Connect with us

Kesegaran dalam Pelukan Pegunungan Keumala

HABIL RAZALI - ACEHKITA PHOTO

Travel

Kesegaran dalam Pelukan Pegunungan Keumala

PEGUNUNGAN Keumala Dalam, di pedalaman Pidie, menyimpan banyak potensi wisata alam. Keumala sempat masyhur dengan obyek wisata sungai dan rinyeun sireutouh di kawasan proyek irigasi Desa Ugadeng. Namun, lokasi yang sempat ngehits di tahun 1980 hingga awal 2000-an itu mati total. Kini, hanya berfungsi sebagai irigasi yang mendistribusikan air ke seluruh persawahan di Keumala, Sigli, hingga Simpang Tiga.

Keumala juga menyimpan obyek wisata sejarah yang tak kalah heroiknya. Agak ke atas dari Proyek Irigasi, ada sebuah kawasan yang dinamakan Keumala Dalam. Disebut “dalam” karena di sini pernah menjadi pusat Kesultanan Aceh antara tahun 1873-1903 –ketika pusat Kutaraja jatuh ke tangan Belanda.

Beberapa bulan belakangan ini, Keumala Dalam kembali menjadi ingatan para pecinta keindahan wisata air di Pidie. Setidaknya, setelah adanya bendungan besar yang mengatur distribusi air ke lahan pertanian warga di Pidie.

Bendungan tersebut bukanlah Bendungan Keumala yang puluhan tahun lalu sempat jadi spot wisata favorit. Ia merupakan sebuah bendungan yang tercipta karena proyek pembuatan saluran pengairan ke sawah dan kebun warga dua bulan lalu.

Pembangunan Bendungan Keumala Dalam ini memberi kesan tersendiri bagi saya. Sebab, saya terlibat secara tidak langsung untuk menyampaikan aspirasi warga, menuliskan berita supaya pemerintah segera mengatasi permasalahan tidak cukup air di areal persawahan dan perkebunan.

Pertengahan pekan lalu, hari menjelang sore. Terik matahari masih terasa menyengat. Langit biru cerah, tanpa gumpalan awan. Saya mengajak teman, Fitra Maulana, mandi sungai tanpa memberitahu persis lokasi yang jadi tujuan nantinya.

Melalui BBM, saya mengirim beberapa gambar pemandangan tempat pemandian tersebut. Beberapa kali ia bertanya di mana, penasaran sekaligus takjub dengan keindahannnya.

Menjemput Fitra di rumahnya, kami bergegas menuju Bendungan yang terpaut tiga kilometer. Hanya dibutuhkan lima menit dengan berkendara motor.

Fitra tercengang. Ia tak menyangka tempat berpemandangan indah itu ternyata berada di Keumala Dalam, bertetangga dengan desa tempat ia tinggal.

Jalan masuk ke Bendungan Keumala Dalam tak beraspal. Debu berterbangan akibat hentakan ban kendaraan roda dua maupun empat. Beberapa pejalan kaki terlihat menutup mulut dan hidung menggunakan tangan kanan saat terkena deraian debu sembari tangan kiri menenteng peralatan mandi seperti handuk dan sabun.

Tiba di lokasi, saya melemparkan pandangan ke semua penjuru mata angin. Bentangan hutan nan hijau, sungai tenang mengaliri air jernih serta suara kicau burung melenakan saya, melupakan sejenak hiruk-pikuk di luar sana.

Berada di sini, saya bak menemukan oase yang tenang nan menyegarkan. Saya bak berada dalam pelukan hutan yang menenangkan.

Aliran Krueng Baro di depan saya tambah eksotis karena diapit jejeran perbukitan Bukit Barisan yang hijau, bak lukisan alam di atas kanvas besar.

Saya mengayunkan langkah cepat dan buru-buru. Perasaan tak sabaran saya alami. Hendak segera menyemplungkan diri ke tengah-tengah aliran sungai yang dibendung. Setiba di tepi bendungan, saya melirik sekali lagi. Lirikan mata saya kini juga tertuju ke segala penjuru. Di sudut ujung bendungan beberapa pekerja sibuk menyelesaikan pekerjaan bendungan ini yang belum rampung.

Proyek Bendungan Keumala Dalam dibangun menggunakan tekhnik membendung aliran air sungai Krueng Baro Keumala dengan beton. Berlebar tiga meter, beton itu dibentuk memanjang dari sisi sungai sebelah kiri hingga ke kanan sepanjang sekitar 60 meter. Sisi sebelah kiri bagian hulu bendungan terdapat sebuah pintu air untuk saluran irigasi yang akan mengairi persawahan dan perkebunan warga.

Aliran sungai dibendung supaya air sungai dapat mengalir deras ke saluran irigasi itu. Boleh dikatakan bendungan itu dibangun untuk menghambat lajur aliran sungai agar air sungai mengalir ke saluran irigasi menuju persawahan dan perkebunan.

Bagian hulu berdekatan dengan beton bendung itu, aliran air sungai agak mengalir pelan. Hal demikian terjadi karena sebelumnya dasar sungai di sana telah dikeruk alat berat berjenis backhoe agar volume air terbendung banyak. Kedalaman dasar sungai kerukan alat berat mencapai tiga meter di aliran sungai seluas 60 meter ke samping dan 50 meter ke hulu dari bendungan.

Orang dewasa pun tak akan terlihat ujung tangannya di permukaan air sekiranya berdiri dengan kaki di dasar sungai dan tangan dijulur ke atas. Bebatuan besar tersusun rapi sekitar 30 meter ke bagian muara dari beton penahan aliran air bendungan. Menambah pemikat dan daya tarik warga untuk bergegas menjajakan kaki di bendungan ini.

Saya menuruni bangunan pintu air saluran irigasi dan menginjakkan kaki di atas beton bendung. Air setinggi mata kaki mengalir indah di atas beton yang sisi bagian muara berstruktur menurun. Sambil berjalan, saya menghayati keindahan alam di sana. Aliran sungai luas, air bersih, deras. Dua pegunungan hijau mengapit sepanjang aliran sungai. Menakjubkan.

Kesabaran sepertinya menghilang. Saya segera mengayunkan diri ke arah aliran sungai. Nyemplung. Berada dalam aliran sungai, saya beberapa kali mencoba mencapai dasar sungai. Namun gagal, kedalamannya tak bisa saya capai. Benar-benar dalam sekali.

Nafas saya sempat ngos ngosan ketika hendak mencapai tepi sungai dari bagian tengahnya. Sangat melelahkan. Saya memang sudah lama tidak pernah berenang lagi. Sebagai balas dendam, saya berenang sampai sepuas mungkin di sana.

Menjelang pulang, saya melihat warga semakin menyesaki tempat wisata terbilang baru itu. Mereka mengaku mengetahui informasi keberadaan bendungan tersebut dari mulut ke mulut atau pun foto yang beredar di media sosial. Pengunjung ke sana bukan hanya warga Kecamatan Keumala. Sejumlah warga dari Kecamatan lain di Kabupaten Pidie juga turut mengisi liburan ke sana.

Laki laki dan perempuan sepertinya punya kesempatan yang sama untuk menikmati pesona mandi di bendungan. Namun, kaum perempuan berenang agak jauh dari laki-laki, demikian merupakan supaya tercipta ketertiban dan kenyamanan bersama.

Bendungan Keumala Dalam ini menyerupai kolam renang yang memiliki kedalaman tiga meter dengan luas sekitar 60 meter. Jika tidak bisa berenang sama sekali, sangat disarankan untuk membawa pelampung agar tak tenggelam. Beberapa pengunjung di sana ada yang menggunakan ban dalam mobil sebagai pelampung.

Pengunjung sebaiknya menyiapkan makanan atau pun minuman terlebih dahulu sebelum ke sana. Di lokasi bendungan belum ada warga yang menyediakan makanan dan minuman.

Bendungan Keumala Dalam dapat ditempuh melalui Jalan Tangse dari arah Beureunuen, setiba di desa Tunong, Keumala Dalam, pengunjung harus memasuki jalan bebatuan menuju ke arah sungai. Ikuti saja jalan ke sungai tersebut, bendungan Keumala berdiri kokoh persis di penghujung jalan itu.

Lokasinya sangat cocok untuk pergelaran acara makan bersama keluarga, bakar-bakar ayam atau ikan sambil menikmati keindahan sungai dan hijaunya pegunungan.

Penasaran suasana aslinya? Ajak rombonganmu ke sana! []

HABIL RAZALI

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Travel

To Top