Imlek di Negeri Syariat

0
345
Imlek di negeri syariat
Etnis Tionghoa merayakan Tahun Baru Imlek 2019 di Vihara Dharma Bakti, Banda Aceh, Selasa 5 Februari 2019. (Foto: Ucok Parta)

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM – Gong bergema di Vihara Dharma Bakti begitu jarum jam menunjukkan pukul 00.00 WIB, Selasa (5/2/2019). Pertanda telah memasuki tahun baru Imlek 2019.

Etnis Tionghoa yang sudah berada di dalam vihara jalan T Panglima Polem itu langsung mengambil dupa/hio dan lilin yang beragam ukuran. Kemudian membakarnya dan mereka langsung menghadap ke berbagai altar secara silih berganti, untuk bersembahyang.

Asap tipis membumbung dari kumpulan hio berwarna merah seukuran lidi. Dari asap itu muncul wewangian khas yang dipersembahkan untuk Tuhan dan siapa pun yang didoakan. Ruangan kelenteng itu menjadi penuh cahaya dari lilin-lilin yang teah dibakar.

Di luar vihara, terlihat sejumlah warga sekitar menyaksikan perayaan tahun baru China 2570. Mereka berbaur dengan warga etnis Tionghoa dan aparat kepolisian yang berjaga-jaga di pintu masuk kelenteng.

Imlek dirayakan tanpa kecemasan dan ketakutan. Warga Tionghoa terus berdatangan. Tidak hanya orang dewasa, anak-anak juga turut hadir. Datang bersama keluarga, yang muda-muda kadang datang bersama teman-temannya.

Kendrick warga etnis Tionghoa yang kini kuliah di luar kota datang bersama tiga temannya. Dia mengaku tiap tahun merayakan imlek bersama keluarga. Dirinya sengaja pulang ke Banda Aceh untuk merayakan imlek di kampung.

“Selama ini keberagamaan di Banda Aceh sudah cukup toleran, walau Aceh menerapkan syariat Islam tapi menurut saya sudah cukup toleran terhadap agama lain,” ujarnya.

Mereka masuk ke vihara dan menuju ke altar memanjatkan doa demi mendapatkan keberkahan pada tahun babi tanah. Sesuai Astrologi China, pada tahun baru imlek 2019 yang dikenal tahun babi dengan unsur tanah (bumi) menjanjikan keberuntungan dan berkat bagi semua tanda zodiak China.

Tahun baru imlek 2019 ini dimulai pada Selasa, 5 Februari dan berakhir pada Jumat, 24 Januari 2020. Tahun babi tanah ini datang tepat setelah tahun anjing tanah (2018) dan sebelum tahun tikus logam (2020).

Ketua Yayasan Vihara Dharma Bakti Banda Aceh, Yuswar, mengatakan, perayaan tahun baru imlek 2019 bertepatan tahun politik diharapkan bisa memberikan keamanan dan kebaikan bagi Indonesia dan Aceh khususnya. “Tahun politik kita harapkan aman dan baik. Rezeki kita mudah-mudahan dimudahkan,” ujarnya di sela-sela perayaan tahun baru imlek 2019.

Menurutnya, tidak ada perbedaan merayakan imlek di Aceh dengan di kota-kota lainnya. “Memang di Aceh berlaku qanun syariat Islam, tapi walaupun demikian toleransinya sangat baik.”

Yuswar mencontohkan, lihat saja kalau ada acara sembahyang di vihara tidak pernah ada masalah, dari dulu sampai sekarang karena yang namanya syariat Islam itu berlakunya bagi umat Islam, bagi non muslim ya tidak ada masalah.

“Memang kita minoritas di sini karena Aceh dominan muslim. Kita mengharapkan yang mayoritas bisa mengayomi kami yang minoritas. Juga sebaliknya kami yang minoritas bisa menghormati kepada yang mayoritas,” ucap lelaki berusia 68 itu.

Dia menyatakan, misalnya penerapan syariat Islam di Aceh kita saling menghormati baik dari segi pakaian juga bentuk ibadah. “Karena saya lihat karakter orang Aceh itu sangat menghormati misal kepada tamu.”

“Pokoknya kalau Aceh cukup baik lah dalam hal beragama, saling toleransi dan saling menghargai,” kata Yuswar yang dari lahir sudah merayakan imlek di Aceh.

Pernyataan Yuswar tersebut membantah survei Setara Institute yang menyatakan Kota Banda Aceh intoleran beberapa waktu lalu. “Mungkin info yang diterima mereka informasinya dan orang itu tidak langsung ke Aceh, tapi coba kalau langsung ke sini, kenyataannya akan berbeda,” sebutnya yang tergabung dalam Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Aceh mewakili Umat Budha.

Bahkan, katanya, FKUB Aceh baru saja menerima Harmony Award 2018 yang diserahkan oleh Menteri Agama. Penghargaan ini menurutnya menjadi salah satu contoh bahwa kehidupan beragama bahwa di Kota Banda Aceh berlangsung harmonis.

“Di sini kita tetap kompak, ada masalah tetap kita pecahkan secara bersama-sama,” tegas Yuswar.

Vihara Dharma Bakti berdiri sejak 1936 di Peunayong yang terletak persis di tengah kota Banda Aceh ini. Selama ini, Peunayong dikenal sebagai pecinan (china town)-nya Aceh.

Selain Vihara Dharma Bakti, di Banda Aceh pusat ibukota Provinsi Aceh yang menerapkan Syariat Islam terdapat tiga tempat ibadah lainnya bagi umat Budha: Vihara Maitri, Vihara Dwi Samudera dan Vihara Sakyamuni.

“Sebenarnya sebelum pindah ke sini pada tahun 1936, Vihara Dharma Bakti sudah ada di Aceh tepatnya di kawasan Pantai Cermin Ulee Lheue dari tahun 1878,” sebut Yuswar.

Alasan dipindahkan ke Peunayong, jelasnya, karena tempat di Pantai Cermin tidak aman pada waktu terjadi perang dunia. “Dulunya banyak etnis Tionghoa tinggai di kawasan Pantai Cermin yang mendarat setiba di Aceh. Di sana sebelumnya juga banyak kuburan Tionghoa, namun kini tak sudah habis terbawa gelombang tsunami,” pungkas Yuswar.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.