Hilal Tak Terlihat di Aceh, Pemerintah Umumkan Idul Fitri Rabu 5 Juni 2019

0
796
Warga memantau hilal menggunakan teleskop di Pusat Observatorium Hilal Tgk Chiek Kuta Karang, Lhoknga, Aceh Besar. Foto: Habil Razali/acehkita.com.

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM – Hasil pengamatan hilal Awal Syawal 1440 Hijriah di Pusat Observatorium Hilal Tgk Chik Kuta Karang Lhoknga dan juga laporan dari beberapa titik yang melakukan pengamatan di wilayah Aceh dinyatakan hilal Syawal tidak terlihat di Aceh, karena posisi hilal masih berada di bawah ufuk ketika magrib.

“Di Aceh hilal Syawal 1440 H tidak terlihat, karena posisi hilal pada saat pengamatan masih minus 0 derajat 11 menit di bawah ufuk. Sehingga secara data dan berbagai kriteria penentuan awal bulan kamariah, hilal mustahil terlihat hari ini,” ujar Daud Pakeh di Pusat Observatorium Hilal Tgk. Chiek Kuta Karang Lhoknga, Aceh Besar, Senin (3/6).

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Aceh menyatakan, pihak telah menyampaikan hasil pengamatan hilal Syawal 1440 H di Aceh ke Kementerian Agama sebagai bahan pertimbangan dalam sidang isbat di Jakarta.

Pada kesempatan itu, Daud Pakeh juga menyampaikan bahwa hasil sidang isbat penetapan awal Syawal 1440 H yang dipimpin oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin di Kantor Kementerian Agama Jakarta, Senin (3/6), menetapkan 1 Syawal 1440 H jatuh pada Rabu, 5 Juni 2019.

“Melalui sidang isbat, Menteri Agama RI telah menetapkan awal Syawal 1440 H pada hari Rabu, 5 Juni 2019, karena tidak ada referensi hilal yang teramati di seluruh Indonesia, semuanya hilal berada dibawah ufuk,” ujarnya.

“Dengan demikian jumlah Ramadan di-istikmalkan (disempurnakan) menjadi 30 hari, besok kita masih melaksanakan ibadah puasa Ramadan,” kata Daud, menambahkan.

Lebih lanjut, ia berharap meski adanya perbedaan dalam perayaan Idul Fitri tahun ini, tapi tetap menjaga kebersamaan dan menjadikan perbedaan tersebut sebagai rahmat,saling menghargai dan menghormati.

“Kalaupun ada perbedaan di antara kita, tetap menjaga kebersamaan kita dan mari kembali kepada kaidah nata’awan ‘ala ma ittafaqna wa natasamah fima ikhtalafna. Kita saling tolong menolong pada perkara yang kita sepakati, dan saling toleran pada apa yang kita perselisihkan,” sebutnya.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.