Ketika Musim ‘Jualan’ (Obat) Tiba

0
1897

“Ganti sarung dan baju terus, beu bagah bacut. Peu hana jadeh jak?”

Setengah berteriak saya meminta Cek Pan untuk bersiap-siap, saat melihatnya masih menggunakan kain sarung dan baju kaos.

Walaupun disiarkan secara langsung televisi, tapi malam ini kami ingin menjadi saksi sejarah dengan menonton langsung debat calon gubernur, tanpa dimediasi teknologi berwujud kotak itu.

Saya berjanji menjemput Cek Pan di cafenya, warung kopi (warkop) langganan saya. Saya tak kuasa berkomentar, melihatnya masih bersarung ria, sementara saya sudah rapi dengan batik, celana kain dan sepatu licin, seperti ke acara pesta kawin.

Jeeh, emang gak boleh pake kain sarung?” tanyanya heran.

Saya heran dengan sohib yang “unik” ini. Masak menghadiri acara serius seperti debat politik, dia kok pakai sarung.

Padahal dia sudah tahu, acara ini dihadiri orang-orang penting, mulai dari pejabat hingga penjahat, mulai politisi hingga akademisi seperti saya, mulai dari kontraktor hingga koruptor.

Tidak perlu menunggu menit kesepuluh, ia sudah masuk ke dalam mobil tua saya.

Sebelum pemilik kafe alias warkop Cek Pan ini bertanya, saya terlebih dulu ajukan pertanyaan sambil menyetir mobil.

Kan udah tau kita mau ke acara penting, kok kamu pake sarung tadi?”

Dia menjawab dengan santai.

“Kita ini kan mau nonton ‘lawak’, makanya saya sesuaikan pakaian yang santai.”

Ka paloe, ini acara serius Cek, debat calon gubernuuurr… Dimana letak lawaknya? Peu maksud gata,” suara saya meninggi.

Cek Pan masih rileks, sambil gonta-ganti siaran radio mobil, ia memberi argumen.

“Saya pernah nonton debat-debat di TV. Dan menurut saya itu lucu. Entah kenapa saya jadi teringat Udin Pelor”

“Criiiitttt….” terdengar suara ban tergesek aspal karena secara tiba-tiba saya mengerem mobil mendadak dan terkejut melihat seorang pengendara sepeda motor menyeberang jalan seenaknya, ditambah keterkejutan dengan jawaban toke kopi ini.

“Apa hubungannya, debat calon gubernur dengan Udin Pelor?”

Saya makin tidak mengerti alur pikir kawan ini. Bagi saya, ini debat serius yang akan memikirkan nasib daerah ini lima tahun ke depan. Ini diskusi ilmiah yang akan terjadi “peperangan” ide. Ini akan sangat serius, tapi Cek Pan menganggapnya debat seperti lawakan Udin Pelor.

Mendengar nama Udin Pelor, ingatan saya menjelajah masa-masa tahun 90an, ketika kami masih SMA. Tidak banyak hiburan saat itu di Aceh.

Kala malam tiba, kami sering menelusuri jalanan kota ini, hanya untuk mencari penjual obat kaki lima. Bukan bermaksud beli obat, tapi kami mencari entertainment.

Bagi kami berdua, para penjual obat kaki lima adalah penghibur sejati. Mereka marketer hebat yang mampu membuat penontonnya terpana, setidaknya terhibur dan tertawa.

Udin Pelor dikenal sebagai maestro dunia ini. Kami juga sering menikmati karya-karyanya pada acara seperti kampanye menjelang pemilu atau pertunjukan rakyat lainnya. Ia adalah seniman serba bisa. Ia stand up comedian luar biasa.

Saat berada di panggung dan memegang microphone, Udin Pelor bisa menjadi siapa saja. Mulai sebagai master of ceremony, hingga penyanyi. Tidak sulit baginya menirukan gaya bintang Hollywood hingga bergaya ala Bollywood. Rambut panjang dikucir dan topi koboy adalah ciri khas yang membuat Udin Pelor unik.

Dua puluh menit berlalu, kami tiba di tempat acara. Setelah menemukan tempat duduk strategis dari panggung debat, kami masih melanjutkan kenangan lucu tentang Bang Udin.

Acara debat pun dimulai. Masing-masing calon gubernur menjabarkan visi, misi, program, dan janji-janjinya jika mereka terpilih menjadi gubernur nanti. Saya terdiam, serius menyimak dan mengamati. Sebagai “orang kampus” perhelatan penting ini tidak boleh saya lewati.

Sekilas saya melihat Cek Pan di samping kiri saya yang tersenyum saat debat mulai menghangat. Memang ada kandidat yang sempat melemparkan candaan sehingga membuat audien tertawa. Cek Pan tertawa paling keras. Sambil mencolek lutut saya, ia bilang, “Nyan kon, beutoi lagee lon peugah. Debat ini penuh lawak kan.”

“Saya jadi teringat saat tukang jual obat, yang mengaku obat racikannya mampu mengobati berbagai jenis penyakit. Mulai dari sakit gigi, sakit kepala, sakit perut, encok, hingga sakit panu, dan stroke. Yang bangai jih, aleeh pakon tanyoe pateh ata nyang i peugah awak meukat ubat nyan. Saya percaya dan beli obat itu satu bungkus,” bisik Cek Pan mengenang masa lalu.

“Waktu itu saya sedang sakit gigi. Abeh pajoh ubatnyan kon igo lon nyang puleh, tapi malah saya kenak ciret pulak abis minum obat itu, hahahahahha.”

Saya di sampingnya ikut tertawa. Sambil mencoba membagi konsentrasi antara janji-janji politik yang dikemas dalam ragam bahasa menarik dengan memori akan Udin Pelor.

Saat para kandidat menyerang lawannya dengan pertanyaan dan argumen, lagi-lagi sambil tertawa Cek Pan “membuktikan” bahwa Udin Pelor era digital telah lahir malam ini.

“Bang Udin sering pake bahasa Inggris kalo perankan diri jadi koboy, ditutup dengan Dor..dor…dorrr… lagee su pistol, wakakakaka…,” Cek Pan makin gelak tertawa sambil memegang perut.

Terus terang, saya agak risih melihat teman satu ini tertawa-tawa terus sepanjang debat. Saya risih melihat pandangan orang ke arahnya dan saya. Mungkin mereka berfikir ada yang salah dengan kawan saya ini. Anehnya kok saya yang merasa risih, sedangkan Cek Pan biasa-biasa saja, sambil melanjutkan tawanya.

Suasana makin tidak kondusif. Bukan pertarungan di panggung debat, namun kondisi “kejiwaaan” kawan saya ini makin aneh. Tiap akhir kalimat masing-masing kandidat, ia tertawa. Rata-rata setiap tiga menit sekali ia tertawa. Saya melihat layaknya orang kesurupan.

Sambil berbisik, dengan penuh kebahagiaan, ia berujar, “Omen, hayeu that malam nyoe. Betoi kon lagee lon peugah bunoe. Debat ini sungguh lucu. Lebih lucu dari penjual obat. Lebih lawak dari Udin Pelor.”

*Banda Aceh, 14 Januari 2017

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.