Connect with us

Malam-Malam Indah Ramadhan

KOLOM KUPI SANGER

Malam-Malam Indah Ramadhan

Kenangan masa kecil paling indah di bulan puasa adalah saat menjalani malam-malamnya. Ketika SD tiap malam di bulan Ramadhan saya dan Cek Pan selain berbahagia menyambut waktu berbuka puasa, sama seperti orang-orang lainnya, kami juga bersuka-cita menunggu saatnya shalat tarawih tiba. Saat itu, jarak antara rumah kami dengan masjid terdekat yaitu berkisaran satu kilometer. Tidak hanya kami berdua, 8 hingga 10 anak-anak lainnya baik laki-laki dan perempuan ikut berkumpul di suatu tempat untuk sama-sama menuju ke masjid dengan berjalan kaki. Yang membuat kami kompak bisa jadi bukan karena jarak tempuh ke masjid itu, tapi rute antara rumah kami dan masjid masih belum banyak perumahan, tidak ada lampu jalan, alias gelap. “Kegelapan” itulah sebagai pemersatu. Kami mengiringi langkah demi langkah ke masjid dengan suasana riang gembira.

Memori yang paling berkesan, terkadang setelah shalat Isya kami tidak meneruskannya dengan shalat tarawih. Kami lebih senang bermain-main di sekitar masjid, mulai dari kejar-kejar, hingga main sembunyi-sembunyian atau meu’en pet-pet. Kondisi malam menjadikan permainan petak umpet itu menjadi semakin menantang. Sesekali kami bersama anak-anak dari kampung lain mengadakan ujicoba “senjata tempur” tradisional meriam bambu. Cek Pan menurut saya termasuk salah seorang anak jenius, karena ahli merancang beude trieng dengan suara keras dan menggelegar. Sementara saya hanya penikmatnya saja.

Saat pulang dari masjid menuju rumah, adrenaline kami dipacu oleh jalanan tanpa penerang, tak ada lampu jalanan. Cahaya yang membantu hanya bersumber dari beberapa rumah yang tak jauh dari jalanan, dibantu sinar bulan dan bintang. Beberapa dari kami juga membawa senter sebagai alat bantu. Lagi asik-asik berjalan, tiba-tiba terdengar suara seorang teman yang berada di garis paling depan berteriak.

“Ada hantuuuu….”

Sontak, kami yang berada di belakang ikut lari menyusulnya dengan rasa takut, walaupun tidak melihat sosok hantu atau setan yang diteriakkannya itu. Semua berlari sekuat tenaga, sekencang-kencangnya. Selang beberapa puluh meter kemudian, si peneriak kata hantu itu berhenti, sambil tertawa terbahak-bahak. Ia senang karena berhasil menakut-nakuti kami dan bikin rombongan tarawih anak-anak ini lari terbirit-birit. Malam itu ia berhasil menyebarkan berita “hoax” tentang hantu. Kami tidak marah, karena bisa saja saya atau siapa saja melakukan hal yang sama dengannya. Hal itu seakan sudah menjadi kesepahaman bersama, lalu disudahi dengan tertawa bersama, karena setannya memang tidak ada.

Besok malamnya, setelah shalat Isya berjamaah, seorang tengku menyampaikan ceramah yang intinya menjelaskan bahwa selama bulan Ramadhan, maka pintu-pintu neraka ditutup, pintu-pintu surga dibuka, dan setan-setan dibelenggu. Kami berkesimpulan bahwa hantu-hantu yang termasuk dalam keluarga setan pasti ikut dirantai juga. Sejak malam itu, kami tidak takut lagi jika kawan-kawan lain yang menakuti hantu di bulan puasa.

Di masa SMP lain lagi. Kami lebih sering menikmati pasca tarawih dengan mengaji bersama atau tadarus di masjid dilengkapi microphone yang bermuara ke corong toa masjid. Rumah ibadah saat itu ramai dipenuhi anak-anak seusia kami, juga orang dewasa. Memang yang membaca Al Qur’an hanya segelintir orang, lalu bergantian, sedangkan sisanya ada yang hanya berbincang, bersenda-gurau, atau memasak mie instan yang dibeli secara swadaya. Kalau mengantuk, jangan harap bisa tidur dengan pulas. Selalu saja ada cara untuk membangunkan kawan-kawan yang tidur di masjid dengan cara-cara “kreatif,” walau bagi beberapa orang terkesan agak sadis. Malam-malam puasa bagi kami adalah wadah mengasah tilawah sekaligus ajang mengadu keisengan. Masjid di malam puasa selalu ramai tak pernah sepi dari kegiatan menyambut sahur. Menjelang sahur kami pulang ke rumah masing-masing untuk menyantap makanan, modal untuk menahan lapar dan dahaga.

Entah kenapa, kisah-kisah masa kecil menjadi perbincangan kami di Warkop Cek Pan, malam kemarin usai tarawih. Pemicunya boleh jadi saat saya menyaksikan tren tadarus oleh anak muda yang mulai ditinggalkan dan pindah ke meja-meja warkop. Jika dulu yang ada di hadapan adalah lembar-lembar kitab suci, namun kini di depan mereka adalah laptop-laptop atau gadget yang telah terkoneksi internet. Cek Pan serba salah menghadapi dinamika ini.

Kiban lon peuget teuma, gak mungkin kan saya melarang orang-orang muda ini nongkrong di warkop.”

Saya juga tak mungkin menyalahkan Cek Pan, karena pada jam-jam malam seperti inilah ia bisa mengoperasikan warkopnya. Pagi dan siang wajib tutup, kalau membandel siap-siap dibredel. Malam adalah waktu yang penting bagi pengusaha warkop seperti Cek Pan untuk mengumpulkan rupiah demi rupiah untuk menghidupi keluarganya.

Saya menjadi saksi mata melihat anak usia remaja menatap lurus layar laptopnya. Dengan duduk di kursi warkop Cek Pan, mereka seakan-akan sudah berada di mana-mana, menonton film apa saja, bermain dengan apa saja, hingga berkomunikasi dengan siapa saja dari berbagai penjuru dunia. Tren seperti ini seakan tak bisa dibendung di tengah makin pesatnya perkembangan teknologi informasi.

Betul mereka punya teman yang duduk bersebelahan. Namun mata dan perhatiannya tercurahkan pada objek lain yang bukan di sekitarnya, seakan-akan mereka punya dunia lain. Sesekali terdengar suara tawa dan teriakan riang. Teman-teman di sekitarnya bukanlah teman untuk berinteraksi, tapi teman yang bertugas menemaninya mengarungi dunia maya. Pun sebaliknya.

Entah kenapa saya kok justru merasa iba. Saya iba karena mereka mungkin tidak merasakan permainan yang membutuhkan sentuhan fisik seperti main beude trieng, atau meu’en pet-pet. Mereka juga mungkin tidak merasakan serunya menanti sahur di masjid, sambil melakukan “eksperimen-eksperimen” kecil yang diujicobakan kepada siapa saja yang tertidur. Sambil menyeruput sanger racikan Cek Pan, saya berujar kepadanya.

“Ternyata, masa kecil kita lebih indah dan bahagia daripada mereka.”[]

Fahmi Yunus adalah pengajar pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, UIN Ar-Raniry, peneliti pada ICAIOS dan CENTRIEFP, Banda Aceh. E-mail: fahmiyunus@gmail.com

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in KOLOM KUPI SANGER

To Top