Connect with us

Mahasiswa Singapura Garap Film Peumulia Jamee

Film

Mahasiswa Singapura Garap Film Peumulia Jamee

LHOKSEUMAWE | ACEHKITA.COM — Mahasiswa dari Nanyang Technological University (NTU) Singapura tengah menggarap film dokumenter bertemakan “Peumulia Jamee”. Film ini digarap setelah mereka melihat ketulusan masyarakat Aceh menyambut dan membantu imigran Rohingya dan Bangladesh.

Empat mahasiswi dari Jurusan Komunikasi, Nanyang Technological University Singapura itu tertarik untuk memfilmkan tentang salah budaya masyarakat Aceh; Peumulia Jamee.

Dikarenakan implementasi budaya memuliakan tamu ini, terlihat dari bagaimana masyarakat Aceh menyambut kedatangan para pengungsi etnis Rohingya dari Negara Burma beberapa waktu yang lalu.

Sementara saat itu, banyak negara justru menghalau para pengungsi Rohingya agar tidak mendarat di negara mereka.

Keempat mahasiswi asal Singapura ini, Chiewy, Jade, Clarissa, dan Aileen. Mereka mengakui kepedulian dan rasa sosial warga Aceh sangat tinggi.

“Kami banyak membaca dari media, bagaimana nelayan Aceh dengan heroiknya menolong para pengungsi ini di tengah laut dan kemudian membawanya ke daratan Aceh. Di sini masyarakat Aceh lainnya juga menerima dengan penuh rasa kekeluargaan, menyambut, memberikan bantuan dan menerima mereka layaknya tamu. Para pengungsi begitu dimuliakan,” kata Chiewy, saat bekunjung ke shelter yang dibangun Aksi Cepat Tanggap (ACT) di Desa Blang Adoe, Kecamatan Kuta Makmur, Aceh Utara, Jumat (11/12/2015) Kemarin.

Apa yang masyarakat Aceh lakukan terhadap para pengungsi ini, kata Chiewy, ternyata menjadi bagian dari budaya peumulia jamee.

“Karena itu kami ingin membuatnya menjadi sebuah film dokumenter. Film ini nantinya menjadi tugas akhir kami sebagai mahasiswi di NTU,” tambahnya.

IMG_9634

FOTO: IST

Di ICS Blang Adoe, keempatnya mewawancarai sejumlah relawan, yang selama ini menghabiskan waktu di sana dan terlibat langsung dalam penanganan pengungsi etnis Rohingya.

Banyak sekali tantangan yang dihadapi pada saat awal penanganan, karena adanya perbedaan bahasa, budaya dan karakter antara para peralawan yang merupakan warga Aceh dengan pengungsi Rohingya.

Para mahasiswi ini juga mengapreasiasi, karena para relawan memilih menghabiskan waktu untuk orang lain, tidak semata untuk kepentingan dirinya.

Belakangan ini, kata Chiewy, ketika dia melihat ada orang yang berbuat untuk kebaikan hidup orang lain, itu menjadi hal yang menyentuh hatinya.

Untuk menuntaskan film ini, keempatnya juga sudah mengunjungi kamp penampungan Rohingya di Bayeun, Aceh Timur dan Langsa. Mereka akan kembali ke Aceh pada Januari mendatang, setelah membawa materi film yang telah diambil untuk proses editing.

Salah seorang relawan ACT, Laila Khalidah yang diwawancarai untuk proses pembuatan film dokumenter tersebut menyatakan, sangat terkesan dan kagum karena para mahasiswi asing ini justru tertarik dengan budaya masyarakat Aceh.

“Mereka belajar banyak tentang peumulia jamee yang masih terus hidup dalam kehidupan masyarakat Aceh. Hal ini sangat luar biasa, karena mereka sebagai orang luar begitu peka dengan budaya kita,” katanya.

Laila berharap, melalui film yang digarap oleh empat mahasiswi NTU Singapura ini kian menjelaskan kepada warga Singapura dan negara lain betapa masyarakat Aceh memiliki tingkat kepedulian sosial yang sangat tinggi terhadap orang lain, sekali pun orang itu bukan dari bangsanya.

“Seperti mereka memperlakukan pengungsi Rohingya. Semua yang datang adalah tamu dan tamu harus dilayani sebaik mungkin. Ini sangat luar biasa,” jelasnya. []

ZM

1 Comment

1 Comment

  1. Pingback: Pita Rekaman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Film

To Top