Connect with us

KILAS BALIK — Mengenang Petaka Arakundoe

Aceh

KILAS BALIK — Mengenang Petaka Arakundoe

HARI itu Selasa, 02 Februari 1999, masyarakat gampong Matang Ulim Kecamatan Darul Aman, Idi Cut, Aceh Timur, hendak mengadakan acara dakwah islamiyah dengan mengundang penceramah dari luar daerah. Acara dakwah adalah acara rutin yang diadakan di gampong-gampong di Aceh, khususnya dalam menyambut hari-hari besar Islam. Anak-anak muda gampong bergoyong-royong mempersiapkan panggung dan tempat acara.

Selepas ashar, datang sepasukan ABRI, langsung tanpa ba-bi-bu merusak panggung acara yang telah disiapkan. Beberapa orang kena pukul, 3 dewasa dan satu anak kecil berumur 3 tahun kena aniaya. Pasukan itu mengancam agar acara dibatalkan. Setelah mufakat gampong, acara tetap dilanjutkan, dan sepeninggal pasukan ABRI, anak-anak muda kembali membuat panggung.

Malamnya, ribuan penduduk dari berbagai kecamatan memadati tempat acara. Tiga penceramah dari tiga kecamatan bergantian memberikan dakwah di hadapan massa. Para penceramah memberikan dakwah menyangkut agama, sejarah Aceh dan juga meminta hadirin untuk menjaga keamanan dan ketertiban.

Sekira pukul 00.35 pagi, hari Rabu tanggal 3 Februari, acara ceramah selesai, masyarakat pun kembali ke tempat masing-masing dengan jalan kaki, motor dan mobil bak terbuka dan truk.

Ketika tiba di simpang kuala Idi Cut, dekat koramil dan polsek, beberapa orang tidak dikenal melakukan provokasi dengan melempar batu ke arah masyarakat yang baru pulang dari acara. Beberapa masyakarat terluka oleh lemparan yang datang dari arah kantor koramil tersebut. Lampu mati.

Sebagian ada yang berhenti untuk mencari tahu siapa yang melempar, pukul 01.05, tiba-tiba ABRI dan Brimob muncul dan langsung menghalau massa dengan tembakan dan berondongan peluru tajam. Rupanya mereka telah bersiap dan menunggu.

Puluhan masyarakat terkapar berdarah terkena peluru, suasana panik. Massa berhamburan. Aparat berdalih kemudian hari bahwa tembakan senjata dari jarak dekat itu untuk menenangkan masyarakat. Kemudian setelah penembakan berdarah itu, puluhan orang ditangkap dan disiksa.

Pukul 02.40, masyarakat yang bermukim di sekitar jembatan Arakundoe, mendengar suara raungan truk-truk datang silih berganti ke jembatan dari arah Idi Cut dan mendengar suara orang melempar sesuatu ke dalam sungai.

Besok paginya, warga yang penasaran melihat ceceran darah di jembatan lama Arakundoe. Beberapa mayat ditemukan dekat dengan jembatan. Ada yang mengapung, ada yang terbenam. Rata-rata mayat ditemukan patah-patah dengan tubuh penuh peluru.

Masyarakat dari mana-mana berdatangan mencari mayat di sungai Arakundoe. Satu persatu mayat ditemukan, warga tetap melakukan pencaharian di hari Kamis dan Jumat.

Sebagian tubuh korban ditemukan dalam karung yang telah diberikan batu pemberat, ada juga yang ditemukan beberapa kilometer dari tempat itu, karena ikatannya terlepas. Sebagian karung yang dipakai bahkan masih tertulis nama anggota ABRI pemiliknya.

Pukul 11.00 hari Jumat, sempat datang dua truk ABRI bersenjata lengkap ke jembatan tua Arakundoe, namun kemudian pergi.

Pukul 12.00 datang lagi, kali ini datang bersama Komandan Kodim Letkol Inf. Ilyas, Kapolres Letkol Pol. R Suminar, Komandan Sub Denpom Langsa Kapten CPM. Warislam serta Linud 100 Medan Mayor Edy Rahmayadi dan Bupati Aceh Timur H. Alauddin AE. Mereka hadir di sana untuk memberi ceramah dan berbicara dengan masyarakat.

Aparat tidak membantu evakuasi saat itu, tetapi malah keliling menggunakan truk dan mobil berstiker ‘pemburu nyawa’ untuk melakukan teror.

Aparat saat itu membantah melakukan pembantaian yang terencana itu. Malah mengatakan penembakan dilakukan dengan menggunakan peluru karet. Segera terbantah, sebab masyarakat menemukan banyak peluru tajam produksi PT. Pindad di tempat kejadian.

Tanggal 7 Februari, relawan FP HAM, Anwar Yusuf ditangkap oleh Koramil Idi Rayeuk karena melakukan investigasi masalah pembantaian dan pembuangan mayat di Arakundoe. Selama ditahan, sempat disiksa dengan dipukul pakai balok, sapu, disiram air panas, dan dijepit dengan kursi. Kemudian dibebaskan tanpa tuduhan apapun.

Semoga Allah mengangkat derajat semua syuhada dan ditempatkan di sisi-Nya.

Semoga pemimpin kami mengingat dan tidak melupakan darah syuhada yang telah membasahi bumi Aceh.

Semoga pemimpin kami melanjutkan perjuangan para syuhada untuk mensejahterakan rakyat Aceh. []

MUNAWAR LIZA ZAINAL, Warga Aceh Besar. Informasi dari tulisan ini diolah dari pelbagai sumber.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Aceh

To Top