempat ini kita dapat memelihat banyak turis maupun orang korea yang tengah santai memakan makanan yang sama. Ada beberapa lorong didalam pasar dan kita bisa berkeliling mulai dari deretan makanan, pakaian, pernak pernik, sayuran segar dan berbagai kebutuhan rumah tangga lainnya.

Tetap saja lorong utama di pasar ini dipersembahkan untuk makanan, ditata seperti suasana makan pinggir jalan, berasa dilautan makan dan orang makan yang tentu saja suasana yang membuat kita juga ini ikut mencicipi. Makanan yang ada diolah langsung didepan pengunjung sehingga tentu saja lebih menggugah selera. Walaupun penuh dengan makanan dan orang namun jangan khawati karena tenpat ini tetap terjaga kebersihannya. Salah satu program terkenal TV Korea Running Man bahkan juga pernah melakukan syuting disini dalam sebuat episode tentang berburu makanan.

Usai berjalan dan berkeliling tentu pilihan menu yang akan dicoba sudah terbayang, banyak rak dan meja yang menjajalkan hal yang sama. Walaupun semau terlihat lezat namun terkadang menentukan pilihan tidaklah mudah karena terlalu banyak pilihan kalau sudah begitu duduklah ditempat terdekat dan mulai makan. Ada beberapa makanan yang dapat dicoba seperti hoe (sejenis sashimi), Juk (Bubur), bibimbap, tteokbokki dan laiinya. Namun Jeon, yukhoe dan Mayak kimbab karena masing – masing makanan ini mempunyai gang tersendiri.

Jeon, buchimgae, jijimgae, atau jijim mengacu pada banyak hidangan pancake dalam masakan Korea. Jeon ini dibuat dengan campuran daging, seafood, sayuran, beras dengan tepung terigu terkadang dicampur telur yang lalu digoreng. Santapan ini sering dinikmati kala hujan turun.

Walaupun menyediakan banyak menu makanan namun pasar Gwangjang dikenal seantero Seoul mempunyai pancake atau sejenis martabak yang terkenal yaitu bindaettok. Tak hanya menikmati rasanya namun ada beberapa gerai kecil yang kita dapat melihat mereka mengolahnya dilorong yang menjajalkan berbagai Jeon. Didepan warung yang menjajalkan martabak ada beberapa alat penggiling kacang hijau yang telah dikupas kulitnya. Proses pembuatannya dilakukan oleh ajumma yang bercelemek sebagian sedang meracik adonan sebagian laiinnya tengah menggoreng.

Martabak ini sangat renyah diluar namun lembut didalam karena kacang hijau yang dihaluskan dan dicampur sedikit telur, walaupun anehnya lebih terasa kentang dari pada kacang hijau ketika dimakan, dihidangkan dengan cuka kecap yang sudah ditambah potongan bawang bombay, cabai merah bubuk dan irisan cabai hijau tak ketinggalan sepiring kecil kimchi.

Potongan bindaettok ini bisa dimakan langsung atau mencelupkannya kedalam saus, cita rasa yang berbeda akan terasa disetiap gigitan. Walaupun tidak begitu suka dengan yang terlalu berminyak tak salahnya sesekali mencobanya. Harganya dibanrol sekitar 4 ribu sampai 6 ribu won.

Selain martabak kacang hijau masih ada lusinan makanan lainnya yang siap dicoba digang ini, Seperti Kimchi mandu yang cocok untuk vegetarian. Jika anda berhijab biasanya menu satu ini juga akan ditawarkan. Mandu ini merupakan makanan yang menyerupai dumpling yang dibuat dengan bahan dasar tofu yang dicampur kimchi, masakan ini dihidangkan berkuah yang panas dan gurih sehingga cocok disantap kala cuaca dingin. Selain itu masih ada beragam bubur yang juga tidak ada salahnya untuk dicoba.

Gwanjang Market

Gwanjang Market. KHITHTHATI/ACEHKITA.COM

Tak jauh dari situ ada gang Yukhoe, yang berupa kan sajian hoe yang terbuat dari irisan daging sapi mentah dengan berbagai rempah, saus, kecap, gula, garam, minyak wijen, daun bawang, bawang putih, biji wijen, lada hitam dan sari dari buah pir korea setelah dicampur ditambahkan telur kuning mentah diatasnya. Hidangan ini bisanya disantap didampingi dengan biji pinus.

Lorong ini memang tidak sebesar dan seramai gang Jeon, namun kualitas yang ditawarkan tetap yang terbaik. Restoran disini memilih daging segar kualitas premium untuk disajikan. Untuk menjamin daging yang terbaik, pemilik tempat ini subuh hari sudah berkeliling pasar dan menyiapkan sendiri dagingnya. Karena itu tempat ini tetap diminati.

Untuk makanan pembuka sajian sup daging lobak bersama berbagai makan pendamping lainnya dapat kita nikmati secara gratis disini. Makan Yukhoe ini enaknya jika dicelup kedalam saus yang terbuat dari minyak wijen, garam dan sedikit merica. Jika ingin makan nasi bisa jadi Yukhoe Bibimbab menjadi pilihan untuk menuntaskan rasa lapar dan dengan harga 6.000 won semua itu akan tersaji diatas meja.

Terakhir ada lorong Manyak Kimbab, gang ini memang terpisah agak jauh di ujung pasar. Nasi gulung ini terlihat seperti sushi di Jepang namun bahannya sedikit berbeda. Makanan termasuk yang paling populer diatara turis bahkan orang Korea sendiri dikarenakan kepraktisannya dan menjadi makanan yang selalu dibawa ketika piknik. Kenapa namanya Manyak kimbab, penggunaan manyak dalam bahasa korea merunut kepada narkotik tapi jangan khawatir tidak ada barang terlarang itu disini. Penggunaannya disebabkan karena enaknya kimbab ini sehingga membuat para pengunjung ketagian untuk terus memakannya.
Walaupun gangnya juga tidak terlalu besar namun rasa yang ditawarkan tentu akan mengugah selera.

Bahan dasar menu ini adalah bab (nasi), daging atau biasanya diganti dengan sosis berbagai sayur seperti mentimun, lobak, wortel, daging kepiting, odeng (cake ikan),telur dadar dan digulung bersama rumput laut kering yang disebut kim. Sebelum dipotong disapukan sedikit minyak wijen dan ditabur biji wijen dan disajikan bersama acar lobak atau kimchi. Makan dengan mencelubkanya dengan saus yang tersedia maka anda akan benar kecanduan dan teringat untuk kembali.

Walaupun sudah berkunjung ke pasar ini beberapa kali namun rasanya tidak pernah bosan untuk mencicipi semua jajanan khas pinggir jalan disini. Ada beragam makanan lain pula yang menunggu untuk dicoba. Untuk kenyamanan pengunjung dimusim kala musim dingin datang bangku-bangku disini juga dilengkapi dengan pemanas. Pasar ini tidak pernah sepi dan penuh sesak tak peduli waktu dan musim dengan orang – orang yang mulutnya terus sibuk menguyah. Selamat icip – icip.

KHITHTHATI

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Kuliner

To Top