Connect with us

Istana Gyeongbokgung, Jejak Dinasti Joseon di Korea Selatan

FOTO: KHITHTHATI/ACEHKITA.COM

Travel

Istana Gyeongbokgung, Jejak Dinasti Joseon di Korea Selatan

WISATA ke Negeri Gingseng sepertinya tidak lengkap jika tanpa mengunjungi Gyeongbokgung. Hampir semua penyelenggara paket wisata memasukkan istana ini sebagai tujuan utama tak terkecuali yang dari Indonesia.

Indah, salah satu penyedia paket liburan murah ke Korea Selatan selalu memasukkan tempat ini dalam list itinerary-nya.

“Rata-rata pada minta ke sini, tapi kalau tanpa permintaan pun selalu ada dalam daftar karena ini tujuan utamannya,” ujar perempuan asal Bali itu. “Kadang-kadang bahkan saya bisa kemari lima sampai enam kali setahun.”

Gyeongbokgung adalah istana pertama yang dibangun oleh Dinasti Joseon, setelah tiga tahun kerajaan itu dideklarasikan. Istana ini berada di ibu kota kerajaan, Hanyang. Belakangan, sebutan Hanyang menjadi Seoul.

Istana ini sering disebut juga istana utara. Alasannya karena terletak di sebelah utara Seoul. Persis di belakang istana ini terdapat Gunung Bugaksan.

Jika dibandingkan dengan istana lain yang berada di sekitarnya, istana Gyeongbokgung yang paling besar dan luas.

Selain Gyeongbokgung, di Seoul –pusat pemerintahan Dinasti Joseon– memilki lima istana lainnya dan sering dijadikan tempat peristirahatan keluarga kerajaan: Gyeonghuigung, Deoksugung, Changgyeonggung, dan Changdeokgung Palace.

Istana Gyeongbokgung paling populer dibandingkan empat istana lainnya, karena berada di ujung jalan jalur utama jalanan Seoul. Dan tak jauh dari Blue House atau kediaman Presiden Korea Selatan.

Nama Gyeongbok bermakna yang sangat diberkati surga. Sedangkan Gung, sebutan istana dalam bahasa Korea.

Istana ini dibangun oleh Raja Taejo, pendiri Kerajaan Joseon pada tahun 1395 dan menjadi istana utama hingga tahun 1592. Setelah itu, istana ini terus diperluas pada masa pemerintahan Raja Taejong dan Raja Sejong

Pada tahun 1553, istana ini rusak parah setelah terbakar. Raja setelah itu, Myeongjong memerintahkan untuk melakukan renovasi dengan biaya yang besar dan selesai pada tahun berikutnya.

Istana ini dibangun dan dihancurkan berkali-kali dalam sejarah peradaban  Negeri Gingseng. Selama perang Imjin atau invasi Jepang selama tahun 1592-1598, kediaman raja ini kembali dihanguskan oleh api.

FOTO: KHITHTHATI/ACEHKITA.COM

Namun, empat dekade kemudian, Gyeongbokgung Palace terbakar habis selama invasi Jepang ke Korea dari 1592-1598 . Istana dipindahkan ke Changdeokgung Palace.

Gyeongbokgung dibiarkan menjadi puing reruntuhan selama tiga abad. Hingga akhirnya Heungseong Daewongu memulai kembali proyek pembangunannya pada tahun 1865.

Seluruh bagian istana kemudian dipulihkan kembali pada pemerintahan Raja Gojong yang berkuasa dari tahun 1852-1919. Paviliun Gyeonghaeru dan kolam Hyangwonjeong bagian penting sekaligus melambangkan kekuasaan raja masih tetap utuh.

Raja Gojong pindah ke istana ini sekitar tahun 1868. Pembangunan ulang istana Gyeongbokgung menjadi proyek besar kala itu dan nyaris membuat pemerintah bangkrut. Bangunan yang hancur kembali didirikan dengan rekonstruksi akurat.

Pada 8 Oktober 1895, Maharani Myeonseong istri dari raja Gojong dibunuh oleh utusan Jepang. Sejak pembunuhan istrinya, raja dan keluarga kerajaan tidak pernah lagi mendiami istana ini.

Selama dikuasai oleh Jepang, kelak hampir semua bangunan istana Dinasti Joseon dibongkar dan dihancurkan.

Pada tahun 1926 gedung Pemerintah Jepang dibangun di depan aula Geunjeongjeon. Namun pada tahun 1995, gedung itu dihancurkan saat restorasi dilakukan. Bangunan lainnya juga hancur selama perang Korea 1950-1953. Pekerjaan restorasi mulai dilakukan dari tahun 1989.

Karena statusnya sebagai simbol kedaulatan nasional, Gyeongbokgung dihancurkan selama pendudukan Jepang dari awal abad 20. Pada tahun 1911, kepemilikan tanah di istana dipindahkan ke Jepang.

Pada tahun 1915, dengan dalih mengadakan pameran, lebih dari 90 persen dari bangunan itu diruntuhkan.

Mengikuti pameran Jepang menyamakan kedudukan apapun masih tetap dan membangun markas kolonial mereka, Gedung Pemerintah Jenderal (1916-1926), di situs.

Mulai dari tahun 1911, pemerintah kolonial dari Kekaisaran Jepang sistemik dibongkar semua, tapi 10 bangunan selama pendudukan Jepang Korea dan menyelenggarakan berbagai pameran di Gyeongbokgung.

Pada tahun 1926, pemerintah dibangun besar-besaran Jenderal Jepang Gedung Pemerintah di depan ruang tahta, Geunjeongjeon, untuk membasmi simbol dan warisan dari dinasti Joseon.

Gwanghwamun Gate, gerbang utama dan selatan Gyeongbokgung, dipindahkan oleh Jepang di sebelah timur istana, dan struktur kayu yang benar-benar hancur selama Perang Korea .

FOTO: KHITHTHATI/ACEHKITA.COM

“Tempat ini banyak menyimpang sejarah, ada yang sedih namun banyak yang membangun,” ungkap Kyong Song salah seorang warga Korsel.

“Kami sekeluarga hampir selalu menyempatkan berkunjung kemari paling tidak setahun sekali, kamu tahu bagaimana sibuknya hidup di Seoul,” katanya lagi sambil tersenyum.

Menurut Kyong Song, pemerintah mereka sangat serius dengan proyek renovasi yang dilakukan di istana ini.

“Kalau kamu datang setiap tahun ada saja yang sedang dironavasi nantinya, sekarang waktunya spot favorit saya,” kisahnya sambil menunjuk bangunan kecil di tengah sungai yang dikelilingi pagar dengan tulisan under reconstruction.

Pemerintah Korea Selatan telah melakukan proyek restorasi semenjak tahun 1990 untuk memperbaiki dan memulikan bangunan yang telah hancur selama pendudukan Jepang dan kerusakan yang terjadi selama perang Korea.

Proyek ini akan berlangsung beransur selama 40 tahun untuk mengembalikan bentuknya sesuai dengan asli.

Istana sendiri terdiri dari 330 bangunan dan memiliki hingga 3000 pekerja yang bertugas sehari-hari.

Termasuk 140 orang kasim yang semuanya melayani keluarga kerajaan. Survei arkeologi modern telah membawa kembali 330 pondasi ini untuk kembali kembali dibangun.

Selain itu, di gerbang utama Gwanghwamun juga sepasang makhluk mitos berwujud seperti singa bernama Haetae yang dipercaya sebagai penjaga istana.

Bangunan penting lainnya adalah Geunjeongjeong adalah bangunan utama istana ini dengan juga halaman yang luas.

Di masa lalu tempat ini digunakan untuk bertemu utusan asing dan tamu negara, proses pemakaian mahkota pada Raja juga dilakukan disini.

Di sebelah barat Geunjeongjeon ada Gyeonghoeru yaitu sebuah paviliun yang menggunakan penyangga 48 pilar batu dan menghadap kolam buatan  dengan dua pulau kecil.

Jamuan istana dilakukan disini dan biasanya raja berperahu di kolam ini.

Selain itu, ada serangkaian balai pertemuan yang lebih kecil sebelum memasuki Gangyeongjeon atau kediaman raja, di belakangnya ada kamar khusus untuk ratu yang bernama Gyotaejeong.

Setelah itu ada taman yang bertingkat dan Amisan atau cerobong dari batu bata yang dihiasi dengan simbol-simbol umur panjang.

Cerobong ini digunakan untuk melepaskan asap dari hasil pembakaran ondol atau pemanas ruangan bawah lantai tradisional di Istana.

Di sisi timur ada lapangan Donggun yang dipergunakan sebagai tempat tinggal putra mahkota. Untuk bagian yang lebih belakang raja Gojong membangun beberapa ruang untuk keperluan pribadi dengan kolam Hyangwonjeong yang mempercantiknya.

Selain itu ada paviliun berbentuk segienam yang menarik di pulau buatannya.

FOTO: KHITHTHATI/ACEHKITA.COM

Geunjeongjeon adalah bangunan yang melambangkan otoritas kerajaan di mana raja duduk di tahta dan memerintah kepada rakyat.

Bangunan ini terletak di tengah dan dibuat dengan struktur yang serius. Namanya berarti ketekunan membantu pemerintahan.

Selain ruang utama, istana berisi berbagai bangunan di mana raja, utusan asing dan administrator mengurus urusan harian kerajaan, di mana keluarga kerajaan dan pembantu mereka tinggal dan bekerja, serta kebun dan struktur lainnya.

Tata ruang  istana diatur sangat bervariasi sepanjang zaman.

Pada masa Raja Gojong  membangun kembali istana, ada lebih dari 500 bangunan di kompleks berbentuk seperti sebuah labirin, termasuk istana terpisah untuk Ratu dan Pangeran Mahkota, Geoncheonggung Residence, Hyangwonjeong Pavilion.

Dinding yang mengelilingi istana ini sepanjang 2,404 meter, tinggi rata-rata 5 meter dan 2 meter tebalnya.

Ada 4 gerbang yang ada disini yaitu Gwanghwamun pintu selatan, Geonchunmun di bagian timur, Yeongchumun sebelah barat dan Sinmumun di utara. Pemberian gerbang ini dilakukan pada tahun 1426 dimasa Raja Sejong.

Nama nama ini sebagai penanda musim yaitu semi, panas, gugur dan musim dingin dan 4 elemen dari 5 ideologi tradisional yaitu kayu, api, logam dan air.

Untuk menjelajahi arsitetur menawan masa lalu ditengah moderennya ibu kota Seoul membutuhkan waktu seharian untuk dijelajahi apalagi  bagi pecinta sejarah.

Selain itu pengunjung juga dapat menonton proses pergantian pengawal istana yang berlangsung setiap harinya. Proses pergantian petugas ini menjadi tontonan yang menarik dan selalu diminati pengunjung.. Proses ini dilakukan  persis seperti di zaman Joseon.

Para pengawal bertugas menjaga keamanan istana akan bertugas bergantian. Proses ini dilakukan di gerbang Gwanghwamun, pintu utama untuk memasuki Gyeongbokgung.

“Walaupun sudah dua kali berwisata ke Korea namun istana ini tetap menjadi Favorit terlebih saya datang dimusim yang berbeda,” papar Ulvatin, salah satu wisatawan asal Indonesia.

“Waktu itu belum selesai keliling-kelilingnya karena ikut tour jadi sekarang waktunya berkeliling ulang,” tambahnya lagi.

Menurut Ulvatin jadwal bukanya istana ini bisa berbeda dengan tempat wisata lain jadi sebelum berkunjung ada baiknya membaca panduan.

FOTO: KHITHTHATI/ACEHKITA.COM

Gyeongbokgoong tutup setiap hari selasa tidak seperti istana lain yang tutup setiah hari senin. Pengunjung tetap diperbolehkan masuk sampai satu jam sebelum tutup.

Situs bersejarah no 117 di Korea ini memiliki jam berkunjung sedikit berbeda setiap musimnnya.

Harga tiket masuk untuk orang dewasa  adalah 3.000 won atau sekitar 33000 rupiah dan untuk anak-anak tiket seharga 1.500 won atau sekitar 20.000 rupiah.

Komplek ini juga ramah disabilitas, layanan sewa kursi roda  tersedia di pos jaga Geunjeongmun. Pintu masuk utama memiliki jalan kursi roda untuk memudahkan akses.

Jika berangkat dari depan pusat informasi di Heungnyemun Gate akan ada beragam penjelasan tentang bangunan istana dalam bentuk audio dan pemandu wisata yang bisa menemani diwaktu yang telah terjadwal dalam Bahasa Inggris, China, dan Jepang.

Istana ini juga memiliki dua museum yang dapat dijelajahi secara gratis. The National Palace Museum of Korea terletak di selatan Heungnyemun Gate, dan Museum Folk Nasional terletak di sisi timur dalam Hyangwonjeong Gate.

Puluhan kaki telah melewati gerbang istana ini sejak pertama dibangun mulai dari pengawal, kasim, keluarga kerajaan, pejabat, akademisi, tentara yang pernah tinggal di sini puluhan tahun silam dan berganti dengan hiruk pikuk wisatawan dengan kamera dan tongkat narsisnya. []

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

More in Travel

ACEHKITA TV

Trending

Kolom

Kuliner

Facebook

To Top