Ketika Merauke Dipaksa jadi Lumbung Pangan dan Energi - ACEHKITA.COM
Connect with us

Ketika Merauke Dipaksa jadi Lumbung Pangan dan Energi

Laporan Khusus

Ketika Merauke Dipaksa jadi Lumbung Pangan dan Energi

TUJUAN kami ke ujung paling timur Indonesia, ingin melihat sebuah terobosan dari Jakarta, menjadikan Merauke lumbung pangan nasional. Yang diinisiasi sejak tahun 2000, saat pangan di negeri ini diambang krisis.

Program ini awalnya digagas Johannes Gluba Gebze, Bupati Merauke saat itu. Niat dia, membangkitkan ekonomi masyarakat. Walau pengelolaan diserahkan ke swasta, tapi dikembangkan dengan model perkebunan. Basisnya pada beras, sagu, jagung, kedelai dan tebu, dengan skema Merauke Integrated Rice Estate (MIRE).

Usulan John disambut baik Jakarta, kran investasi dibuka. Tapi yang datang jutru banyak pemain sawit, investasi di bidang pangan kurang peminat.

Untuk menampungnya, pada 2010 MIRE berubah menjadi Merauke Integrated Food and Energy Estate (MIFEE). Sawit masuk di dalamnya, sebagai sumber energi.

April 2015, di sela-sela melakukan panen raya di lahan yang dikembangkan Medco Group, di Merauke, Presiden Joko Widodo kembali mengumumkan pembukaan sawah baru, luasnya 1,2 juta hektar (ha). Targetnya rampung dalam tiga tahun.

Direktur World Wildlife Fund (WWF) Papua Benja V Mambai dalam sebuah forum mempertanyakan, tentang kesedian lahan seluas 1,2 ha, untuk sawah baru di Merauke.

“Secara keseluruhan Kabupaten Merauke mempunyai luas 4,6 juta ha. 2,4 juta ha di antaranya daerah yang dilindungi, di dalamnya ada hutan lindung, taman nasional dan daerah resapan air,” Benja menerangkan.

Lanjut dia, 228.000 hektare (sudah masuk) cluster MIFEE, terdiri dari 16 perusahaan. 70.000 ha telah dimanfatkan untuk lahan transmigrasi. 759.000 ha HTI, dikelola sembilan perusahaan. 221.000 ha dikuasai delapan perusahaan sawit. 17 perusahaan tebu dengan luas lahan 546.000 ha, dan pertanian serta tanaman pangan seluas 67.000 hektar. []

SUPARTA ARZ

Continue Reading
Baca juga...
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Laporan Khusus

To Top