Kisah Hadiah Sang Laksamana

0
340
Kisah Hadiah Sang Laksamana
Warga berfoto dengan latar Lonceng Cakra Donya di pekarangan Museum Aceh. (Foto: Khiththati/Acehkita.com)

BERKENDARA di jalan Sultan Alauddin Mahmudsyah Peuniti, jarang rasanya pengendara melirik ke arah Museum Aceh. Keramaian setiap harinya di pusat kota Banda Aceh membuat banyak mata pengendara lebih konsentrasi di jalan. Puluhan tahun berlalu. Ia tetap sendiri di tengah keramaian peradaban kota.

Datang dari negeri yang jauh. Melintasi samudra. Datang sebagai lambang persahabatan. Cakra Donya namanya. Berasal dari Tionghoa dihadiahkan oleh penguasa Dinasti Ming untuk Kerajaan Pasai.

Lonceng besar itu tergantung tepat di depan museum Aceh. Lama ia berhenti berbunyi. Mitosnya dahulu ketika Kerajaan Aceh Darussalam berjaya gemanya memberi pertanda waktu untuk shalat telah datang di dalam komplek keraton.

“Ada sumber yang mengatakan bahwa lonceng itu diserahkan kepada Kerajaan Pasai, sebagai lambang persahabatan dibawa dari China menggunakan kapal Cheng Ho sekitar tahun 1414 M,” ujar Nurdin AR, Dosen Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry, beberapa waktu lalu.

“Laksamana Cheng Ho memang memiliki tiga gudang Trans di kawasan Selat Malaka ini, yang pertama Malaka, Pasai dan Cirebon,” tambah Nurdin AR, sambil tersenyum. Nurdin AR dulunya pernah menjabat sebagai Kepala Museum Aceh.

Nama Cakra Donya pernah disebut dalam etos kepahlawanan Rakyat Aceh dalam Hikayat Malem Dagang. Alkisah Malem Dagang menyebutkan di dalam kapal perang Cakra Donya ada tiga buah lonceng. Gema anak gentanya dapat didengar dari kejauhan selama tiga hari perjalanan. “Akida Toj Oemoe, Khojran Kathiran dan Toela’ mara” itu nama yang disematkan padanya. Masyarakat Aceh kala itu percaya lonceng Cakra Donya yang ada di Kuta Raja salah satu di antaranya.

Lonceng Cakra Donya merupakan stupa dari besi yang berbentuk mahkota. Lebarnya 75 cm dan mempunyai tinggi 125 cm. Berdasarkan catatan sejarah bahwa lonceng ini ditempah sekitar tahun 1409.

Walaupun pada buku yang ditulis oleh Kremeer yang berjudul Aceh, dikatakan bahwa lonceng ini dibuat pada tahun 1464. Snouck Hurgronje dalam buku The Achehnese II juga menulis yang sama.

“Walaupun ada penelitian beberapa tahun lalu yang dilakukan oleh orang Jepang, menyebutkan lonceng ini sangat mungkin di produksi tahun 1464,” papar Nurdin AR. Menurut Nurdin hal itu dikarenakan ada beberapa gambaran bahwa lonceng Cakra Donya memiliki kesamaan dengan beberapa lonceng di Jepang yang juga dibuat pada tahun tersebut. “Untuk hal ini memang memerlukan penelitian lebih lanjut,” sambungnya.

Beberapa sumber sejarah menyebutkan Laksamana Cheng Ho melakukan tujuh kali perjalanan ke Nusantara dan menyempatkan diri singgah di Samudra Pasai. Bandar ini saat itu sibuk dan menjalin banyak hubungan dagang internasional. Pada pelayarannya yang keempat, Cheng Ho membawa serta lonceng ini pada Sultan Zainul Abidin. Ma Huan yang berlayar dengan Cheng Ho mencatat lengkap kisah perjalanan ini.

Tidak banyak rekaman bagaimana lonceng ini kemudian bisa dibawa dari Samudera Pasai ke Aceh Darussalam. Museum Aceh pernah menerbitkan buku tentang Cakra Donya tahun 1980, ditulis oleh seorang Belanda bernama G.I Tichelman. Buku itu kemudian diterjemahkan oleh Rusdi Sufi salah seorang sejarawan Aceh. Naskah asli tentang lonceng ini berbahasa belanda yang telah dimuat dalam De Indische Gids I diterbitkan di Amsterdam tahun 1939 oleh N.V Drukkerij en Uitgeverij T.H Bussy.

Diceritakan lonceng itu sempat berada dalam kapal perang yang bernama Cakra Donya. Saat itu merupakan kapal perang terhebat. Kala kerajaan Aceh Darussalam melawan Portugis di Malaka pada masa Sultan Iskandar Muda.

Kapal Cakra Donya ini diibaratkan kapal induk armada Aceh kala itu. Berukuran sangat besar sehingga Portugis menamakannya “Espanto Del Munda” yang berarti teror dunia.

Menurut catatan Rusdi Sufi, dulu lonceng ini digantung dekat salah satu makam sultan dengan menggunakan rantai. Tergantung di sebatang pohon Ba’ Gloendong (Pohon Kuda Kuda) sampai tahun 1915. “Mitosnya dulu dibunyikan jika ada kabar penting dari sultan dan waktu shalat, setelah ada bunyi itu orang-orang di sekeliling keraton segera berkumpul,” tulisnya.

Masjid yang dimaksud di sini adalah Masjid Baiturrahim yang berada dalam komplek Darul Dunia, bukan MAsjid Baiturrahman yang berada di luar pekarangan keraton.

Anak genta lonceng kini telah hilang dan sejak tahun 1915, tidak ada seorang pun yang pernah mendengarkan suaranya lagi. Orang yang diketahui memukulnya untuk terakhir kali adalah Boedjang Ma Asan. Desas-desus menyebutkan bahwa anak lonceng ini hilang dicuri saat kerajaan mulai melemah.

Ketika keraton telah dikuasai oleh Belanda, gubernur sipil dan militer Aceh H.N.A Swart memindahkan lonceng karena khawatir pohon akan patah. Pemindahan ini dilakukan oleh para pekerja asal China di bawah pengawasan A Fie.

Masih menurut catatan Rusdi Sufi, awal abad ke-20 lonceng hendak diturunkan oleh pekerja dari Tionghoa. Walaupun ada orang Aceh di situ, namun mereka tidak ikut serta disebabkan mereka percaya bahwa lonceng itu didiami oleh mahluk gaib.

Segera setelah diturunkan lonceng itu diletakkan di tanah. Tak lama kemudian hujan turun dengan deras langsung menggenangi Kuta Raja. Banjir besar pun terjadi. Sejarah mencatat air bah itu terjadi tahun 1915. Saat banjir besar melanda Kuta Raja datanglah utusan orang tua Aceh yang terdiri dari laki-laki dan perempuan menghadap Gubernur Swart. Mereka mengatakan perlakuan buruk terhadap lonceng telah membuat banjir besar.

Protes ini kemudian ditanggapi oleh gubernur dengan memindahkan lonceng ke tempat yang lebih layak, dan menggantungkannya di bawah Rumoh Aceh yang ada di Blang Padang.

Namun banjir besar kembali terjadi pada tahun 1916, dan para penduduk masih percaya bahwa lonceng belum ditempatkan dengan baik. Akhirnya lonceng dipindahkan ke lokasi sekarang di komplek Museum Aceh atau di dalam bekas Komplek Keraton Kesultanan Aceh Darussalam.

Saat dibersihkan sebelum digantung di lokasi Rumoh Aceh, pada bagian luar lonceng ditemukan ukiran hiasan-hiasan dengan simbol-simbol Arab dan huruf-huruf China. Namun simbol-simbol tersebut sebagian telah aus dan inskripsi-nya tidak dapat dibaca lagi. Dipercaya bahwa ukiran itu dituang dengan cairan emas.

Ada ukuran Hanze’ atau Hanja, aksara Tiongkok dalam lonceng. “Sing Fat Niat Toeng Juut Kat Yat Tjo” diartikan sultan Sing Fat yang telah dituang di dalam bulan 12 dari tahun ke-5. Huruf Arab yang tertera di situ juga memudar dimakan usia.

Lonceng Cakra Dunia tidak lagi terawat dengan baik kala kerajaan Aceh Darussalam menghadapi perang berkepanjangan melawan Belanda. Ia kini menjadi salah satu koleksi Museum Aceh. Tergantung pada sebuah bangunan kecil beratap di depan komplek Museum Aceh. Tak jarang ia terlewatkan, tanpa perhatian.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.