Kunker ke Aceh, Kepala BNPB: Gua Ek Leuntie Bukti bahwa Tsunami Pasti Kembali

0
447
Kunker ke Aceh, Kepala BNPB: Gua Ek Leuntie Bukti bahwa Tsunami Pasti Kembali
Kepala BNPB, Doni Monardo, beserta rombongan mengawali kunjungan kerja di Aceh dengan berkunjung ke Gue Ek Leuntie di Kecamatan Lhoong, Aceh Besar, Rabu 7 Agustus 2019. (Foto: Dok. BNPB)

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Doni Monardo, beserta rombongan mengawali kegiatan kunjungan kerja di Aceh dengan menengok sisa-sisa tsunami purba yang ada di Gua Ek Leuntie, Gampong Meunasah Lhok, Kecamatan Lhoong, Aceh Besar, Rabu (7/8). Kegiatan tersebut dilakukan sebagai napak tilas peristiwa-peristiwa tsunami yang pernah terjadi di Aceh dan sekitarnya.

Kepala BNPB bersama iring-iringan rombongan meninggalkan kota Banda Aceh menuju gua ke arah Meulaboh sekitar pukul 06.30 WIB. Setelah tiba di lokasi, Doni langsung memasuki mulut gua horizontal yang berukuran sekitar 5×8 meter dengan penerangan lampu seadanya. Di dalam gua, Doni menemukan beberapa bukti adanya peristiwa tsunami dari berbagai sampel tanah pada kedalaman tertentu yang telah diteliti sebelumnya.

Dari sampel tanah itu didapatkan beberapa lapisan tanah yang dipastikan mengandung endapan pasir dan lumpur yang pernah terbawa masuk ke dalam gua oleh tsunami pada masa lampau. Selain itu, di lokasi yang sama, Doni juga memeriksa kubangan air bawah tanah yang diduga mengandung campuran air tanah dan air laut serta endapan lumpur yang terbawa oleh gelombang tsunami yang pernah terjadi.

Apa yang dilakukan Kepala BNPB tersebut sekaligus untuk mengingat dan belajar dari peninggalan sejarah masa lalu tentang peristiwa alam. Aceh sangat akrab dengan tsunami dan peristiwa itu selalu berulang. Hal itu terlihat dari bukti penemuan yang ada di Gua Ek Leuntie.

“Tsunami pasti kembali, meski hal itu tidak bisa diketahui kapan akan terjadi,” ungkap Doni, seperti dikutip laman resmi BNPB, Rabu (7/8).

Oleh karena itu Doni mengimbau agar warga tidak membangun tempat tinggal di daerah pesisir yang rawan akan tsunami. Mantan Danjen Kopassus itu yakin jika seandainya masyarakat belajar dari masa lalu (Gua Ek Leuntie), maka bisa dipastikan tsunami 2004 lalu tidak akan banyak memakan korban hingga ratusan ribu jiwa.

“Saya harap agar warga tidak lagi menempati lokasi yang berada di zona bahaya. Jika pada saat itu Aceh sadar, maka saya yakin peristiwa seperti 2004 tidak akan banyak jatuh korban,” tambah Doni.

Gua Ek Leuntie menjadi salah satu saksi bisu kehadiran tsunami sejak 7.400 tahun lalu. Bukti-bukti tersebut ditemukan pada lapisan tanah dengan tingkat kedalaman tertentu. Hasil dari penelitian terdahulu berhasil mencatatkan bahwa setidaknya 14 kali kasus tsunami pernah menghantam wilayah Aceh, yang mana peristiwa tsunami Aceh 2004 menjadi episode ke sekian kalinya berdasarkan apa yang ditemukan di Gua Ek Leuntie.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.