Kopi, dan Jeungki Warisan

0
2050

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM – Lelaki muda itu duduk di sisi tungku perapian. Kedua tangannya bergantian memutar tuas yang tersambung ke tabung besi yang terus menggelinding di atas bara. Sesekali dia menambah kayu bakar, menjaga api tetap menyala rata.

Pekerjaan seperti itu sudah lebih 20 tahun dilakoni M. Nur, warga Lamreung, Aceh Besar, merawat usaha yang diwariskan orangtuanya.

Siang itu, pria 34 tahun itu sedang menggongseng biji kopi milik pelanggannya. Setelah dirasa cukup, tabung diangkat dan penutup dibuka. Dari dalamnya keluar biji kopi yang menghitam bersama gumpalan asap serta aroma khas kopi.

Selanjutnya, kopi diaduk dengan kuning telur dan gula yang telah disatukan. “Sekali gongseng maksimal cuma muat 20 kilogram. Sementara campurannya tergantung permintaan pelanggan,” M. Nur menjelaskan.

Setelah dingin, istri dan saudara perempuannya menumbuk dengan Jeungki, sejenis alat tumbuk tradisional. Di Aceh, jeungki dulunya digunakan untuk menumbuk padi, tepung dan lain sebagainya. Sementara M. Nur kembali pada kesibukan semula.

Pengolahan kopi tradisional itu dirintis oleh orangtua mereka. Dia hanya meneruskan saja. “Jeungki, dapur, dan semua barang-barang di sini masih peninggalan Ayah,” jelas M. Nur.

Bersama enam anggota keluarga besarnya, usaha jasa rumahan milik M. Nur, hanya mampu menumbuk 160 kilogram biji kopi per hari. “Kopi yang sampai ke mari kadang bisa 200 kilo. Yang punya orang-orang warung di Banda Aceh dan Aceh Besar.”

Menurutnya, biji kopi dan bahan campurannya dibawa oleh konsumen. Mereka hanya menggongseng dan menumbuk sampai jadi bubuk, dengan upah jasa lima ribu rupiah per kilogramnya.

Di kala sepi, M. Nur juga menumbuk kopi hasil racikan sendiri untuk dijual pada langganannya. “Tapi selama ini sudah gak sempat, karena banyak yang bawa biji kopi.”

Firman Hamzah, pemilik Warung Sekretaris Bersama (Sekber) Wartawan di Banda Aceh, satu di antara pelanggan setia. Tiap pekan ia membawa 12 kilogram biji kopi Robusta asal Lamno, Aceh Jaya, bersama campurannya ke tempat M. Nur.

Selain untuk usaha warung kopinya, bubuk itu juga dikirim ke luar daerah. “Ada teman buka usaha di Jakarta, tiap Minggu saya kirim 10 kilo.” []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.