Connect with us

Hindi Medium: Ketika Inggris Bukan Sekadar Bahasa, tapi Strata Sosial

Film

Hindi Medium: Ketika Inggris Bukan Sekadar Bahasa, tapi Strata Sosial

“Saat orang Prancis atau Jerman berbicara dengan bahasa Inggris yang salah, maka itu tidak pernah menjadi persoalan. Tapi ketika orang India melakukannya, mereka akan ditertawakan karena mereka dianggap sampah, tidak bernilai, dan tidak dapat diharapkan”.

Ada beberapa film India yang mengangkat tema pendidikan, seperti Taare Zamen Par, 3idiots, Hichki yang mengkritik sistem pendidikan. Judul-judul ini menarik dengan tema mereka sendiri. Namun Hindi Medium membawa kritik ini ke arah yang lebih menawan dan satir.

Kekhawatiran orang tua tentang pendidikan anak mereka dan melakukan segala cara agar mendapatkan sekolah terbaik.  Pertentangan antara sekolah publik dan swasta tergambar dengan gamblang menjadi tema yang jarang diangkat.

Raj Batra dan Meetha hidup bahagia dengan keluarga kecilnya di Chandi Chwok sebuah kawasan ramai di Delhi Tua. Raj memiliki studio pakaian yang cukup terkenal. Ia berasal dari keluarga tukang jahit yang sederhana, sedangkan istrinya berpikiran lebih modern.

Latar belakang keduanya tidak membuat hal ini menjadi masalah besar dalam rumah tangga mereka, hingga suatu hari sang anak akan mendaftar sekolah menimbulkan gejolak di keluarga yang saling mencintai ini.

Meetha suatu hari bertemu teman sekolahnya dulu dan mulai membicarakan pendidikan anak mereka. Dari pembicaraan itu, ia mulai mencari sekolah terbaik di Delhi agar tidak diremehkan oleh temannya.

Dia dan Raj berkeliling ibukota India itu dengan bekal sebuah majalah yang memberi peringkat lima sekolah terbaik di kota mereka.

Tidak mudah untuk masuk sekolah elit tersebut, walaupun mereka juga merupakan orang berada. Mereka harus mengubah gaya hidup, berpakaian, sampai berbicara agar bisa masuk kekalangan atas.

Kaya raya di kawasan Chandi Chowk dianggap kampungan, sehingga Meeta meminta  agar mereka bisa pindah ke kawasan “bangsawan” Delhi di Vasant Vihar.

Ia bahkan meminta Raj menganti nama panggilannya menjadi honey. Padahal Raj lebih suka memanggilnya dengan sebutan Mithoo yang menurut sang istri terdengar kampungan.

Meetha yang sangat protektif terhadap anak perempuannya dan menganggap bahwa itu satu-satunya cara Pia tidak dipandang rendah nantinya. Raj yang sangat sayang istri menyanggupi permintaan itu agar istrinya tidak depresi.

Merubah semuanya ternyata tidak membuat mereka diterima di kalangan kelas atas, karena keluarga ini tidak bisa berbicara dengan bahasa Inggris dengan baik. Pia tidak punya teman dan sang istri menjadi lebih tertekan.

Walaupun masalah penerimaan sekolah menjadi fokus dari film ini, namun Hindi Medium juga menawarkan bagaimana masalah pendidikan ini juga membagi strata masyarakat.

Bagaimana orang tua berlomba menyekolahkan anak mereka ke sekolah terbaik dengan fasilitas lengkap bak hotel bintang lima. Isu pendidikan kemudian menjadi lahan bisnis yang menggiurkan.

Irrfan Khan seperti biasa memikat penonton dengan akting menawannya. Memerankan seorang suami yang harus memilih untuk mempertahankan prinsip hidup sederhana  atau berkorban demi kebahagian keluarga.

Melalui tokoh ini pula, ia membawa pulang piala sebagai aktor utama terbaik dalam ajang penghargaan Film Fare Award tahun 2018.

Akting Saba Qamar patut diacungi jempol, tak tampak sedikit pun terasa bahwa ia adalah pendatang baru di Bollywod. Ia memerankan istri yang mendominasi dengan baik.

Hindi Medium adalah film ketiga sutradara Saket Chaudhary setelah Pyaar Ke Side Effects dan Shaadi Ke Side Effects. Sama seperti film sebelumnya yang mengangkat dinamika Delhi dengan komedi satir, kritik sosial dibalut tawa.  Ia menggap kota ini selalu menarik dan berwarna.

Saket mengajak penonton lebur dalam tokoh yang ada dengan memotret kejadian sehari-hari yang lebih dekat. Dialog yang ditulis oleh Amitosh Nagpal dengan sempurna menohok penonton dan humor yang dikemas sangat menarik namun tidak membuat kita lupa akan tujuan utama film ini.

Sekolah elit ini ternyata tidak hanya  melakukan wawancara para siswa, tapi orang tua mereka. Hal ini membuat keluarga Batra menyewa seorang konsultan karir pendidikan.

Walaupun dianggap terlambat untuk mempersiapkan wawancara di sekolah yang ada, namun dengan bayaran tertentu sang konsultan bersedia membantu. Mereka dibuatkan les khusus

Setelah segala cara dicoba, ternyata Pia tetap gagal. Mithaa menyalahkan Raj akan kegagalan ini karena ia tidak melakukan wawancara dengan bahasa Inggris yang baik bahkan tidak dapat mengeja apa yang diucapkannya. Sang istri tak mau Pia seperti ayahnya nanti, menjadi bahan tertawaan orang lain.

Akhirnya jalan pintas pun dilakukan dengan mencuri hak orang lain, mereka mencuri formulir yang dipersiapkan untuk jalur miskin.

Sekolah menetapkan aturan ketat bahwa mereka akan mengunjugi rumah kandidat. Tak kehabisan akal, mereka menyewa rumah di kawasan paling miskin di kota, Bharat Nagar setelah berpura-pura liburan ke Eropa.

Film makin menarik ketika tokoh  Sham Prakash diperkenalkan. Deepak Dobriyal  memainkan peran sebagai tetangga Raj di kawasan kumuh. Mimik dan bahasa tubuhnya menyelami pahitnya hidup miskin. Anak Sham juga mengikuti tes yang sama masuk sekolah dengan jalur miskin.

Kehidupan yang sederhana dan polos sehingga ia tidak pernah mengetahui bahwa Raj hanya pura-pura miskin, ia membantu semua kebutuhan rumah tangga tetangga barunya itu.

Perlakuan Sham yang baik membuat Raj kemudian terus membuat hidup Raj dihantui rasa bersalah terlebih sampai akhirnya ia menggambil hak temannya itu untuk menyekolahkan anaknya dengan layak.

Pada akhirnya Hindi Medium memperlihatkan bahwa terkadang sekolah menjadi alat para orang tua untuk mempertahankan gengsi. Mereka bahkan bisa berlaku curang demi mendapatkan kursi terbaik.

Sementara anak-anak belajar lebih keras dan memaksa diri atas nama mendapatkan pendidikan terbaik agar ego orang tua mereka terjaga. []

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

More in Film

Advertisement

ACEHKITA TV

Trending

Kolom

Kuliner

Facebook

To Top