Connect with us

Kenangan Idul Fitri di Amerika (3)

Kolom Fakhrurradzie Gade

Kenangan Idul Fitri di Amerika (3)

Kenangan Idul Fitri di Amerika (3)

Saiful Mahdi*

Tahun kedua di US, Ramadhan dan Idul Fitri nya lebih seru. Sudah sedikit lebih mengenal komunitas Aceh dan Indonesia di Amerika lewat internet dan telpon murah dengan “kartu telpon Cina”, buka puasa bersama dan Idul Fitri di “Mesjid Indonesia” di New York lantas jadi agenda. Dari Burlington, Vermont, kita bisa naik kereta api ke New York City (NYC)

Hari Raya Idul Fitri dengan kawom teuh, Ureung Aceh di kawasan Queens, NYC dan silaturrahmi hingga ke “Gampong Aceh” di Harrisburg, Pennsylvania jadi kenangan Idul Fitri yang  indah.  Disamping melepas rindu dengan timphan dan Rendang Aceh, tentu saja ada bermacam cerita dan pengalaman yang “mengayakan” saat berkeliling dari rumah ke rumah seperti Lebaran di Indonesia.

Selain sejumlah pekerja pofesional, diplomat, dan pelajar, banyak orang asal Indonesia di NYC adalah para pekerja migran yang tangguh.  Sebagian mereka adalah para awak kapal laut tahun 1970-an yang mendarat di New York dan memutuskan tinggal dan menjadikan Amerika tempat menetap. Sebagian telah menjadi penduduk tetap (permanent resident). Bahkan sebagian telah menjadi  warga negara Amerika.

Termasuk di dalamnya sejumlah perantau asal Aceh yang kini telah beranak-pinak, bercucu-bercicit di Amerika. Mereka adalah pekerja keras yang telah membuktikan The American Dream sebagai sesuatu yang nyata.  Selama Anda mau bekerja, Anda bisa sejahtera di negara yang bangga menyebut negerinya sebagai  the land of the free and the home of the brave (tanah untuk mereka yang merdeka dan rumah untuk mereka yang berani).

Kesejahteraan individu dan keluarga di Amerika berbanding lurus dengan seberapa keras seseorang atau sebuah keluarga bekerja. Ukuran kasarnya adalah jumlah jam kerja Anda. Karena itu, tak jarang seorang pekerja migran bekerja untuk dua-tiga pekerjaan sekaligus.

Seorang kenalan dari Indonesia yang status migrasinya tak jelas saja, misalnya, bisa menabung dan mengirimkan ribuan dolar Amerika ke kampungnya di Indonesia dengan bekerja keras nyaris 24 jam sehari. Pagi dia menjaga laudromat (tempat cuci pakaian), siang masuk ke Burger King, malam jadi waiter di sebuah restoran Cina. Pulang ke apatermen sempit yang dishare dengan beberapa teman sekedar untuk tidur 3-4 jam untuk kembali bekerja keras lagi esok paginya.

Konon, diakui secara resmi atau tidak, ekonomi Amerika ikut digerakkan oleh para pekerja dan buruh migran yang tersebar di seantero benua Columbus ini. Buruh dan pekerja migran ini banyak yang resmi, tapi diperkirakan 8 sampai 12 juta orang adalah “imigran gelap”. Sejatinya, Amerika memang sebuah negeri imigran. Sebagian besar rakyat Amerika bangga menyebut dirinya sebagai the melting pot, periuk besar antar bangsa.  Anti-tesis terhadap narasi Donald Trump, presiden baru Amerika, yang anti-imigran.

Ada keluarga asal Indonesia yang anggotanya sampai tujuh orang dewasa. Ketika semuanya bisa dan mau bekerja, maka penghasilan keluarga itu adalah penghasilan tujuh orang yang produktif. Sementara cara hidupnya masih cara orang Melayu yang hemat dan saling berbagi.

Mereka yang lebih berpendidikan dan punya dokumen resmi tentu saja bisa memilih pekerjaan yang lebih ringan dan mendapat pengahasilan yang lebih besar.  Tapi dalam berbagai kesempatan, kebahagiaan menyeruak saat ada yang memilih “pendidikan” ketimbang “uang dan materi” segera di tanah impian mereka. Pekerja migran yang mau ikut pelatihan dan sekolah lagi selalu punya kemungkinan sukses lebih besar di negara maju seperti Amerika itu. Ada sejumlah imigran asal Aceh dan wilayah lain Indonesia yang merupakan success story, bukti sukses kerja keras dan pendidikan ini.

Maka kesejahteraan bukanlah ilusi seperti untuk sebagian rakyat di Indonesia, khususnya kaum tani sawah-padi dan nelayan kecil. Mereka bekerja “dari gelap pagi hingga gelap malam” tapi tetap tak bisa lepas dari jerat kemiskinan. Untuk kaum miskin seperti ini, jelas kemiskinannya adalah kemiskinan struktural.  Mereka “dimiskinkan” oleh sistem ekonomi-politik-budaya dan struktur sosial yang ada. Mereka jelas tidak malas atau punya masalah kultural yang memiskinkan! Syukur, pemerintahan Jokowi terlihat sedang berusaha mengoreksi kesalahan masa lalu ini dengan membangun mulai dari desa dimana kemiskinan bertumpuk.

Lebaran diplomat vs. buruh migran

Bahkan untuk warga Indonesia, Lebaran di NYC bisa penuh warna. Mereka yang rindu makanan Indonesia cukup mewah dari kelas diplomat bisa ikut berhari-raya di KJRI, Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Manhattan. Lontong cap go meh dan sate ayam hampir selalu tersedia. Walaupun cukup meriah dan terbuka, tak ayal kesan formal diselingi basa-basi khas para ambtenaar tetap terasa.

Kita juga bisa keliling dari apartemen ke apartemen di sejumlah kawasan di Queens seperti Flushing, Astoria, dan Sunnyside untuk menikmati lebaran dengan para pendekar blue-collar asal Aceh dan bagian Indonesia lainnya. Keramahtamahan ala Indonesia dalam suasana Lebaran masih cukup terpelihara di tengah diaspora ini. Di sini, suasananya sangat informal. Bersahaja tapi tetap unik. Lebaran kampung tapi di Amerika?

Jika beruntung, Anda bisa menikmati timphan dengan teh atau kopi. Paling apes, Anda harus membiasakan diri menikmati timphan dengan cola, minuman bersoda yang telah menjadi minuman sehari-hari generasi kedua dan ketiga Aceh dan Indonesia di Amerika.

Untuk kombinasi keduanya, kelas diplomat dan kelas pekerja, pastikan Anda datang ke Mesjid Al Hikmah di Astoria, Queens, NYC.  Jika jamaahnya menggelar buka puasa bersama atau halal bil halal, suasana egaliter lebih terasa. Mesjid memang tempat dimana semua orang jadi setara. Tak peduli dia pejabat atau pekerja migran. Tidak penting apakah dia diplomat atau buruh bangunan. Para cab-driver (sopir taxi) sejajar dengan para pelajar.

Seringkali, Eid Festival dibarengi dengan bazaar makanan Indonesia. Para pengunjung, baik orang Indonesia maupun bukan, datang bersilaturrahmi sambil membeli aneka makanan Indonesia dengan harga terjangkau. Menikmati makanan lezat sekalian ikut menyumbang untuk mesjid. Biasanya, Sate Padang yang paling laris!

Di Queens, rindu bertakbir ala Indonesia terlipur. Dengan mata yang berselaput hangat di tengah sejuknya Kota New York di musim dingin tahun 2000.

 

Lebaran GAM, MP-GAM, dan Non-GAM?

Setelah berkeliling dari satu rumah ke rumah warga kenalan atau kenalan dari kenalan di NYC, para “Panglima Aceh” di NYC mengajak ke “Gampong Aceh” di Harrisburg, Pennsylvania. Biasanya dengan mampir di rumah “Tengku Aceh” di Philadelphia, kota terbesar di negara bagian Pennsylvania yang terkenal itu.

Harrisburg terletak sekitar dua setengah jam perjalanan ke arah barat dari NYC. Sejumlah warga asal Aceh akhirnya memutuskan menetap di kota ini setelah mencoba beberapa kota sejak kedatangannya di Amerika. Sebagian mereka adalah para “pengungsi politik” yang diterima resmi oleh Amerika dari badan dunia semisal UNHCR.

Para pengungsi politik dari Aceh sebenarnya cukup banyak yang awalnya mendarat di Houston, Texas atau Salt Lake City di Utah, nun di tengah benua Amerika sana. Mereka diterima dengan tangan terbuka dan difasilitasi oleh kelompok warga atau masyarakat sipil setempat. Paling tidak enam bulan mereka dibantu dengan sejumlah pelatihan dan orientasi untuk memulai hidup baru di Amerika. Uniknya, kelompok warga yang paling ramah, banyak membantu, dan menerima para pengungsi ini adalah dari faith-based organization seperti Gereja Baptis di Texas dan Gereja Mormon di Utah.

Mungkin ada misi “pendangkalan aqidah”?  Wallahu’alam. Yang jelas,  para pengungsi Bosnia di Vermont dan Rohingya di Up-State New York justru bisa menjadi muslim luar dan dalam di Amerika. Mereka menekuni Al-Qur’an dan Hadits, mempraktekkan agamanya secara bebas di mesjid-mesjid resmi dan komunitas Muslim di berbagai kota di Amerika. Mareka adalah para Amerika Muslim (Muslim American), bukan sekedar “Muslim in America” seperti narasi megalomania Donald Trump belakangan ini.

Mungkin seperti kata Teori Gravitas dalam kajian wilayah, orang Aceh yang mendarat di berbagai kota di Amerika saat konflik Aceh sedang panas-panasnya, secara berangsur menyatu lebih banyak di sekitar NYC, Baltimore, dan Washington DC. Selanjutnya secara berangsur pula memulai hidup lebih mapan di Harrisburg, ibu kota negara bagian Pennsylvania tersebut. Umumnya, migrasi ke Harriburg terjadi setelah berkeluarga, saat mulai mampu membeli atau mencicil rumah.

Harrisburg memang kota yang lebih kecil dan lebih terjangkau untuk memulai kehidupan keluarga. Harga rumah dan apartemen jelas jauh lebih murah dari pada di pusat urban seperti NYC, Baltimore, dan DC. Tapi ada juga yang masih bertahan di Queens, NYC, Boston, atau Philadelphia. Mereka yang bertahan dengan bangga bisa peh dada (tepuk dada) sebagai para pemenang sejati dari The American Dream. Karena memang bertahan hidup di kota besar di Amerika jauh lebih menantang.

Idul Fitri di “Gampong Aceh” Harrisburg tentu saja lebih meu-Aceh. Timphan na (Lepat Aceh ada). Lontong na, sie-itek na, sie manok na, tapee na, leumang pih na. Juga ada gulai kambing dan aneka sate. Semuanya ada!

Semoga tidak berlanjut sampai sekarang, tapi uroe-raya di Gampong Aceh Harrisburg pernah juga diwarnai suasana politik yang tak nyaman. Sempat bingung karena tidak semua orang Aceh mau ke rumah orang Aceh lainnya, walaupun dilakukan dengan cara yang sangat halus, perlahan tersadar bahwa ada dikotomi antara mereka yang GAM dan MP-GAM di Amerika. Pengelompokan yang bagi sebagian besar orang Aceh sendiri sebenarnya tak begitu jelas. Untuk membahas ini, perlu tulisan tersendiri yang lebih mendalam.

Tak jelas mana masuk kelompok yang mana, pelajar tentu saja punya keuntungan untuk berbaur dan bersaudara dengan siapa saja. Tapi dari yang menganggap dirinya Non-GAM, kita bisa mendapat informasi agar tidak mendapat stigma karena dianggap dekat dengan salah satu kelompok secara politik. Syukur kalau bisa menjadi jembatan untuk semua kelompok atas nama Bansa Aceh yang mulia. Apalagi, secara umum spirit perlawanan yang egaliter memang ada pada setiap orang Aceh.

Di Harrisburg, warga Gampong Aceh juga akrab dengan Muslim Champa dari Kambodia dan para Quaker, pengamal Kristen yang memilih hidup bersahaja dan tak sepenuhnya tunduk pada kemewahan dan kemudahan hidup moderen. Bahkan, sambil terus berusaha membangun Meunasah Aceh, sebagian warga Gampong Aceh Harrisburg menitipkan anak-anaknya belajar Agama Islam di “Mesjid Champa” yang tradisi dan bahasanya banyak kemiripan dengan Aceh. Para ilmuwan, sejarah dan ahli linguistik, memang mempunyai banyak bukti kedekatan kedua peradaban ini. Belakangan ini, ada teori bahwa Aceh adalah nenek-monyang Champa. Tapi teori yang sudah lama diterima umum, dari Champa lah nenek moyang orang Aceh berasal.

Semoga pertemuan antar budaya dan peradaban, di dalam kelompok warga Aceh maupun dengan pihak di luarnya, akan membuat generasi Aceh Amerika lebih terbuka. Dan ketika mereka pulang ke Aceh, untuk kembali atau untuk sekedar berkunjung sebagai warga Amerika, mereka bisa menularkan indahnya hidup dalam keberagaman.  Karena keberagaman itu memang adalah sunnatullah.

Bu biryani na, bu guri pih na (Nasi briyani ada, nasi gurih ada) di ”Gampong Aceh” di Harrisburg, Pennsylvania. Tinggalkan politik pecah-belah, marilah bersaudara (kembali) sambil menikmati nasi biryani atau nasi gurih khas Aceh. Uroe raya di Amerika rasa Mutiara atawa Gampong Aree di Delima? Kenapa tidak?! [sma]

 

*Saiful Mahdi adalah Dosen pada Program Studi Statistika FMIPA Unsyiah; Penerima Beasiswa Fulbright yang menempuh pendidikan S2 dan S3 nya di Amerika Serikat ini juga Sekretaris PLPISB Unsyiah. Isi tulisan adalah pandangan pribadi. Email: saiful.mahdi@fmipa.unsyiah.ac.id

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Kolom Fakhrurradzie Gade

  • Kolom Fakhrurradzie Gade

    Sepatu Pribumi

    By

    Sepatu Pribumi Saiful Mahdi* Berada di lingkungan PNS, baik di kampus tempat saya bekerja maupun di...

  • Kolom Fakhrurradzie Gade

    Pembangunan sektoral yang memiskinkan

    By

    Pembangunan sektoral yang memiskinkan Saiful Mahdi* Banyak ahli, terutama ekonom, bicara tentang angka-angka kemiskinan. Tapi masalah...

  • Kolom Fakhrurradzie Gade

    Merokok Haram! Titik!

    By

    Merokok Haram! Titik! Saiful Mahdi* Saya termasuk yan paling senang dengan perhatian pada masalah rokok dan...

  • Kolom Fakhrurradzie Gade

    Matematika & Pendidikan Karakter

    By

    Matematika & Pendidikan Karakter Saiful Mahdi*   Seorang professor bidang Fisika yang cukup terkenal menyampaikan kegeramannya...

  • Kolom Fakhrurradzie Gade

    Iqra dan Media Sosial

    By

    Iqra dan Media Sosial Saiful Mahdi* Belakangan, makin banyak teman yang memutuskan untuk berhenti membuka aplikasi...

  • Kolom Fakhrurradzie Gade

    Singklet Gaki

    By

    Singklet Gaki Saiful Mahdi* Sejak menjelang pelantikan Gubernur/Kepala Pemerintahan  Aceh yang baru, beredar luas di berbagai...

  • Kolom Fakhrurradzie Gade

    Kenangan Idul Fitri di Amerika (2)

    By

    Kenangan Idul Fitri di Amerika (2) Saiful Mahdi* Hingga saat ini kami masih suka terharu dalam...

  • Kolom Fakhrurradzie Gade

    Kenangan Idul Fitri di Amerika (1)

    By

    Setiap menjelang Idul Fitri, kita sering terkenang dengan Idul Fitri-Idul Fitri terindah dalam hidup kita. Selain...

  • Kolom Fakhrurradzie Gade

    Jak Meudagang

    By

    Jak Meudagang Saiful Mahdi* Sikap inklusif dan terbuka atau eksklusif dan tertutup adalah cara kita memandang...

  • Kolom Fakhrurradzie Gade

    Sistem Ekonomi untuk Aceh

    By

    Sistem Ekonomi untuk Aceh Saiful Mahdi* Hidup nelayan di Aceh tak lepas dari peran “toke bangku”...

To Top