Connect with us

Kisah Korban Banjir Menjelang Maghrib

Feature

Kisah Korban Banjir Menjelang Maghrib

TANGSE | ACEHKITA.COM – Asiah, perempuan 49 tahun itu tegar berdiri di atas material lumpur dan bebatuan yang menimbun rumahnya di Desa Ranto Panyang, Kecamatan Tangse, Pidie, Senin, 27 Februari 2017.

Lumpur dan bebatuan yang menimbun rumah Asiah merupakan material banjir bandang yang terjadi Minggu sore kemarin. Selain itu, banjir bandang turut menghanyutkan kayu besar.

Kedua tangannya kosong, ia tak memegang apa pun. Barangkali, Asiah tak tahu mesti mengambil barang apa lagi di ruangan rumahnya. Semuanya telah sirna, lenyap bersama material banjir yang menerjang rumahnya Minggu sore menjelang Maghrib.

Sesekali ia membetulkan kerudung merah yang dikenakannya. Matanya tampak sembab. Asiah perlahan mengeluarkan suara. Ia mulai bercerita saat pertama sekali banjir menghempas seisi rumahnya.

“Pertama sekali air turun dari gunung setinggi mata kaki, saat itu masih benar-benar air, belum ada lumpur atau batu,” kata Asiah.

Tak lama kemudian, air perlahan mulai menemukan celah sehingga masuk ke dalam rumah Asiah. Rumah Asiah dihuni oleh lima anggota keluarganya. Salah seorang anaknya baru saja mengalami kecelakaan lalulintas beberapa hari lalu.

Anaknya tersebut luka parah, kakinya patah. Sehingga ia belum sembuh untuk berjalan. Hingga air banjir masuk ke dalam rumah, ia masih tidur di ruang tamu rumahnya.

Tetangga Asiah lainnya telah keluar dari rumah masing-masing bersama sanak keluarga mereka menuju tempat yang lebih aman. Perasaan Asiah bertambah gundah melihat anaknya yang belum mampu menggerakkan langkah.

Sekuat tenaga, Asiah mengangkat tubuh anaknya ke atas punggungnya. “Saya tak kuat, namun dalam hati saya terus berdo’a agar Allah memberi kekuatan kepada saya,” kisah Asiah.

Tak dinyana, Asiah dan anaknya yang sakit berhasil sampai ke luar dari rumah. “Saat di pintu rumah, orang mulai melihat saya tengah berusaha keluar, kemudian barulah saya dibantu mengangkat anak saya untuk mengungsi ke tempat yang lebih aman,” lanjutnya.

Lantas ia kemudian hendak masuk kembali ke rumahnya. Asiah mengaku hendak mengambil barang yang bisa ia bawa lari keluar.

“Saat ingin masuk kembali, air banjir kini semakin deras. Tapi kini bukan hanya air, di sana juga terbawa lumpur dan bebatuan serta kayu,” kata Asiah sambil meyakinkan dengan menunjukkan kakinya yang terkena batu.

Niatnya menyelamatkan barang dari rumahnya pun terkubur dalam-dalam begitu air bercampur lumpur dan bebatuan serta kayu mulai menerjang dinding luar rumahnya yang terbuat dari kayu. Tak lama, satu kayu dinding rumahnya pun patah dan terbawa arus.

Dari sanalah, lumpur dan bebatuan serta kayu menimbun bagian dalam rumahnya. Setelah itu, Asiah tidak melihat lagi keadaan rumahnya. “Saya bersama warga lainnya malam itu mengungsi ke tempat lebih aman,” ujar Asiah.

Tadi pagi, Asiah menapaki kembali rumahnya. Ia tak mampu berkata saat acehkita.com menanyakan kepadanya bantuan apa yang sangat dibutuhkan olehnya. Ia terdiam, meratapi dinding rumahnya yang jebol.

“Hanya baju yang melekat di badan yang tinggal, semuanya telah terkena banjir. Sekarang kalau orang mau bantu, kira-kira apa yang pantas mereka bantu untuk saya?” Asiah menanya balik sambil kemudian melangkah keluar menuju halaman rumahnya yang kini terdapat satu anak sungai kecil.[]

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Feature

To Top