Connect with us

Ketika “Pesawat Hanakaru Hokagata” Mendarat di Kantor Gubernur Aceh

Aksi teatrikal mahasiswa Universitas Syiah Kuala saat menggelar unjuk rasa di Kantor Gubernur Aceh, Selasa, 20 Februari 2018. [ACEHKITA/HABIL RAZALI]

Aceh

Ketika “Pesawat Hanakaru Hokagata” Mendarat di Kantor Gubernur Aceh

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM – Halaman Kantor Gubernur Aceh tiba-tiba ramai. Petugas keamanan langsung siaga dan berbaris di depan pintu masuk.

Di balik suara riuh menggema, ternyata pesawat “Eagle One Hanakaru Hokagata milik Gubernur Aceh Irwandi Yusuf” mendarat di sana.

“Dia” memiloti sendiri pesawat pribadi miliknya. Di kursi belakang, duduk orang nomor satu di Dewan Perwakilan Rakyat Aceh, “Teungku Muharuddin”. Mereka berdua mendarat. Namun seusai itu, pesawat tidak langsung berhenti dan parkir.

Pesawat terus melaju dan mengelilingi puluhan petugas keamanan yang siaga. Di hadapan petugas, seratusan mahasiswa berdiri memegang spanduk, poster dan berteriak layaknya orasi. Pesawat juga berjalan di hadapan mahasiswa.

“Irwandi” tersenyum lepas. “Muharuddin” di belakang melambaikan tangan. Para mahasiswa tertawa, termasuk petugas keamanan yang tampak ingin senyum namun ditahan. Pesawat terus melaju tiada henti. Tak lama kemudian, pesawat terbang lagi.

Sayangnya, belum mencapai ketinggian, pesawat terjatuh. “Irwandi dan Muharuddin” kesakitan. Petugas keamanan dan mahasiswa histeris.

Sesudahnya, suara riuh dan keras kembali menggema di gedung kantor Gubernur Aceh, pada Selasa siang, 20 Februari 2018.

Sosok Gubernur Aceh Irwandi Yusuf dan Ketua DPRA Teungku Muharuddin tersebut diperankan oleh mahasiswa Universitas Syiah Kuala.

Mereka memakai topeng kedua tokoh itu saat melakukan aksi teatrikal dan demonstrasi menuntut eksekutif dan legislatif segera mensahkan Anggaran Pendapat Belanja Aceh (APBA) tahun 2018 senilai Rp14,7 triliun. Sedangkan pesawat itu terbuat dari kardus bekas.

Kedatangan mahasiswa ke sana diterima Kepala Biro Humas dan Protokol Setda Aceh, Mulyadi Nurdin dan Kepala Badan Kesbangpol Linmas Aceh Mahdi Effendi.

Di spanduk dan poster yang dibawa mahasiswa, mereka menulis “pesawat reuloh APBA”, “Sahkan APBA segera atau rakyat akan menjerit”, dan sejumlah tulisan lainnya.

Mahasiswa menilai pembelian pesawat menggunakan dana APBA merupakan pemborosan anggaran dan adanya kepentingan pribadi.
“Apakah kita setuju membeli pesawat?” teriak seorang mahasiswa. “Tidak. Tidak,” balas puluhan mahasiswa lain.

Dalam orasinya, mahasiswa juga menuntut agar APBA harus disahkan selambat-lambatnya pada 27 Februari 2018 dan menolak untuk dipergubkan.

“APBA harus memuat program dan kebijakan yang sesuai dengan apa yang sangat dibutuhkan, jangan hanya memikirkan kepentingan pribadi,” kata mahasiswa dalam orasi.

Usai orasi, mahasiswa menyerahkan sebuah balsem kepada Kabiro Humas Mulyadi Nurdin dan meminta untuk dioleskan di bagian kepala.

“Ayo pakai Pak, agar tidak sakit, biar bapak sehat selalu dan segera selesaikan pembahasan APBA,” kata seorang mahasiswa sambil menyerahkan balsem.

Tak ayal, Mulyadi pun mengoleskannya. Meskipun sedikit sekali, namun mahasiswa bertepuk tangan dan tertawa.

“Gubernur Irwandi Yusuf telah memberikan waktu hingga 27 Februari 2018. Kita berharap DPRA akan segera mensahkan,” kata Mulyadi kepada mahasiswa.

Saat ini, kata Mulyadi, Pemerintah Aceh terus memantau berbagai kemajuan dan berharap tidak ada lagi kendala sehingga pengesahannya dapat segera dilakukan.

“Pak Gubernur ingin memastikan agar APBA yang disahkan akan tepat guna, tepat sasaran dan berhasil bagi pembangunan Aceh,” kata dia.

Aksi di DPRA

Sebelum ke kantor gubernur, mahasiswa terlebih dulu ke kantor DPR Aceh. Di sana mereka diterima Wakil Ketua DPRA Teuku Irwan Djohan dan Sekretaris Dewan, Hamid Zein.

“Aspirasi mahasiswa akan kita akomodir dan akan kita perjuangkan di sini. Adek-adek mahasiswa tentunya memiliki aspirasi yang sudah dipertimbangkan secara matang. Pengesahan APBA sedang dalam proses. Sejak saya memimpin pembahasan APBA dengan eksekutif dilakukan secara terbuka,” kata Irwan di depan mahasiswa.

Menurut Irwan, pengesahan APBA tahun ini sangat lambat karena pihaknya tidak ingin mengesahkannya secara serampangan seperti tahun lalu.

“Jujur saja, tahun sebelumnya saya melihat ada item-item dan program di dalam APBA itu, yang bahkan pimpinan DPRA belum tentu semuanya itu,” katanya.

Untuk tahun ini, kata Irwan, mereka ingin semua program benar-benar berpihak kepada rakyat. Hingga kini, proses pembahasan APBA masih 50 persen.

“Jujur, saya pesimis dengan tujuh hari lagi pembahasannya bisa diparipurnakan. Walaupun setiap hari kerja kita rapat, namun progresnya sangat lambat,” tutur Irwan.

Koordinator aksi demonstrasi, M Haris Munandar mengatakan pihaknya melakukan aksi tersebut menuntut segara mensahkan APBA.

Menurutnya, APBA 2018 seharusnya sudah disahkan paling telat pada 31 Desember 2017.

“Di sini kita ingin mengingatkan lagi janji yang telah diucapkan sebelumnya yang mengatakan APBA akan disahkan pada 5 Februari,” kata Haris.

Dia juga mengomentari anggaran pembelian pesawat dalam APBA. Menurutnya, saat ini Aceh belum terlalu penting dan belum butuh pesawat.

“Kita lihat pendidikan kita masih rendah, kemiskinan masih tinggi, itu dulu yang harus kita benah, dan itu sangat penting dan utama untuk dilakukan,” kata Haris.

Haris menambahkan bahwa pihaknya akan kembali bergerak dan melakukan demonstrasi jika pada 27 Februari, APBA belum juga disahkan.

“Kita akan menggelar aksi dengan massa yang lebih banyak lagi,” tutur Menteri Polhukam BEM Unsyiah itu.

Menurutnya, keterlambatan pengesahan APBA diduga karena ada masing-masing kepentingan antara eksekutif dan legislatif, sehingga pembahasannya tak menemui titik temu.[]

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

More in Aceh

Advertisement

ACEHKITA TV

Trending

Kolom

cermin

Kolom

Cermin

By Nov 22, 2017

Kuliner

Facebook

To Top