Connect with us

Kolom Fakhrurradzie Gade

Jak Meudagang

Jak Meudagang

Saiful Mahdi*

Sikap inklusif dan terbuka atau eksklusif dan tertutup adalah cara kita memandang dan menempatkan  “orang lain”, “pandangan lain”, atau secara umum “yang lain” (the other). Kata inklusif berasal dari kata inclusive yang berarti “termasuk di dalam” atau “memasukkan ke dalam”. Lawannya adalah eksklusif dan tertutup.

Terma ini makin sering digunakan pascatsunami 2004 seiring dengan masuknya berbagai lembaga bantuan kemanusiaan dan rehabilitasi-rekonstruksi  ke Aceh, terutama dari kalangan internasional. Kita sering mendengar, misalnya, “pembangunan yang inklusif” untuk usaha agar pembangunan melibatkan dan bermanfaat untuk semua orang, tanpa diskriminasi gender, usia, status sosial, pendidikan, suku, agama, atau karena faktor apapun lainnya.

Tapi bersikap inklusif tidaklah mudah. Terbukti kita sering menuntut orang lain untuk inklusif dan terbuka tapi sikap kita sendiri acap kali eksklusif dan tertutup. Termasuk di dalamnya, para donor dan lembaga nasional dan internasional. Para mitra kerja kita dari luar negeri yang membawa terma ini seringkali hanya bisa menuntut kita untuk inklusif dan terbuka, tapi mereka sendiri tak jarang bersikap ekslusif dan tertutup.

Ada juga yang mengatakan kita hanya bisa inklusif pada tahap tertentu saja. Kalau sebuah proses meliputi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengawasan, dan evaluasi, kita bisa memilih pada tahap mana untuk lebih inklusif atau, sebaliknya, eksklusif. Tapi ini berlawanan dengan konsep partisipasi yang sebenarnya, dimana pelibatan diharapkan meliputi seluruh proses. Atau partisipasi yang genuine juga hanya sebuah jargon kosong?

Kepercayaan diri aneuk dagang

Jika ditelusuri, kemampuan untuk bersikap inklusif dan terbuka sangat dipengaruhi oleh kepercayaan diri seseorang atau sekelompok orang.  Kalau kita pikir, memang wajar jika mereka yang tidak punya kepercayaan diri (self esteem) yang tinggi akan cenderung memilih sikap eksklusif dan tertutup. Karena mereka melihat “yang lain” sebagai ancaman (threat) yang menimbulkan perasaan tidak aman (insecure).

Sementara mereka yang punya kepercayaan diri tinggi cenderung melihat “yang lain”, tak peduli seberapa “lain” dari dirinya atau kelompoknya, sebagai kesempatan untuk belajar dan memperkaya wawasannya. Belajar dari seseorang atau sesuatu yang lain, yang bukan kita, bahkan yang bukan seperti kita.

Makin jauh perbedaan kita dari “yang lain” itu, makin besar kemungkinan kita belajar sesuatu yang baru. Dan makin tinggi rasa percaya diri yang dibutuhkan. Sebaliknya, makin sama kita dengan yang lain di luar kita atau kelompok kita, makin kecil kemungkinan kita mendapat sesuatu yang berbeda yang bisa jadi nilai tambah buat kita atau kelompok kita.

Mungkin karena itu Islam sangat menganjurkan ummatnya untuk merantau dan bepergian ke tempat-tempat yang jauh, tempat yang lain dari yang sudah kita kenal.

Para muballigh dalam Gerakan Tabligh, misalnya, sangat disarankan untuk keluar (khuruj) dari zona nyaman dan bepergian ke tempat lain dan menemui orang-orang yang asing.  Tujuannya ada dua: mengevaluasi zona nyaman kita dan memperluasnya.

Evaluasi zona nyaman dilakukan dengan keluar karena hanya dengan keluar dari zona nyaman itu kita bisa mengevaluasinya. “Kalau rumah Anda bau, maka Anda tak pernah tahu rumah itu bau sampai Anda keluar darinya untuk beberapa saat, dan kembali untuk menyadari memang ada yang bau,” kata seorang Amir dalam sebuah kelompok jama’ah tabligh.

Dengan keluar, kita juga membiasakan diri dengan “yang lain” dan menikmatinya sebagai rahmad dari Yang Maha Kuasa.  Sampai suatu saat kita merasa nyaman dengan perbedaan dan keragaman tersebut. Akhirnya terbangunlah “zona nyaman” baru. Maka makin luaslah zona nyaman kita.

Mungkin karena itu pula, sebagai contoh yang lain, pelajar dan mahasiswa di Amerika Serikat sangat dianjurkan melakukan study abroad oleh para guru dan pemerintahnya. Pengalaman belajar ke luar daerah dan ke luar negeri sangat membantu memperluas wawasan para pemuda dan pelajar. Ketika wawasan makin luas, sikap inklusif dan terbuka akan terbangun dengan sendirinya.

Di dunia pendidikan, dikenal juga istilah in-breeding, yaitu alumni yang melanjutkan pendidikan di sekolah yang sama. Di Amerika dan Eropah, in-breeding tidak dianjurkan. Profesor sehebat apapun seringkali menolak mahasiswa sehebat apapun untuk terus di bawah bimbingannya. Si mahasiswa dianjurkan ke sekolah lain untuk dibimbing profesor lain.

Dalam budaya Aceh, pendidikan kita juga dianjurkan untuk ditempuh di tempat yang berbeda-beda. Awalnya, kita mengaji di balee beut di kampung kita sendiri. Setelah itu kita pergi berguru pada teungku rangkang atau dayah (semacam pesantren) yang lebih besar di kemukiman setempat yang seringkali berada di luar kampung kita.

Selanjutnya kita dianjurkan untuk jak meudagang, pergi merantau ke tempat yang lebih jauh. Secara harfiah berarti “pergi berdagang”, jak meudagang lebih fokus mencari ilmu termasuk ilmu kehidupan yang memang lebih banyak bisa diperoleh lewat kegiatan perdagangan. Orang tua kita memang seringkali menuntut ilmu sambil berdagang.

Para aneuk dagang inilah yang menjadi generasi awal Aceh yang demikian kosmopolit. Manusia Aceh yang terbiasa bepergian dan melihat keberagaman ada di mana-mana. Karena itu mereka merasa nyaman dengan semua keberagaman dan perbedaan. Karena itu pula mereka lebih terbuka dan inklusif.

 

Kelas menengah

Ada yang berpandangan bahwa sikap inklusif dan terbuka itu hanya milik kalangan menengah ke atas saja. Karena hanya mereka yang sudah mapan yang mungkin mempunyai rasa percaya diri cukup tinggi untuk bersikap inklusif dan terbuka.

Rasa percaya diri memang bisa dipengaruhi oleh kepemilikan materi, terutama di dunia yang makin hedonis ini. Tapi rasa percaya diri yang sejati dibangun lewat pendidikan yang memperluas wawasan dan memperbaiki karakter. Karena itu, pendidikan adalah kunci.

Rasa percaya diri sebenarnya sudah terbangun dalam diri setiap anak manusia sejak dini. Makanya kita mendapati anak-anak PAUD dan TK yang ceria. Karena dunia anak-anak secara umum adalah dunia yang tanpa beban dan ketakutan, dunia yang dirasakan cukup aman. Tentu saja sampai orang dewasa memunculkan dan memperkenalkan aneka “ancaman” pada mereka. “Awas ada hantu!” atau “Kalau tidak rajin belajar, nanti tidak naik kelas” atau “Kalau nakal nanti masuk neraka” adalah sejumlah “ancaman” yang mulai membuat anak merasa insecure.

Pendidikan yang menghukum dan menakutkan melahirkan kelompok-kelompok eksklusif dan tertutup di Indonesia. Karena itu kita mudah sekali kena hoax dan diombang-ambing teori konspirasi. Karena kita tidak terbiasa dengan “yang lain”.

Melakukan perjalanan ke luar zona nyaman mungkin bisa membantu mengatasi ini. Maka keluarlah dari zona nyaman Anda. Temui orang yang berbeda. Rangkul mereka yang paling Anda curigai bahkan takuti. Bersikaplah terbuka terhadap pandangan yang berbeda. Terimalah kritik sebagai asupan untuk membangun jiwa yang lebih percaya diri. Semoga kita bisa bersikap lebih inklusif dan terbuka.

 *Saiful Mahdi,S.Si., M.Sc.,  Ph.D  adalah Peneliti dan Sekretaris pada Pusat Latihan Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial dan Budaya (PLPISB) Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh dan seorang Fulbright Scholar yang menulis secara rutin Kolom Fakhrurradzie Gade, AcehKita.Com.  Email: saiful.mahdi@unsyiah.ac.id

 

 

Continue Reading
1 Comment

1 Comment

  1. Pingback: Kenangan Idul Fitri di Amerika (3) - ACEHKITA.COM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Kolom Fakhrurradzie Gade

To Top