Connect with us

Kita Adalah Mante

Foto Repro Youtube

KOLOM KUPI SANGER

Kita Adalah Mante

Terus terang yang membuat ngopi di Warkop Cek Pan dan berdialog dengan pemiliknya menjadi sangat spesial adalah tatkala berbagai isu dibahas dalam segala dimensi. Terkadang agak susah membedakan antara diskursus serius dengan cang panah. Sulit membedakan antara fakta dan fiksi. Kesemuanya dibahas dalam satu paket gado-gado dialog ala warung kopi. Kali ini, Cek Pan punya statemen yang “anti-mainstream.” Ia berpendapat bahwa suku Mante adalah makhluk dari planet lain. “Mungken awak nyan alien.”

Terus terang juga, saat mendengar kata alien tersebut, kopi pahit Arabika Gayo yang awalnya terasa nikmat di lidah, mendadak aneh, seakan-akan ada garam yang ditaburi di dalamnya.

Heboh tentang orang atau suku Mante berawal dari sebuah video yang diunggah pada media sosial yang kemudian menjadi viral dan telah ditonton jutaan orang. Walaupun tidak tidak terlihat jelas wajah manusia yang diduga sebagai suku Mante itu, namun kamera mampu menayangkan kecepatan lari makluk tersebut yang tidak sama seperti manusia biasa. Ia lari dan tak bisa dikejar oleh pengunggah video yang menggunakan sepeda motor trail.

Ada banyak cerita dan diskusi tentang Mante, bahkan sejak ratusan tahun lalu. Baik cerita dari mulut ke mulut, maupun kesaksian orang-orang yang pernah berjumpa langsung dengan anggota suku tersebut yang viral dari mulut ke mulut juga. Belum ditemukan satupun bukti foto atau visual jelas yang mendeskripsikan tentang Mante. Kini berita tentang Mante tidak hanya menyebar di media sosial, tapi media massa baik nasional maupun internasional juga tak mau ketinggalan membahas tentangnya.

Ada pendapat yang menganggap suku ini sudah punah, karena tidak mampu beradaptasi dengan perubahan lingkungan maupun bencana alam, atau perusakan hutan yang sangat masif oleh ulah manusia. Konon, orang-orang Mante hidup di dalam pelosok, hutan, atau pegunungan. Ada juga berpendapat mereka tinggal di gua-gua sempit yang susah didatangi manusia seperti kita.

Kembali ke persoalan bahwa Mante berasal dari planet lain, Cek Pan berusaha memberikan argumen, yang menurut saya sedikit tidak masuk di akal. Tapi karena ia adalah sahabat baik, saya juga berusaha mendengarkan logika-logika yang dipaparkannya.

Awak Mante nyan na keahlian dan teknologi khusus. Na neukalon, larinya aja secepat itu, kereta trail aja gak sanggup kejar. Kiban hana hebat awak nyan.”

Menurut Cek Pan, suku ini juga mempunyai teknologi canggih yang sulit dideteksi manusia normal. Lihat saja, bagaimana kehebatan mereka bisa hidup dan bertahan di gua-gua dalam hutan.

“Bahkan foto satelit yang canggih buatan manusia aja gak bisa menangkap gambar Mante, selain film di Youtube yang direkam secara kebetulan itu. Beutoi kan?

Saya terdiam, tak tahu mau jawab apa. Namun argument Cek Pan mengingatkan saya pada sebuah film berjudul Avatar. Film yang dikombinasikan animasi canggih dan menawan yang dirilis tahun 2009 ini adalah salah satu film yang berpenghasilan terbesar sepanjang massa.

Kisah Avatar mengambil setting suasana pada pertengahan abad 22, di planet Pandora yang merupakan habitan suku Na’vi, makhluk yang menyerupai manusia, namun lebih tinggi dan berkulit biru. Manusia bumi dalam film tersebut menjelajahi Pandora dengan tujuan untuk menambang mineral unobtanium dan menjualnya di bumi.

“Jadi orang Mante yang kemarin tertangkap kamera video, mungkin sedang iseng. Dia sengaja menunggu pengendara sepeda motor itu, lalu mengajak manusia “bercanda” dan beradu kecepatan. Walhasil, kita masih kalah cepat.”

Akhirnya saya cuma tersenyum mendengar imajinasi Cek Pan yang kelihatannya semakin liar.

Seolah-olah sadar akan kekonyolan yang ditimbulkannya, kali ini Cek Pan berusahan bersikap lebih serius. Sambil menggeser kursi mendekati meja, ia menatap saya dengan beda.

“Sebenarnya kita adalah ‘Mante’,” ucap Cek Pan sambil menggerakkan dua jari telunjuk dan tengah, tangan kiri dan kanan, mengisyaratkan tanda kutip.

Oke, saya paham. Memang ada ahli yang bilang bahwa suku asli orang Aceh adalah Mante. Suku ini adalah nenek moyang kita. Tapi saya tidak paham mengapa harus dengan tanda kutip?

“Begini, Mante kita pahami adalah suku terpencil yang hidupnya jauh dari hingar-bingar kehidupan modern, tidak pusing dengan masalah pilkada, tidak perlu koneksi internet, dan…”

“Maksud droe peue?” Saya mulai tak sabar dengan menghentikan kalimat terakhir Cek Pan.

“Sabar Pak Dos, tenang… tenang.”

Pulot panggang yang terhidang sedari tadi di atas meja lalu saya sambar.

Jinoe lon merasa lagee ureueng asing. Kita punya pemerintah, tapi seolah-olah pemerintah itu tak ada saat kita butuh mereka. Listrik mati sehari sampe dua, tiga kali. Lagee ureung jep ubat. Sejak saya masih SMA masalah listrik tidak pernah tuntas. Sementara tarif listrik naik terus tiap tahun.”

Saya mulai paham maksud Cek Pan.

Ia juga berkeluh kesah tentang meroketnya harga-harga barang kebutuhan pokok, bahan baku untuk jualannya di warung makin tak terjangkau. Pedagang kecil seperti Cek Pan merasa sendirian menghadapi berbagai masalah tersebut. Alasan yang sering ditemui yaitu biarkanlah mekanisme pasar yang bekerja. Pemerintah terlalu percaya pada the invisible hand, makanya terkesan lepas tangan. Biasanya mekanisme pasar doyan menggilas kelompok kecil dengan modal tipis. Mekanisme pasar sering berpihak kepada orang-orang yang memiliki modal besar.

Pemerintah lebih sibuk memperkaya diri sendiri, keluarga dan kelompoknya. Pemerintah absen disaat orang-orang seperti Cek Pan membutuhkannya. Ini yang menjadikan Cek Pan merasa seperti suku terasing, menganggap dirinya sebagai “alien”

“Pemerintah hanya hadir lima tahun sekali. Pemerintah hanya “ada” saat pilkada”

Bahkan rencana pemerintah daerah untuk membentuk tim dan mencari orang Mante, menurut Cek Pan, adalah langkah mubazir dan penuh pencitraan. Teknologi canggih saja tak mampu mendeteksi keberadaan mereka secara pasti. Lebih baik pemerintah serius menangani “Mante” yang sudah jelas-jelas berada di depan mata.

“Seharus jih geupeuduli keuureueng-ureueng lagee tanyoe.”[]

*Banda Aceh, 1 April 2017

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in KOLOM KUPI SANGER

To Top