Connect with us

Jembatan Putus, Ketek-ketek Menari di Atas Krueng Tingkeum

Aceh

Jembatan Putus, Ketek-ketek Menari di Atas Krueng Tingkeum

Puasa Ramadan ke-27 di kawasan lintasan jalan alternatif pada ceruk Sungai (Krueng) Tingkeum berjalan dalam keriuhan, bak sebuah dermaga laut pada umumnya. Hanya saja di Krueng Tingkeum, tidak ada dermaga beton dan hamparan pelataran parkir kendaraan serta gudang dan bangunan lainnya yang khas sebuah tipikal pelabuhan.

Namun deru suara boat modifikasi yang dikenal dengan ketek yang rata-rata berukuran 3 x 3 meter tersebut, tiada hentinya bersahutan dengan teriakan para kondektur ketek, baik yang ada dalam ketek, maupun yang menunggu calon penumpang di pinggir jalan alternatif baik di lintas utara dan selatan bekas jembatan Krueng Tingkeum.

Di bantaran sungai, terdapat sejumlah dermaga mini, tempat sandaran dan pendaratan ketek. Setidaknya ada belasan dermaga mini yang ujung jalannya disemen kasar, tempat penumpang naik atau turun dari ketek.

Salahuddin (45 tahun) salah seorang pemilik ketek yang duduk di sisi kemudi, berteriak lantang pada sejumlah awak ketek, untuk mengatur sepeda motor dan penumpang yang sudah ada dalam ketek, karena moda angkutan sungai itu akan segera berangkat ke seberang mengantar penumpang. Pintu ketek pun ditutup oleh kenek. Dengan deru mesin berkekuatan 32 PK, ketek dengan muatan enam motor dan 10 penumpang tersebut melaju dengan kecepatan lambat membelah aliran sungai menuju ke seberang. Sandaran yang dituju adalah dermaga sebelah timur jembatan, menuju Medan yang terletak di Desa Tingkeum Manyang, Kutablang, Bireuen.

Ketek yang berangkat dari arah barat pangkal jembatan, tepatnya di Desa Tingkeum Baro, Kecamatan yang sama itu, tidak sampai menunggu penuh motor yang perlu diangkut.

“Kalau sampai penuh kami harus menunggu sekitar lima menit lagi, dengan kapasitas 10 motor,” ungkap Salahuddin, pemilik ketek yang mangkal di Dermaga Baru.

Menurut Salahuddin, ia mulai terjun ke angkutan sungai itu, setelah melihat warga sekitar jembatan yang rusak, kesulitan untuk menyeberang, setelah jembatan rangka baja Krueng Tingkeum ditutup total untuk dibangun baru, karena miring diterjang balok kayu pada Januari 2017 silam. Awalnya, ada warga yang menyediakan jasa penyeberangan jenis boat nelayan biasa. “Tapi angkutan seperti itu sangat berisiko, karena tanpa dilengkapi dengan pengamanan yang memadai. Sehingga warga was-was menumpanginya,” kata Salahuddin.

Bahkan, tambah Salahuddin, ada kejadian penumpang yang helemnya terjatuh ke sungai. Namun sejauh ini belum ada korban jiwa. Dengan boat biasa, hanya orang saja yang bisa dilayani, sedangkan motor tidak bisa. “Sedangkan dengan ketek, penumpang aman, karena lantainya dari papan dan luas, selain dapat mengangkut sepeda motor dan pemiliknya sekalian, ketek juga bisa mengangkut becak motor dan barang di atasnya dengan ukuran terbatas,” beber Salahuddin.

Untuk tarif, Salahuddin menyebutkan, Satu unit motor dikenakan ongkos Rp 5.000, sedangkan penumpangnya, dibebaskan biaya. Sedangkan penumpang tunggal, yang tidak bawa kendaraan, ongkosnya terserah mau diberikan berapa. “Kadang ada kasih dua atau tiga ribu, kalau ada yang tidak berikan, juga kami tidak minta,” ujarnya.

Untuk memodifikasi boat ke ketek, pria yang sebelumnya pedagang toko elektronik ini, mengaku harus mengeluarkan biaya sebanyak Rp 35 juta.

Acehkita.com yang berbincang dengan Salahuddin di atas ketek, juga mengungkapkan jika pendapatan kotor dari keteknya perhari mencapai Rp 3 juta. “Setelah potong bahan bakar, uang sewa dermaga, dan honor empat orang pekerja, dalam sehari rata-rata Salahuddin mengantongi penghasilan bersih Rp 1,5 juta hingga Rp 2 juta perhari. Tergantung dari jumlah penumpangnya. Sementara perasional ketek dimulai dari pukul 06.00 hingga pukul 01.00.

“Tapi 10 hari menjelang lebaran, ketek sudah melayani penumpang 24 jam non stop, karena sampai larut malam masih ada penumpang,” lanjutnya.

Fakhrul (37 tahun) yang menjadi kenek di ketek lainnya, menyebutkan, sejak jembatan ditutup total, dirinya bersama sejumlah pemuda di tiga desa sekitar Krueng Tingkeum, bekerja melansir penumpang. “Saya mendapat penghasilan Rp 200 ribu perhari. Kami bekerja secara shift selama tujuh jam per hari. Misalnya mulai pukul 06.00 hingga pukul 12.00 WIB. Shift berikutnya diisi oleh teman-teman lain agar semua anak muda di sini dapat pekerjaan,” ujar Fakhrul yang sebelumnya bekerja sebagai penambang pasir.

Ada belasan ketek yang berwawa-wiri sepanjang hari, dengan 16 titik pendaratan. Masing-masing ketek punya pangkalan sendiri.

Cut Sahara (22 tahun), warga Tigkeum Manyang yang siang itu menjadi salah seorang penumpang menuturkan, jika dirinya sangat terbantu dengan adanya ketek penyeberangan. “Sebab setelah jembatan dirobohkan, maka saya harus berputar melewati jalan alternatif sepanjang 16 kilometer dan menghabiskan waktu hingga 35 menit untuk sekadar ke seberang. Tapi dengan adanya ketek ini, kita hanya butuh waktu lima menit untuk menyeberang,” kata mahasiswi pada salah satu perguruan tinggi di Kota Lhokseumawe ini.

Pelayanan yang diberikan awak ketek juga sudah cukup baik. Cut Sahara juga merasa nyaman menumpangi ketek, karena lantainya luas dan ada bangku kayu untuk tempat duduk penumpang.

Namun, Cut Sahara tetap berharap agar jembatan yang saat ini sudah mulai dibangun baru, harus dipacu pembangunannya. “Karena kalau jembatannya lama selesai, sayang warga sekitar yang dalam beraktifitas harus terganggu. Dan pengendara mobil juga tidak nyaman dalam melewati jalan alternatif yang sempit dan ada jalan yang rusak dan tidak beraspal.

Cut Sahara hari itu hanya ingin menemui kakaknya yang bekerja di Puskesmas Krueng Panjoe. Jika saat jembatan normal, dia hanya butuh waktu 10 menit saja dari rumahnya yang dipisahkan sungai. Namun setelah jembatan tak layak jalan lagi, dan dirobohkan dengan hanya menyisakan pilar-pilar dan bantalan jembatan tepat di tengah-tengah Kreung Tingkeum, maka jarak tempuh pun semakin panjang jika menyusuri jalan alternatif. Beruntung, kini ada ketek.

Tak heran jika banyak warga yang mengeluh akibat rusaknya jembatan. Baik para pengemudi bus dan truk berbadan lebar dan panjang, karena medan jalan yang sempit dan terdapat sejumlah tikungan patah, tentunya sangat menyulitkan. Belum lagi adanya mobil yang melawan arah di jalur alternatif tersebut, menambah sulitnya para pengemudi kendaraan beroda di atas empat.

“Sudah enam bulan kami harus ekstra hati-hati setiap kali melewati jalan alternatif ini. Salah-salah truk saya bisa mengalami kecelakaan, atau menyerempet mobil yang melawan arus,” kata Salam (52 tahun) sopir truk tangki BBM.

Keluhan lainnya juga disampaikan Adam (47 tahun) sopir bus berbadan lebar antarkota dan antarprovinsi. “Bus saya sudah kali mengalami macet di jalan alternatif, akibat ada truk yang mogok di tengah jalan,” kata Adam seraya menambahkan bahwa bus yang disopirinya sempat tujuh jam terjebak macet, menunggu truk selesai diperbaiki.

Jalan alternatif yang selama ini dijadikan pengalihan berstatus jalan kabupaten. Tak ada pilihan alternatif lain, kecuali memacu pembangunan jembatan baru. []

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Aceh

To Top