Connect with us

Kenangan Idul Fitri di Amerika (2)

Kolom Fakhrurradzie Gade

Kenangan Idul Fitri di Amerika (2)

Kenangan Idul Fitri di Amerika (2)

Saiful Mahdi*

Hingga saat ini kami masih suka terharu dalam syukur membayangkan saat-saat indah bulan Ramadhan dan Idul Fitri di Vermont, salah satu negara bagian di Amerika. Pernah shalat dalam satu shaf dengan brother-brother yang berkulit putih, bermata biru, berambut pirang dengan nama semisal Shafic dan Ahmedic dari Bosnia. Juga dengan mereka yang berkulit cokelat maupun hitam dengan mata hijau, cokelat, atau hitam dari Timur Tengah dan Afrika Utara. Semuanya bersaudara dengan sangat ikhlas dalam Islam.

Kami saling membantu. Dan sebagai mahasiswa S2 di University of Vermont, apalagi saat keluarga sudah bergabung di tahun kedua, kami mendapat perhatian dan pertolongan yang luar biasa dari jamaah mesjid ini. Mereka bisa marah kalau tahu kami pergi berbelanja dengan bus kota. “Apakah kamu tidak mau kami mendapat hasanah dengan ikut membantu kamu!?” tanya mereka yang tahu kami diam-diam pergi berbelanja dengan bus dan tidak menelpon untuk diantar mereka.

Presiden Islamic Society of Vermont waktu itu adalah Brother Mahmoud, seorang warga Amerika keturunan Yordania yang juga sering menjadi imam shalat rawatib dengan Brother Nizam dari Pakistan dan Brother Rajab dari Mesir. Ada juga Brother Ahmed asal Yaman dan Brother Mochtar dari Tunisia yang bekerja pada Lockheed-Martin, salah satu perusahaan industri teknologi tinggi Amerika yang terkenal dengan produksi mesin pesawat, termasuk mesin pesawat tempurnya.

Tapi saudara paling dekat lahir dan batin kami selama di Vermont adalah Brother Thariq, pemuda yang lahir dan besar di Amerika dari keluarga imigran Palestina generasi kedua. Thariq adalah wujud Islam Amerika sejati yang hatinya terikat dengan mesjid di tengah kesibukannya sebagai engineer profesional di IBM. Kemanapun kami bepergian, kami selalu berkunjung ke mesjid-mesjid sepanjang perjalanan. Kalau tak bertemu mesjid saat melakukan perjalanan, kami shalat berjamaah berdua di tengah taman-taman (parks) atau visitor centers yang kami temui.

Ada juga Brother Imran, seorang engineer muda yang baru bergabung dengan IBM kala itu. Imran adalah imigran asal Pakistan yang menjadi warga Kanada sebelum pindah ke Amerika. Kala itu, warga Kanada bisa dengan mudah keluar masuk Amerika. Kita tahu, semuanya berubah setelah tragedi 11 September 2001.

Brother Ehsan dan keluarganya tinggal paling dekat dengan mesjid dalam kompleks yang sama dengan kami. Menjadi pengungsi dari perang di Afghanistan yang dikuasai Uni Soviet kala itu, Ehsan memulai hidupnya di Amerika dengan bekerja serabutan di New York City. Itu dijalaninya sambil sekolah vokasi di malam hari. Tamat dari sekolah malam, Ehsan diterima bekerja di IBM di Vermont dan baru kemudian menjemput istri dan anak perempuannya Khalida yang cantik.

Dalam ritual minum teh itu, kami berdiskusi tentang banyak hal. Selain saling menanyakan khabar keluarga, khabar dunia kerja, kami juga berdiskusi tentang perkembangan Islam. Tentu juga ada diskusi politik. Politik lokal Vermont hingga nasional Amerika. Sekali-sekali ditingkahi debat tentang politik di negara asal. Karena itu,  kami juga saling belajar adat-budaya berbeda dari latar belakang kami yang berbeda. Misalnya, orang Afghanistan tidak makan kepiting dan udang!

Sebagai pemula di IBM, Ehsan sering kena jadwal shift malam hari. Biasanya dia berangkat kerja setelah shalat ‘Isya berjamaah di Mesjid Vermont yang hanya 200 meter dari rumahnya. Sebelum berangkat, dia selalu mengajak kami, jamaah reguler shalat ‘Isya, minum teh dan roti khas Afghanistan, home-made by Kamela, istri Ehsan yang sangat bersahaja, yang lezatnya masih memancing liur hingga kini saat mengenangnya. Santai bersama brother-brother sambil minum teh panas dan roti khas Afghanistan, ba’da ‘Isya, di tengah dingin Vermont yang menggigit, adalah salah satu kenangan indahnya Islam di Amerika.  

Kala itu, kami menjadi satu-satunya wakil ras kuning dari Asia. Sementara satu-satunya yang hitam kelam dalam barisan jamaah shalat adalah Brother Jameel, seorang African-American  yang juga jadi satu-satunya barber (tukang potong rambut) yang dikunjungi warga Muslim di Burlington. Ya, Vermont sangat “putih”. Selama dua tahun di sana, hanya pernah melihat dua orang berkulit hitam! Sesuatu yang kami sadari sebagai sebuah kontras saat nantinya kami pindah ke Virginia.

Idul Fitri di Burlington, Vermont

Shalat Id di Vermont diawali dengan gema takbir yang “tak begitu indah” untuk telinga kita dari Malaysia-Indonesia yang terbiasa dengan lantunan takbir indah aneka genre. Tidak seperti di Indonesia, takbir di Vermont adalah takbir ala Arab yang datar dan sederhana. Setelah shalat, jamaah yang hadir, yang datang dari seluruh Vermont, saling bersilaturrahmi sebentar dengan aneka makanan dan minuman dari berabagai budaya. Semuanya lezat dan nikmat.

Kecuali hari Id terjadi di waktu akhir pekan, setelah itu  jamaah kembali ke tempat kerjanya masing-masing. Anak-anak kembali ke sekolah. Walapun kami bisa meminta izin untuk libur seharian, anak-anak memilih kembali ke sekolah karena sekolah dan kantor memang tidak libur. Hari Idul Fitri berlalu dengan sederhana.

Tapi pada malamnya atau pada malam akhir pekan terdekat, seringkali jamaah berkumpul lagi untuk berbagai kegiatan perayaan Idul Fitri yang lebih panjang dan meriah. Kali ini makanan-makanan yang lebih serius dari berbagai belahan dunia kembali tersaji. Full course meal yang betul-betul internasional. Lazizz!

Anak-anak paling menanti acara treasure hunt.  Acara saling berbagi hadiah yang dibalut dalam kegiatan saling “mencari harta karun”. Aneka hadiah disembunyikan sebelumnya oleh orang dewasa. Anak-anak kemudian saling berkejaran ke seantero mesjid untuk mencari “harta karun”, hadiah buat mereka pasca-Ramadhan dan kemeriahan Idul Fitri yang selalu dinanti.

Walau rindu dengan saling berkunjung ala Lebaran di Indonesia, silaturrahmi dicukupkan di mesjid-mesjid saat Idul Fitri dan pada akhir pekan setelahnya. Makanan, termasuk aneka kue, dibagi untuk dinikmati bersama dalam Eid Festival  yang berupa pot-luck. Potluck adalah tradisi asli Amerika dimana masing-masing datang dengan membawa sesuatu untuk dishare buat dinikmati bersama. Mirip meuramien ala Aceh.

Begitulah Ramadhan dan Id kami di Vermont dihiasi persaudaraan dalam Islam dan kemanusiaan yang tulus ikhlas. Persaudaraan yang begitu genuine! Padahal kami semua belum pernah saling mengenal sebelumnya dan berasal dari tempat-tempat jauh dari berbagai pelosok dunia, dan mungkin aneh bagi orang-orang udik di Amerika sana?

Kehangatan dan kemeriahan dalam mesjid di Vermont adalah kontras yang luar biasa dengan dingin yang menusuk tulang di luarnya.  Seolah mengingatkan kita arti Idul Fitri yang sebenarnya. Sebuah wujud rasa syukur setelah berpuasa selama sebulan penuh bulan Ramadhan. Rasa syukur akan kekayaan, khususnya kekayaan spiritual, yang kita peroleh selama berpuasa.

Keluarga dan teman-teman dari beragam latar belakang adalah salah satu kekayaan itu. Merayakan Idul Fitri adalah merayakan kemanusiaan, persaudaraan, dan keluarga. Merekalah yang mampu menghangatkan kita. Agar tak kesepian dalam dingin yang membeku….

Selamat Merayakan Idul Fitri 1438 H! Taqabbalallahu minna wa minkum.

*Saiful Mahdi adalah Fulbright Scholar;  Ketua Program Studi Statistika FMIPA Unsyiah. Isi tulisan adalah pandangan pribadi. Email: saiful.mahdi@fmipa.unsyiah.ac.id

Gambar: “Eid al-Fitr 2016: understanding the differences among America’s Muslims”

Sumber: The Conversation

1 Comment

1 Comment

  1. Pingback: Kenangan Idul Fitri di Amerika (3) - ACEHKITA.COM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Kolom Fakhrurradzie Gade

To Top