Kutu itu Asli Seperti Ganja

0
1225
Zikri Maulana

Di medio 1970an saya masih kanak-kanak. Masa itu anak-anak umumnya berkutu. Orang dewasa juga rata-rata demikian. Tetapi, meski tak mudah mendapatkannya, obat antikutu sudah ada.

Dan, dua kakak perempuan saya paling jijik adik lelaki satu-satunya mereka berkutu. Nah, merekalah yang akhirnya mendapatkan obat antikutu itu.

Setelah kepala saya bebas dari kutu, Ibu tak pernah lagi menelisik kulit kepala saya dengan ujung-ujung jarinya tiap ada waktu, terutama menjelang saya terlelap. Ini membuat saya kehilangan satu sensasi gelitikan kenikmatan ragawi di malam hari di tempat tidur.

Padahal, rabaan jemari Ibu di kulit kepala—sekali-sekali kita merasakan tarikan sekecai rambut saat ibu menghela kutu temuannya, atau memencet sang kutu langsung di kulit kepala dengan kuku jempol jarinya—adalah sesuatu yang luar biasa rasanya, sampai kita jatuh tertidur.

Puluhan tahun kemudian, tepatnya dua sore lalu, saya pulang dari tempat kerja tidak melalui jalan utama, tapi melalui rute perkampungan.

Memasuki kampung ketiga, di pekarangan depan yang luas sebuah rumah, saya melihat tiga perempuan separuh baya sedang duduk di bangku panjang di bawah sebatang pohon rindang di tengah-tengah halaman.

Perempuan yang satu sedang mencari kutu di kepala perempuan yang duduk lebih rendah. Perempuan ketiga mengobrol dengan kedua perempuan itu.

Sepanjang ingatan, selama ini, saya sudah lama tidak melihat perempuan mencari kutu. Maka pemandangan itu menjadi buah pikiran sepanjang sisa perjalanan.

Untuk zaman ini, kemajuan di bidang kosmetika dan farmasi sudah menjawab apa yang harus dilakukan konsumen untuk membasmi kutu di kepala.

Mungkin hanya dengan sekali bilas, secolekan lotion tertentu, sudah membebaskan orang dari gerombolan kutu di kepala.

Lalu, apa yang dicari perempuan tadi di kepala perempuan satunya lagi? Mungkin bukan kutu; lalu, apa? Tidak mungkin, pasti kutu. Saya hafal betul gaya dan posisi duduk perempuan yang sedang mencari kutu.

Lalu, apa arti lotion antikutu yang, tentu saja, di zaman ini, semua orang sudah tahu dan, harganya terjangkau untuk warga dengan tingkat pendapatan terendah sekalipun?

Apa mungkin, di zaman semaju ini masih ada orang yang lebih memilih membiarkan kutu di kepala daripada membasminya dengan mudah, hanya untuk tetap punya alasan menikmati telisikan-telisikan ujung-ujung jemari tetangga di kulit kepalanya?

Pikiran begini tentu terlalu mengeksploitir. Tak mungkinlah senaif itu. Ini seperti kebiasaan berpikir orang sinis yang menganggap bahwa kaum politikus cendrung membiarkan kemiskinan kaum jelata agar orasi-orasi kampanye mereka tetap keramat di setiap momen jelang pemilu. Tak mungkin seekstrem itu. Sentimentil. Terlalu mengada-ngada.

Tetapi, kenapa masih ada kutu di kulit kepala ibu-ibu terkini, yang notabene diwakili oleh ibu-ibu tadi? Kalau dibilang mereka tidak bersentuhan dengan kemajuan, tak mungkin.

Kampung yang saya lewati sudah moderen. Lorong yang saya lewati depan rumah mereka berlapis aspal hotmix. Rumah mereka, meski separuh masih rumah adat (Aceh), bagian depannya sudah dibangun moderen.

Sedangkan kutu, sehemat saya, urusan dengan para predator itu sudah selesai sejak awal 1990-an.

Lalu saya mengajak pikiran berpikir dengan diri sendiri. Bahwa, jika kenyataannya memang benar-benar masih ada orang yang berkutu di zaman seperti ini, apakah saya harus mengubah cara pandang agar tidak lagi mengaitkan antara kutu dengan zaman, antara primitivitas (sebagai bagian dari kebersahajaan mendasar kehidupan manusia) di satu sisi dengan kemajuan peradaban di sisi lain?

Bahwa di belahan dunia yang sudah maju, mungkin masih ada perempuan berkutu; sementara di sebuah komunitas primitif lainnya, perempuan dan anak-anak sama sekali tidak berkutu.

Bahwa, boleh jadi, kutu bukan barometer kemunduran suatu kondisi kehidupan, kesehatan dan peradaban, tapi persoalan kebiasaan dan akhirnya menjadi bagian yang tak terkeluhkan dari eksistensi badani dan penampilan.

Sampai di sini saya juga masih bertanya, misalnya, jika keberadaan kutu di kepala adalah sebuah keluhan, apakah antara suatu keluhan dengan kemudahan mengantisipasinya harus dipisah-pisah?

Kalau memang ya demikian, berarti keluhan tersebut sudah menjadi suatu kenikmatan, di mana, meski perangkat dan teknik untuk mengantisipasinya atau menghilangkannya tersedia dengan gratis di depan mata, toh—dengan sadar atau tidak—kita tetap mempertahankan kekurangan kita, agar punya alasan untuk menggeluh: karena mengeluh memang nikmat.

Pikiran itu mengingatkan saya waktu masa kecil dulu saat dua kakak perempuan menemukan minyak antikutu dan setelah itu saya bagaikan tidak boleh lagi merindukan telisikan-telisikan ujung-ujung jemari Ibu di kulit kepala menjelang tidur di malam hari.

Saat itu terasa betul—meski belum dapat menjabarkannya dalam kalimat-kalimat berpikir yang mewakili realita—bahwa, tatkala ibu tak lagi punya alasan untuk mencari sesuatu yang sudah tak ada lagi di kapala saya, sebuah kenikmatan telah hilang dalam kehidupan kanak-kanak saya.

O-lala, bagai gayung bersambut; atau semesta memang sedang bermain-main dengan faktor kebetulan, pas tiba di kampung—sebelum pulang ke rumah—saat saya sudah duduk selama habis separuh cangkir kopi di warung kopi langganan, seraya berbincang-bincang dengan tiga rekan semeja,—padahal saya samasekali tidak menyinggung apa yang sedang saya pikirkan dalam sepanjang sisa perjalanan pulang kerja tadi, sepertinya ada semacam telepati yang sedang terkoneksi melalui alam bawah sadar—satu di antara tiga teman itu bertanya:

“Mus, kenapa waktu kecil dulu kita tidak ingin kehilangan kutu di kepala? Eh, sorry, sorry. Maksudku, di zaman yang sudah maju, moderen dan canggih dalam segala bidang seperti saat ini, kenapa Aceh masih terkebelakang dan miskin?”

Tanpa mau mempermasalahkan pertanyaan itu dengan argumen tentang korelasi antara kemiskinan dan zaman (moderen), saya hanya singkat menjawab:

“Itu karena kita selalu ingin menikmati garukan-garukan ujung jemari Ibu di kulit kepala. Eh, sorry. Maksudku, itu karena kita memang menikmati keterbelakangan dan kemiskinan. Keterbelakangan, kemiskinan, dan kutu, ketiganya sama dengan ganja. Dia bikin kita terlena sepanjang waktu.” []

Musmarwan Abdullah adalah sastrawan kelahiran Pidie. Buku kumpulan ceritanya yang terbaru berjudul: Dijamin Bukan Mimpi, terbitan Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, tahun 2016. Saat ini sedang menulis naskah kedua Dijamin Bukan Mimpi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.