Connect with us

Kisah Fotografer di Medan Perang

Kabar dari ACEHKITA

Kisah Fotografer di Medan Perang

SELAIN berita, acehkita juga mengandalkan foto-foto yang menggambarkan suasanan langsung saat di lapangan. Banyak fotografer yang kemudian bergabung ke acehkita. Ada nama besar Murizal Hamzah, Binsar Bakkara, dan Hotli Simanjuntak.

Hotli mengisahkan pengalamannya saat bersama acehkita. Saat ini dia fotografer European Pressphoto Agency (EPA) di Aceh. Mantan fotografer kantor berita Perancis, AFP, juga menjadi dosen tamu untuk bidang jurnalistik konsentrasi fotografi di UIN Ar-Raniry.

Hotli baru saja menyelesaikan studi S1 di kota Medan ketika mendapat tawaran dari kantor berita AFP untuk menjadi fotografer mereka. Dia berangkat dan menginjakkan kakinya di Aceh pada 27 April 2001, tepat pukul sembilan pagi.

Rasa khawatir sebelum bertugas di Aceh jelas ada. Karena menurut surat kabar di kotanya, berita pembunuhan terus tersiar dari tanah Rencong. Namun yang dipikirkan Hotli saat kapan lagi ia bisa mendapatkan tarwaran menggiurkan dari kantor berita luar negeri.

Dandhy Dwi Laksono-lah yang langsung mengajak Hotli bergabung dengan acehkita pada awal berdirinya media tersebut. Alasan Hotli bergabung karena melihat media mainstream saat itu mengarahkan kiblatnya ke aparat pemerintah. Dan merasa menjadi penipu bila ikut menyiarkan informasi sepihak itu.

Menurutnya, bicara mengenai bahaya di lapangan, resiko fotografer memang lebih besar dibandingkan jurnalis cetak. Namun secara psikologi, meski berat di lapangan, posisi jurnalis foto lebih aman, karena bahaya yang dialami langsung saat kejadian perkara. Sedangkan wartawan cetak efeknya baru terasa setelah tulisannya di publis.

Misalnya saat meliput kontak senjata. Saat aksi tembak-menembak sedang berlangsung, wartawan cetak bisa menghindar terlebih dahulu. Setelah kontak senjata reda, jurnalis cetak baru mewawancarai orang di sekitar lokasi kejadian dan efeknya setelah tulisan itu dimuat.

Kualitas foto selalu berbanding lurus dengan bagaimana proses pengambilan gambar, sehingga dapat mengaduk-ngaduk perasaan penikmatnya. Begitulah yang dialami Hotli ketika meliput pengungsi di Lhoksemawe. Ia tak menyangka peliputan kala itu hampir menyebabkannya mati karena berburu foto.

Peristiwa itu terjadi di Kuta Blang, Lhokseumawe pada awal 2004 yang kini menjadi tempat pedagang jagung bakar. Hotli mendapat kabar bahwa banyak pengungsi dari desa sebelah di lokasi itu.

Hotli sampai di tempat pengungsian menjelang siang hari dari Banda Aceh. Setibanya di sana, melihat sosok Hotli yang mencolok dengan badge identitas wartawan tergantung di dada, seorang laki-laki langsung mendekatinya dan bercerita kepada Hotli bahwa ia dan penduduk di kampungnya baru saja mengungsi tadi pagi.

Dia menyarankan Hotli untuk meliput ke kampungnya karena sedang terjadi kontak senjata. “Tapi sebelum berangkat dia tanya, apa aku berani datang ke sana karena sedang kontak senjata? Aku jawab, Oh berani.”

Hotli kemudian diantar ke kampung dimaksud dan bertemu Kautsar (sekarang anggota DPRA). “Kebetulan aku berteman dengannya. Atas rekomendasi dia akhirnya aku bisa ke pos tempat GAM bertahan,” kenangnya.

Masa konflik, masyarakat sangat percaya kepada wartawan. Bagi mereka wartawan satu-satunya tempat mengadu dan selalu merasa terlindungi berada dekat dengan buruh tinta itu. Karena faktanya jika kontak senjata baru saja terjadi di daerah mereka, TNI akan datang dan mencak-mencak di depan masyarakat. Tak jarang ada warga yang dipukul atau disepak saat introgasi. Berbeda halnya kalau ada wartawan di situ. Biasanya TNI lebih sopan. Takut gambar mereka sedang memukul warga sipil terpampang di media.

Ketika Hotli sampai di pos GAM, kontak senjata memang masih terjadi. Peluru mendesing-desing bersahutan. “Jadi waktu mereka lagi perang aku dapat fotonya. Cuma karena kondisinya menakutkan aku lebih banyak tiarap. Itupun karena disuruh tiarap. Benar aja, begitu aku tiarap tembok di belakang ku hancur kena peluru. Aku pucat! Dan berpikir kali ini perang beneran,” cerita Hotli

Hotli menyebutnya itu penyakit darah muda. Bagi mereka yang muda, pengaruh adrenalinnya mengakibatkan punya keberanian berlebih hingga tidak memikirkan risiko mati. Hotli muda yang belum bekeluarga saat itu, selalu ingin di depan mengabadikan momen kontak senjata. Lupa kalau sedang dalam perang.

Besoknya, sebelum kembali ke Banda Aceh dia sempat singgah ke pos TNI yang menyerang pertahanan GAM sehari sebelumnya. “Aku membayangkan bagaimana TNI menghajar pos GAM pakai peluru segede-gede bagong! Gila, untung aku masih hidup,” katanya sambil mengeleng-gelengkan kepala.

Hotli tersadar bahwa sehari sebelumnya nyawanya berada di ujung rambut. Pengalaman itu kemudian diceritakan kepada temannya asal Bangkok. Temannya hanya menyarankan satu hal, “jangan sesekali berniat mengulangi hal itu karena sebuah keberuntungan kamu masih hidup.”

Jika mengingat itu, Hotli merasa tindakannya tolol sekali. Terlalu berani dapat mengaburkan nalar untuk mengutamakan keselamatan. Tak jauh berbeda dengan yang dialami wartawan di Irak kala perang melawan Amerika Serikat pada Maret 2003.

150 wartawan tewas dalam konflik tersebut, 14 orang di antaranya tewas di tangan tentara Amerika Serikat (Kompas.com). Resiko kematian terabaikan dan penyebabnya adalah over adrenalin.

Dalam buku ‘Meretas Jurnalisme Damai di Aceh’ yang diterbitkan atas kerjasama Yayasan Obor Indonesia, yayasan KIPPAS dan Uni Eropa, 2007 disebutkan bahwa kelemahan peliput konflik di Indonesia selama ini, salah satunya karena hanya bermodalkan semangat tanpa memperhitungkan keselamatan diri.

Di Myanmar ada satu media seperti acehkita. Namanya Irrawaddy. Hotli pernah berkontak dengan mereka. Isu yang diangkat Irrawaddy juga tentang kekejaman pemerintah Myanmar, terhadap masyarakatnya.

Seperti itulah media alternatif bekerja. Bukan berteriak siapa pelaku kekerasannya, tapi siapa korban pelaku kekerasannya. Hotli memberi contoh pada pemilu 2014. Media sibuk berkoar mengenai kebaikan dan keburukan pasangan calon presiden tersebut. Tidak melihat betapa bingungnya masyarakat terhadap pemberitaan yang saling bertolak belakang .

Sumber dana juga harus diperhatikan media alternatif dengan seksama. Jangan sampai mendapat donor dari pihak bertikai.

Selaku pewarta foto, Hotli berpesan agar mempertahankan independen diri. Tak boleh condong sepihak. Jangan sempat menjadi cuak (mata-mata) dari kedua belah pihak. Bila dia mengetahui rahasia TNI karena sedang berada dengan mereka, itu tidak boleh disampaikan kepada GAM. Begitu sebaliknya. Itulah modal hotli dalam meliput konflik agar tetap aman berada di dua tempat itu.

Independen tak hanya dilakukan Hotli lewat sikap di atas, tapi juga dalam hal peliputan. Biasaya setelah terjadi kontak senjata, TNI kembali mensurvei lokasi untuk mengambil mayat. Mereka bersedia memberikan tumpangan untuk para wartawan. Dan Hotli selalu menghindari itu. Ketika wartawan menumpang kendaraan TNI berarti mereka sudah partisan.

Dia pergi dengan mobil operasional sendiri. Mobil itu lengkap dengan bendera bertuliskan pers. Bendera itu dibuat Hotli agak besar supaya terlihat jelas. Dia sempat menganti bendera pers itu berapa kali karena dibawa kemana-mana dan hancur diterpa angin.

Hotli memang tak punya banyak teori, tapi dia kaya pengalaman masa peliputan konflik Aceh. Baginya tak ada yang paling menguntungkan daripada pengalaman itu. Pelajaran berharga lain dari perang di Aceh untuknya yaitu; tak ada liputan eksklusif bila itu mempertaruhkan nyawa.

***

Dua Perempuan dan Kisah Foto di Ruang AJI
Ruang tamu di kantor AJI Banda Aceh berukuran sekitar empat kali empat meter. Ruang itu bersebelahan dengan kampus Muharram Journalis Collage (MJC). Ada dua kursi panjang lengkap dengan meja tamu di dalamnya. Ada juga satu meja dengan dua kursi saling berhadapan. Banyak transaksi yang dilakukan di meja itu. Termasuk pengambilan dan pengembalian formulir pendaftaran MJC sekaligus wawancara calon mahasiswa angkatan baru.

Beberapa gambar berbingkai terpajang di tengah ruangan. Karena itu kantor Jurnalis, maka atribut yang terpajangpun tak lepas dari jurnalistik. Salah satunya adalah gambar kartun seorang laki-laki berdasi memegang microfon berlebelkan TV. Ukuran bingkainya sekitar 50 inci. Di bawah gambar lelaki itu, bertuliskan “Jurnalis juga buruh.”

Tepat di sebelah kanan atas gambar kartun itu, ada lima foto berderet ukuran 15 inci. Foto mantan ketua AJI Banda Aceh. Dari sekian potret itu, ada satu yang menarik perhatian saya. Letaknya tepat di bawah deretan gambar para ketua AJI. Hitam putih warnanya. Dalam gambar itu terlihat beberapa orang berlarian agak merunduk ingin menuju seberang jalan. Di antaranya memegang kamera TV dan ada yang membawa kamera foto.

Dari tempat semula orang-orang itu datang, ada sebuah kijang panser. Di belakang mobil itu, hanya berjarak sekitar 10 meter, sebuah mobil tank sedang berjalan ke arah mereka. Jika dilihat sekilas, potret itu seolah ingin mengabadikan peristiwa penyerangan bersenjata terhadap wartawan. Tapi bukan, ada kisah lain.

Pada pertengahan 2012 hingga akhir, saya rutin melihat gambar itu. Waktu itu saya masih berstatus mahasiswa di MJC. Tapi tak pernah bertanya siapa gerangan fotografer di balik potret itu. Baru pada Juli 2014 saya tahu siapa orangnya, ternyata Hotli Simanjuntak.

Di dalam foto jelas terlihat seorang perempuan yang ikut berjongkok, dia adalah Nani Afrida, yang bekerja untuk The Jakarta Post. Nani juga andalan acehkita dan kerap memakai nama samaran; Nane. Satu lagi lagi perempuan yang aktif bersama acehkita adalah Daspriani Zamzami yang juga ada di lokasi saat foto itu dijepret.

Mereka adalah dua jurnalis perempuan di garis depan acehkita. kedua-duanya kerap menulis isu-isu perempuan korban konflik. Korban perempuan umumnya lebih percaya dan bercerita banyak kepada wartawan perempuan dibandingkan dengan laki-laki.

Daspriani Zamzami kerap dipanggil Yayan. Profesi wartawan telah digelutinya sejak 1999. Waktu itu jurnalis perempuan Aceh bisa dihitung jari. Yayan yang kini masih aktif sebagai pekerja media juga menjadi relawan di komunitas Darah untuk Aceh.

Yayan kerap merasa takut dan was-was ketika harus meliput konflik. Tapi demi liputan, Yayan mengesampingkannya. Dia mengaku telah dibekali savety education liputan konflik sebelum terjun ke lapangan. Kalau menulis menggunakan rumus 5 W plus H maka dia menambahkan S untuk Savety (keselamatan). Hingga kini formula itu masih diterapkan Yayan. Alasannya keselamatan usai peliputan tetap harus dijaga supaya hasil liputan dapat dilaporkan kepada publik.

“Pengalaman apa yang paling berkesan saat liputan masa konflik?” Tanya saya. Yayan spontan mengangkat tangan kanannya dan mengarahkan ke sebuah bingkai foto karya Hotli yang terpajang di dinding ruang tamu AJI.

“Saya di sana, berada di belakang kameramen yang lagi nyeberang. Tak kelihatan di foto Hotli,” jelasnya.

Yayan berkisah, waktu itu 16 Agustus 2004. Yayan dan beberapa wartawan media lain liputan ke Indrapuri, Aceh Besar yang termasuk kawasan rawan konflik. Saat itu mereka ingin melihat persiapan pesta demokrasi pemilihan Presiden Indonesia di daerah tersebut. Ternyata tak satupun bendera merah putih berkibar.

Jalanan lengang. Tak ada rumah di sepanjang jalan itu. Mereka memasuki area persawahan Indrapuri. Hanya ada tiga mobil dan satu Tank di arus Medan-Banda Aceh. Mobil yang dikendarai Hotli berada di posisi paling depan. Di tengah sebuah mobil panser tak diketahui penumpangnya. Di posisi ketiga mobil yang ditumpangi Yayan cs. Dan Paling belakang Tank TNI.

Mobil tumpangan Yayan berniat mendahului Panser di depan mereka karena tak mau berada jauh di belakang. Baru hendak menyalip setengah badan Panser tiba-tiba terdengar suara tembakan dari arah kiri jalan. Mobil tumpangan Yayan pun berhenti. Hotli di depanpun ikut berhenti mendengar kegaduhan itu. Dia berjarak sekitar 70 meter dari mobil tumpangan Yayan.

Orang di dalam Panser membelas serangan. Yayan dan wartawan lain segera turun dari mobil, takut ada peluru menyasar ke mobil karena pasti orang di dalamnya akan terkena peluru itu. Ketika Yayan dan wartawan lain berlari ke seberang jalan Hotli sudah siaga dengan kameranya dan berhasil mendokumentasikan peristiwa itu tepat saat Tank bergerak ke arah para wartawan.

Yayan cs berusaha mencari tempat berlindung. Berlari ke arah kanan jalan. menuju persawahan dengan maksud bedeng sawah sebagai tameng mereka. Tingginya jalan dari sawah menguntungkan para wartawan. Di sanalah mereka tiarap hingga datang tambahan personil tentara membalas tembakan. Aksi itu berlangsung sekitar 15 menit.

Usai kotak senjata itu, tentara tak lantas membiarkan lawannya pergi begitu saja. Ada kegiatan menyisir ke dalam kampung dengan harapan dapat menemukan pelaku penyerangan itu.

Waktu memeriksa kampung itu, tentara menemukan satu meunasah yang memiliki jejak kaki kotor-kotor di lantai menasah. Ketika menginterogasi, tak satupun warga yang mengaku melihat orang bersenjata tersebut berlari ke dalam meunasah.

Kalau benar dugaan tentara bahwa kelompok bersenjata itu lari ke dalam menasah, ujar Yayan, mungkin warga di dalam menasah itu memang tidak melihat atau menghiraukannya karena sedang melaksanakan ibadah shalat Dhuhur.

Ada satu keistimewaan bagi masyarakat kampung ketika kegiatan interogasi yang dilakukan tentara ditemani para wartawan. Tak ada warga yang dianiaya selagi pemeriksaan dilakukan. Biasanya jika wartawan tidak ada, warga kerap mendapat tindakan kekerasan, ancaman atau sejenisnya.

Yayan bangga bisa menjadi wartawan acehkita. Dia sendiri mengajukan diri untuk bergabung dengan media alternatif itu. Tak ada penugasan khusus dari acehkita untuk dirinya. Hanya saja, Yayan muda sadar akan penderitaan korban konflik. Menyediakan diri menulis tentang nasib mereka, itulah hal terbaik yang bisa dilakukannya untuk Aceh. []

ADI WARSIDI | DESI BADRINA | TEUKU ARDIANSYAH (KAKI LANGIT)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Kabar dari ACEHKITA

Advertisement

ACEHKITA TV

Trending

Kolom

cermin

Kolom

Cermin

By Nov 22, 2017

Kuliner

Facebook

CREW AK

To Top