Kemenag Aceh: Pesantren Jadi Benteng Terakhir Pertahanan Akidah Umat

0
450
Pesantren Jadi Benteng Terakhir Pertahanan Akidah Umat
Rakor dan evaluasi program Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (PD Pontren) akan dilaksanakan hingga Jumat (4/10) di Mata Ie Resort, Sabang. (Foto: Dok. Kemenag Aceh)

SABANG | ACEHKITA.COM – Lembaga Pendidikan Islam, baik pesantren, madrasah diniyah dan Lembaga Pendidikan Quran (LPQ) telah memberikan sumbangsih yang besar bagi negeri ini. Siapapun di negeri ini tidak bisa memungkiri besarnya jasa pondok pesantren atau dayah dalam sejarah pembangunan Indonesia yang beradab.

Hal tersebut dinyatakan Kepala Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Aceh, M Daud Pakeh, dalam sambutannya pada Rapat Koordinasi (Rakor) dan Evaluasi Program Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (PD Pontren), Selasa malam (1/10) di Mata Ie Resort, Kota Sabang.

Menurut Daud Pakeh dalam sambutan yang dibacakan Kepala Bagian Tata Usaha Kanwil Kemenag Aceh, Saifuddin mengatakan bahwa khusus bagi pesantren, diniyah dan LPQ di Aceh, sebagaimana diakui oleh para pakar sejarah, merupakan lembaga pendidikan Islam yang telah berjasa mencetak para pendakwah yang kemudian menyebarkan Islam ke seluruh pelosok nusantara.

“Di Aceh, sejarah membuktikan bahwa pesantren atau dayah merupakan benteng terakhir kekuatan umat Islam dalam melawan imprealisme asing. Dan dewasa ini, pesantren di Aceh juga menjadi benteng terakhir pertahanan akidah umat,” jelasnya.

Kekuatan pesantren sebagai basis pengembangan ilmu agama dan sub sistem dalam masyarakat akan selalu diuji oleh tantangan zaman yang selalu mengikuti perkembangan dunia yang dinamis.

“Kita berharap, di tengah arus deras perubahan dunia, pesantren atau dayah tidak hanya menjadi benteng pertahanan atas berbagai serangan pemikiran yang menghancurkan nilai-nilai Islam yang mulia, akan tetapi juga bisa berperan ekstra dalam melakukan ekspansi nilai-nilai yang telah dibangun selama ini ke dalam struktur kehidupan berbangsa dan bernegara,” harap Daud.

“Banyak nilai-nilai positif dari pesantren, diniyah dan LPQ yang harus ditampilkan keluar. Baik nilai-nilai kemandirian, ikhlas dan ukhuwah islamiah,” lanjutnya.

Oleh karenanya, Kementerian Agama memiliki tugas untuk selalu melakukan pembinaan dan penguatan pesantren-pesantren, diniyah dan LPQ melalui Bidang khusus, yaitu Bidang PD Pontren.

Maka, jelas Daud, kegiatan yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama ini melalui Bidang PD Pontren merupakan salah satu bentuk usaha dan kontribusi bagi penguatan peran pesantren, diniyah dan LPQ untuk pendataan lembaga dalam menampilkan nilai-nilai positif ke dalam kehidupan masyarakat dan bangsa.

Daud Pakeh selaku Kakanwil juga menyambut baik penyelengGaraan kegiatan ini yang nantinya dapat mengindentifikasi berbagai masalah dan hambatan serta tantangan pada penyusunan program dan mencari solusi secara terpadu serta bersinergi dan sinkronisasi program antara Kemenag dan Dinas Pendidikan Dayah.

Hal senada juga disampaikan Wali Kota Sabang, Nazaruddin. Dalam sambutannya yang dibacakan Asisten Pemerintahan, Keistimewaan dan Kesejahteraan Rakyat pada Sekretariat Daerah Kota Sabang, Andri Nourman AP mengatakan bahwa di samping ekspansi nilai-nilai positif, perlu dibangun koordinasi yang sinkron dan mengevaluasi program-program yang telah dikembangkan, sekaligus merencanakan program ke depan dengan lebih matang.

Jadi, menurut wali kota, kegiatan seperti ini perlu dilakukan, apalagi tujuannya untuk mengidentifikasi masalah-masalah dan solusi dalam pengambilan kebijakan terhadap pembangunan pendidikan Islam, terutama terkait pendidikan diniyah dan pondok pesantren di Aceh.

Ia berharap, dengan rakor ini, pemahaman perencanaan dan program yang dibangun oleh Bidang PD Pontren bisa lebih perofesional dan memiliki output yang berkualitas.

“Mari kita tingkatkan profesionalisme dan pemahaman perencanaan dan program yang transparan, akuntabel dan tentu saja menghasilkan output yang berkualitas,” ajaknya.

“Kami merasa Kanwil Kemenag Aceh perlu menyajikan data perencanaan dan program pendidikan, khususnya pondok pesantren, untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan yang ada selama ini,” ujarnya.

Masih menurut wali kota, perencanaan program, pendataan, dan pengumpulan dan penyajian data yang akurat dan cepat, dapat dapat digunakan dalam mengambil keputusan dan kebijakan tentang pendidikan Islam, khususnya terkait pendidikan diniyah dan pondok pesantren.

Kepada para peserta rakor, Daud dan Nazaruddin berharap agar memahami sepenuhnya segala sesuatu tentang pentingnya perencanaan pendidikan pengelolaan dan pengembangan informasi serta sinkronisasi data dayah dengan data sistem informasi manajemen pendidikan (Emis), sehingga memudahkan dalam proses pembangunan Pesantren, Diniyah dan LPQ.

Rakor dan evaluasi program Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (PD Pontren) akan dilaksanakan hingga Jumat (4/10). Rakor ini diikuti lima puluh peserta, yang terdiri dari dua puluh tiga Kepala Seksi PD Pontren atau Pendidikan Keagamaan Islam atau Pendidikan Islam pada Kantor Kemenag kabupaten dan kota se-Aceh, Kepala Bidang (Kabid) Olahraga pada Dinas Pemuda dan Olahraga Pemerintah Aceh dan para Kabid yang menangani dayah pada Dinas Pendidikan Dayah atau Dinas Syariat Islam di kabupaten dan kota se-Aceh serta para mudir Ma’had Aly dalam Provinsi Aceh.[RIL]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.