Connect with us

Kisah Orang Baduy Dikerjai Para Calo

Laporan Khusus

Kisah Orang Baduy Dikerjai Para Calo

[vc_row][vc_column width=”1/1″][vc_column_text]PENGANTAR | Ini merupakan kisah suku Baduy Dalam, Banten, yang ditulis Suparta “Ucok Parta” Arz yang tengah mengunjungi daerah-daerah terpencil di Indonesia. Perjalanan yang dinamakan Ekspedisi Indonesia Biru dilakukan bersama jurnalis senior Dandhy D. Laksono (@dandhy_laksono). Selama setahun, dua jurnalis ini melakukan perjalanan jurnalistik dan memotret ragam hal tentang Indonesia: mulai dari budaya, pendidikan, ekonomi, kesenjangan pembangunan, hingga keindahan pariwisata. Kali ini, Suparta menulis dengan baik mengenai suku Baduy yang acap menjadi korban penipuan para calon. []

***

TATAPANNYA tajam. Sebilah golok diselipkan di pinggang. Pakaian putih yang dikenakannya tak lagi bersih. Sehelai kain putih kusam, melilit kepala, menyembunyikan rambut panjangnya. Namun dia murah senyum.

Wajah Sapri, 49 tahun, terlihat lebih tua dari usianya. Kamis (1/1) sore, bapak delapan anak dari Baduy Dalam ini, menemui kami, setelah dihubungi seorang pemuda dari Ciboleger. Sapri datang bersama putra keenamnya, Komong (8).

Dia turun dari permukiman Cibeo, Desa Kanekes, Lebak, Banten. Sekitar 40 menit ia menapaki jalan licin dan curam, melewati gunung dan lembah ke tempat kami, dengan jarak 12 km.

Orang-orang Baduy Dalam masih berpegang teguh pada tradisi nenek moyangnya. Di antaranya; tak boleh beralas kaki dan naik kendaraan. Berbaik budi, jujur dan berpikiran bersih, merupakan bagian ibadah dari kepercayaannya: Sunda Wiwitan. Mereka berkeyakinan bila tidak melasanakan dan melanggar, maka petaka akan menghampirinya.

“Mereka sering dikerjai oleh orang-orang terminal Ciboleger,” terang pemuda Ciboleger non Baduy kepada kami.

Lanjutnya, orang-orang di terminal menjadi calo bagi tamu-tamu yang hendak berwisata ke permukiman Baduy. Kepada mereka, diwajibkan membayar sejumlah uang. Di antaranya untuk membeli sembako, juga uang jasa untuk orang Baduy yang mendampingi dan menggotong barang bawaan selama kunjungan.

“Uang jasa kadang tidak diberikan sama sekali kepada mereka, dan seutuhnya masuk kantong ‘calo’. Jika taupun, orang Baduy tidak berani protes, karena itu mungkin bagian dari berbuat baik,” kata pemuda tadi.

Selain berladang dan mencari madu, Sapri belakangan juga menjadi pemandu wisata ke permukiman Baduy. Bila sedang banyak tamu, ia juga mengajak tiga anak lelakinya, Aldi (25), Asep (15) dan Komong.

Tak heran bila banyak kenalan. Dia juga sering ke Jakarta bertemu kenalannya seraya menjual madu.
Madu yang dibawannya berasal dari lebah liar, dan baru akan diantar ke Jakarta akan jika ada yang memesan minimal 15 botol, dengan harga 50 dan 100 ribu rupiah per botol. Karena hutan Baduy terjaga, stok madu selalu ada.

Bila ke Jakarta, dia selalu mengajak anak sulungya Aldi sebagai teman. Aldi juga sudah memegang handphone agar mudah dihubungi atau menghubungi kenalannya. Tapi jika pulang, alat komunkasi itu dititipkan pada temannya di Baduy Luar. Tidak pernah dibawa ke kampungnya.

Karena berjalan kaki, madu yang dibawa biasanya dititip pada angkutan. Sesampai di Jakarta, baru diambilnya. Jarak 120 km dari kampungnya ke Jakarta bisa ditempuhnya selama dua hari tiga malam. “Kalo ke Jakarta kami lebih banyak berjalan malam, kalau siang aspal juga panas,” candanya.

Dia mengaku di Jakarta sering diajak kenalannya, tidur di apartemen, ke mall bahkan menonton bioskop. Pergerakannya dari satu tempat ke tempat lainnya juga dengan berjalan kaki. Kata Sapri, kalau sudah janjian, biasanya kenalannya menungu di persimpangan, menunjuk arah, kemudian melanjutkan jalan sampai ke tujuan.

Walau sudah sering ke Jakarta dan melihat dunia modern, tidak terbesit keinginan Sapri untuk meninggalkan adat dan budayanya. Dia dan anak-anaknya selalu kembali ke Baduy Dalam: negeri 1001 pantangan.

Catatan: bila ke Baduy ingin dipandu keluarga Sapri, silakan hubungi Aldi : 081513699049 atau 085883879500. []

SUPARTA ARZ (@ucokparta) | EKSPEDISI INDONESIA BIRU[/vc_column_text][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column width=”1/1″][vc_gmaps link=”#E-8_JTNDaWZyYW1lJTIwc3JjJTNEJTIyaHR0cHMlM0ElMkYlMkZ3d3cuZ29vZ2xlLmNvbSUyRm1hcHMlMkZlbWJlZCUzRnBiJTNEJTIxMW0xNCUyMTFtMTIlMjExbTMlMjExZDYzNDA4LjIwNDk4ODAzNTM4JTIxMmQxMDYuMjQwMDU1JTIxM2QtNi42NDUzMjk4OTk5OTk5OSUyMTJtMyUyMTFmMCUyMTJmMCUyMTNmMCUyMTNtMiUyMTFpMTAyNCUyMTJpNzY4JTIxNGYxMy4xJTIxNWUwJTIxM20yJTIxMXNlbiUyMTJzaWQlMjE0djE0MjA3ODA5NzgxNDMlMjIlMjB3aWR0aCUzRCUyMjY1MCUyMiUyMGhlaWdodCUzRCUyMjIwMCUyMiUyMGZyYW1lYm9yZGVyJTNEJTIyMCUyMiUyMHN0eWxlJTNEJTIyYm9yZGVyJTNBMCUyMiUzRSUzQyUyRmlmcmFtZSUzRQ==”][/vc_column][/vc_row]

Continue Reading
Baca juga...
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Laporan Khusus

To Top