Connect with us

Masih Soal Kabut Asap di Kalimantan

Laporan Khusus

Masih Soal Kabut Asap di Kalimantan

BANDA ACEH — Tim Ekspedisi Indonesia Biru masih bergelut dengan pekatnya kabut asap di Kalimantan. Tiba di Sampit, Kalimantan Tengah, Dandhy dan Suparta disambut kabut asap.

Berikut catatan Ekspedisi Indonesia Biru selama berada di Kalimantan.

Sepanjang 210 kilometer sejak meninggalkan Palangkaraya (Kalimantan Tengah) hingga Sampit di Kabupaten Kotawaringin Timur, kami tak jeda mendapati kabut asap.

Kabut asap sedikit menipis di wilayah Kabupaten Katingan, namun memburuk di perbatasan Kotawaringin Timur hingga ibukota Sampit.
Foto-foto ini diambil sekitar jam 13.00-14.00 WIB.
Perbaikan jalan di beberapa titik memperburuk kualitas udara akibat debu. Kabut asap yang kami dapati di kabupaten berpenduduk 370 ribu jiwa ini, bahkan lebih pekat daripada Palangkaraya, sehari sebelumnya, saat BMKG menghentikan publikasi kadar pencemaran udara setelah nyaris menembus 2.000 ugram/m3 (batas normal hanya 150 ugram, dan dinyatakan sangat berbahaya di level 400).

Namun usai petang hingga malam hari, kabut asap sempat surut di Sampit, dan kembali datang pagi ini (Rabu, 21/10/2015).

Lalu, Dandhy merilis catatan lain soal cara pandang kabut asap ini:

Sekadar memberi gambaran bagaimana kabut asap dilihat dari “point of view” kami sepanjang perjalanan melintasi trans Kalimantan.

Kepekatan seperti ini rata-rata telah kami dapati sejak di Kabupaten Tabalong (Kalsel) hingga Sampit (Kalteng) sepanjang 628 km.

Ini kira-kira separuh pulau Jawa, seperti dari Jakarta hingga perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur dengan visual seperti ini.

Kabut yang lebih tipis sudah terasa sejak Samarinda-Balikpapan-Banjarmasin.

Total trans Kalimantan yang telah kami lalui sejauh ini 961 kilometer.

Asap masih akan menghadang Ekspedisi Indonesia Biru selama berada di Kalimantan, belum ada tanda-tanda akan berakhir petaka asap ini. []

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Laporan Khusus

To Top