Lima Bulan Pascagempa, Mahasiswa Al-Aziziyah Belajar di Tenda - ACEHKITA.COM
Connect with us

Lima Bulan Pascagempa, Mahasiswa Al-Aziziyah Belajar di Tenda

Foto Rektor IAI Al-Aziziyah | HALIM MUBARY

Aceh

Lima Bulan Pascagempa, Mahasiswa Al-Aziziyah Belajar di Tenda

BIREUEN | ACEHKITA.COM – Lima bulan pascagempa yang mengguncang Kabupaten Pidie Jaya dan Bireuen pada Rabu, 7 Desember 2017 lalu, proses belajar mengajar pada Institut Agama Islam Al-Aziziyah Samalangan, Bireuen masih berlangsung serba darurat. Mahasiswa harus belajar di bawah tenda bantuan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPN) yang didirikan dibekas pertapakan gedung utama kampus yang runtuh, di Desa Mideun Jok, Mesjid Raya, Samalangan, Bireuen.

Selain belajar di bawah tenda yang berjumlah tiga buah, mahasiswa juga harus belajar balai-balai pengajian milik dayah (pesantren) MUDI Mesra yang tersebar di sejumlah lokasi sekitar bekas kampus. “Ada sekitar 4 ribu mahasiswa aktif di IAI Al-Aziziyah yang saat ini harus melakukan proses belajar mengajar di sejumlah tenda dan balai pengajian yang dipinjam pakai milik dayah MUDI yang berdekatan dengan kampus,” ungkap Rektor IAI Al-Aziziyah Bireuen, Dr Muntasir A Kadir MA kepada acehkita.com, Rabu (19/4).

Kendala lain yang dihadapi, papar Muntasir, selain tenda yang dipakai untuk ruang kuliah yang hanya tiga unit, sedangkan pemakaian balai terkadang juga harus disusaikan dengan jadwal pengajian kitab kuning santri dayah, agar tidak berbenturan jadwalnya. Belajar di bawah tenda dan balai pengajian, tentu tidak akan maksimal dan mahasiswa juga tidak nyaman dengan kondisi yang ada saat ini. Selain itu, untuk keperluan akademik lainnya seperti administrasi dan pelayanan mahasiswa serta aula pertemuan, untuk sementara ini terpaksa menggunakan bangunan perpustakaan yang masih bertahan saat gempa terjadi.

Namun Muntasir tetap berharap adanya bangunanan gedung baru yang representatif yang bisa menjawab semua kubutuhan proses pendidikan dan pelayanan sebuah perguruan tinggi. Untuk memenuhi tatntangan tersebut, pihak terkait agar segera menyahuti kebutuhan yang saat ini dihadapi institusi yang dipimpimnya. “Karena dampak dari gempa hingga saat ini belum sepenuhnya hilang, terutama bagi sebagian dosen dan mahasiswa masih merasakan trauma pascagempa,” kata Muntasir.

Menurut Muntasir, bebera hari setelah gempa, Presiden Jokowi dan sejumlah menteri dan pejabat lainnya pernah mengunjungi kampus. Bahkan Presiden Jokowi sendiri langsung memerintahkan Menteri PU, untuk segera membangun gedung baru sebagai pengganti gedung lama yang runtuh. Lokasinya pun sudah disediakan pihak yayasan lembaga pergurun tinggi agama Islam tersebut, yang berjarak sekitar 200 meter dari bekas gedung lama. “Bahkan untuk lahan dan proses uji kelayakan serta perencanaan bangunan kampus sudah rampung dilakukan oleh PT Wijaya Karya sebagai pelaksana proyek. Tapi hingga saat ini lokasi bangunan yang sudah diberikan batas pagar oleh perusahaan BUMN itu, masih belum dikerjakan,” lanjut Muntasir.

Pihaknya telah bebera kali menghubungi PT Wijaya Karya, namun jawaban yang diperoleh, bahwa proyek belum bisa dikerjakan karena terbentur belum turunnya perintah pelaksanaan proyek dari Kementerian PU di Jakarta.

Bahkan Menteri BUMN Rini Soemarno saat berkunjung ke IAI Al-Aziziyah, dihadapan unsur pimpinan IAI Al-Aziziyah dan Dayah MUDI, tambah Muntasir, pernah menyampaikan agar menjadikan kampus tersebut lebih baik dari sebelumnya. “Bahkan, Bu Menteri juga akan memerintahkan para direktur BUMN untuk memberikan sejumlah fasilitas yang diperlukan bagi kelancaran proses pendidikan dan akademik di kampus tersebut. Namun sejauh ini belum ada bantuan fasilitas yang dijanjikan itu,” ujar Muntasir.

Sementara bantuan fasilitas yang sudah diterima IAI Al-Aziziyah, bantuan 20 unit komputer dari PT Pelindo Cabang Lhokseumawe yang diserahkan beberapa waktu yang lalu, demikian Muntasir.

Sejumlah mahasiswa mengeluhkan situasi ruang kuliah yang tidak nyaman tersebut. Riska Saputri (19) salah seorang mahasiswi jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) membuat kenyaman perkuliahan jauh berbeda dibandingkan saat belajar dalam gedung. “Kadang kalau hujan, tempias air masuk dalam tenda dan membasahi kami. Sedangkan kalau matahari terik, hawanya panas karena tidak ada kips angin.

Hal senada diungkapkan Safriana (19), mahasiswi asal Kota Lhokseumawe belajar di tenda membuat dirinya kurang focus, karena adanya sejumlah gangguan seperti suara berisik dari kendaraan, atau malah ada kambing yang tiba-tiba masuk ke dalam tenda. “Tapi mau bagaimana lagi, ini semua menjadi pelajaran berharga bagi saya dan teman-teman lainnya dan semangat kuliah tidak boleh hilang,” ujarnya.

Baik Riska dan Safrina tetap berharap agar segera dibagun gedung baru agar proses perkulaihan bisa berjalan secara maksimal.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Aceh

To Top