Connect with us

Kausar, Pagar Hidup Atasi Po Meurah

Kausar berdiri di samping sebuah gubuk yang telah rusak akibat amukan gajah liar di kawasan Keumala | HABIL RAZALI

Lingkungan

Kausar, Pagar Hidup Atasi Po Meurah

KEUMALA | ACEHKITA.COM – Pria itu duduk di atas sepotong kayu kecil yang diletakkan persis di bawah sebuah gubuk bertingkat. Rambutnya pendek, berkulit agak gelap. Ia terus meratapi sawah dan hutan yang telah rusak diamuk gajah liar di Blang Lhok Desa Jijiem, Kecamatan Keumala, Pidie.

Matanya tak pernah diam. Indra penglihatannya tidak begitu keruan. Kiri dan kanan terus dipantau olehnya. Ia adalah Kausar, berusia 30 tahun, seorang relawan Ranger Keumala.

Beberapa hari belakangan ini, Kausar menghabiskan sepanjang hari di hutan Keumala. Mengapa tidak, ia seakan disulap menjadi pagar hidup menghadapi Po Muerah yang mulai turun ke perkebunan dan persawahan warga di sana. Tugasnya ialah memantau dan menghalau gajah liar.

Kausar, seorang petani asal Desa Tunong Keumala Dalam, Kecamatan Keumala, Pidie itu bergabung dengan Ranger sejak tahun 2011. Saat itu, ia dan 19 teman lainnya bergabung bersama tim Flora Fauna Indonesia (FFI)

“Ketika itu, FFI ada sebuah project di Aceh. Nah, mereka kemudian mengajak warga yang bertempat tinggal di sekitar hutan untuk bergabung bersama project mereka,” cerita Kausar kepada acehkita.com beberapa hari lalu.

Setelah terdaftar, Kausar dan 19 warga Keumala kemudian berkesempatan menimba ilmu dalam pelatihan yang digelar di Saree, Aceh Besar, oleh FFI. Kelak, mereka tergabung dalam sebuah nama Ranger Keumala.

Usai pelatihan, mereka dikontrak selama dua tahun oleh FFI untuk menjalankan programnya di lingkungan mereka tinggal. Selama itu juga, Kausar dan anggota Ranger Keumala lainnya mendapat jerih tiap bulannya atau setelah menyelesaikan program yang diberikan FFI.

Tahun 2013, masa kontrak mereka habis. Selanjutnya, agar organisasi yang sudah ada tidak bubar, maka terbentuklah sebuah paguyuban Ranger seluruh Aceh dengan nama Federasi Ranger Aceh (FRA).

Sejak 2013, di sana lah Kausar dan anggota Ranger Keumala bernaung. Namun, mereka tidak lagi mendapat jerih seperti saat dikontrak tahun-tahun sebelumnya. Status mereka ikut berubah menjadi seorang relawan.

Seiring perjalanan waktu, anggota yang dulunya 20 orang mulai perlahan berkurang. Satu persatu meninggalkan tugasnya sebagai relawan Ranger untuk menjaga hutan dan satwa liar karena kesibukannya masing-masing. Kini, di tubuh Ranger Keumala, hanya tersisa seorang jiwa yang berdedikasi tinggi, ia adalah Kausar.

Ranger sendiri adalah sebuah komunitas pelestari hutan dan satwa yang diharapkan mampu membantu masyarakat untuk menjaga dan melestarikan hutan dan satwa sehingga alam bisa dilindungi dari kejahatan-kejahatan lingkungan.

Berbekal ilmu yang pernah didapatnya dari pelatihan dahulu, Kausar selain bertani, kini aktif membantu masyarakat untuk mengatasi konflik gajah liar yang terjadi sejak Desember 2015 di Kabupaten Pidie.

“Saya melakukan semua ini hanya sukarela dan inisiatif saya pribadi. Tugas ini tidak mudah, mengusir gajah liar adalah sebuah rasa tanggung jawab yang sangat besar. Nyawa bisa jadi jaminannya,” ujar Kausar.

Sambil berkisah, kaki kanan ia naikkan ke atas kayu dudukannya. Sesekali rokok mengapit di antara dua bibirnya. Ia melanjutkan bercerita sembari asap rokok keluar dari mulut.

“Jangankan digaji, terkadang saya harus mengeluarkan uang pribadi untuk membeli mercon saat mengusir gajah liar. Karena niat saya baik, saya ikhlas. Saya sedih melihat penderitaan yang dialami petani,” Kausar melanjutkan.

Dedikasi yang ia lakukan ternyata juga tidak sepenuhnya disambut baik oleh masyarakat. “Saat gajah liar merusak tanaman warga, ada warga yang malah menyalahkan saya, kenapa tidak mengusir gajah. Saya heran, kok saya yang sepertinya harus bertanggung jawab,” kata Kausar.

Padahal, kata Kausar, dirinya hanyalah seorang relawan yang turut membantu. “Saya bukan orang dari Dinas Kehutanan, bukan anggota CRU, atau BKSDA yang harus bertanggung jawab jika terjadi konflik satwa liar,” tutur Kausar.

Kausar berpegang teguh layaknya prinsip demokrasi; dari rakyat, oleh rakyat untuk rakyat. “Bertugas dari masyarakat, berbuat untuk masyarakat dan kembali kepada masyarakat,” kata Kausar sambil menatap jauh ke dalam hutan.

Di sana, puluhan gajah liar terdengar beberapa kali telah merobohkan pepohonan semenjak acehkita.com berbincang dengan Kausar. Ia menarik dalam-dalam isapan rokoknya yang terakhir. Ia lantas mengambil mercon, dan mengarahkan ke hutan, tempat gajah sedang menikmati makan siangnya.

“Dorr.. dor.. dooorrr…,” gelegar suara mercon. Puluhan gajah liar berlarian masuk ke dalam hutan. Kausar berjalan mengikuti po meurah itu dengan sebongkah bintang dedikasi di bahunya.[]

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Lingkungan

To Top