Connect with us

Matematika & Pendidikan Karakter

Kolom Fakhrurradzie Gade

Matematika & Pendidikan Karakter

Matematika & Pendidikan Karakter

Saiful Mahdi*

 

Seorang professor bidang Fisika yang cukup terkenal menyampaikan kegeramannya pada kondisi pendidikan dasar di Aceh. “Banyak mahasiswa di PT yang belum menguasai Matematika Dasar. Banyak yang belum bisa menghitung 1/7 + 2/8, misalnya. Mereka seharusnya belum lulus SMP, tapi toh mereka telah diterima di PT. Menurut saya ini adalah kezaliman!”

Di kesempatan lain, saat melakukan kunjungan ke sebuah SD darurat pasca Gempa Pidie Jaya, saya sendiri mengamati ada guru yang mengajarkan hitungan seperti di atas dengan cara yang salah. 1/7 + 2/8 ditulis sang guru sama dengan 3/15! Mungkin karena sedang darurat?

Karena sejak SD bermasalah dengan matematika dasar, Sang Profesor berkeyakinan si anak akan terus mengalami masalah di jenjang pendidikan berikutnya. “Bayangkan bagaimana mereka bisa jadi mahasiswa, di bidang eksakta pula! Pasti pusing terus selama mereka kuliah! Ini harus dibereskan sejak pendidikan dasar, karena ini menyangkut karakter” tambah si Prof dengan nada putus asa.

Selanjutnya Sang Profesor menambahkan ekpresi kekesalannya karena kita justru sibuk dengan “Pendidikan Karakter” sehingga sampai muncul sejumlah pelajaran yang ditujukan khusus untuk memperbaiki karakter. Sementara pentingnya matematika makin kabur.

Seorang professor lain dalam diskusi tersebut menambahkan dengan sarkasme: “Apakah kita dulu pernah dapat pendidikan karakter? Tidak kan!? Tapi kita justru lebih prihatin dengan karakter peserta didik sekarang!”

 

Matematika & Pendidikan Karakter

Pulang dari diskusi tersebut, saya terus dibanyangi dengan pertanyaan yang sama. Kenapa kita perlu pendidikan karakter dan apa hubungannya dengan matematika? Kedua professor tersebut sepertinya sepakat bahwa “matematika lebih penting dari pendidikan karakter”. Tentu saja pernyataan seperti ini bisa memancing kontroversi!

Tapi pengalaman membesarkan empat anak di sekolah negeri menunjukkan premis kedua professor itu ada benarnya. Apalagi kalau dibandingkan dengan model “pendidikan karakter” di negeri yang “lebih maju” pendidikannya.

Bisa jadi kedua profesor tersebut ada benarnya. Tapi kebenaran itu dapat berasal dari tiga kenyataan yang berbeda.

Pertama, pendidikan matematika yang baik memang dapat membangun karakter yang baik. Para guru dan dosen matematika yang sudah cukup senior mungkin akan bersetuju dengan ini. Matematika memang bukan sekedar hitung-menghitung. Matematika melatih disiplin, kejujuran, problem solving dan berpikir terstruktur yang sangat diperlukan oleh seorang pembelajar pada jenjang pendidikan berikutnya.

Kedua, pendidikan karakter yang digadang-gadang sebagai “pendidikan karakter” selama ini telah gagal membangun karakter terpuji. Pendidikan Agama dan Pendidikan Pancasila tidak membuat pemeluk agama dan warga negara menjadi lebih terpuji akhlaknya. Kata para ahli pendidikan karena ia hanya sampai pada tahap kognitif, tidak sampai pada tahap afektif dan psikomotorik. Pendidikan karakter yang hanya menambah ilmu tentang karakter baik, tapi tidak membuat anak bersikap lebih terpuji?

Ketiga, karakter tidak berhubungan dengan matematika maupun “pendidikan karakter” yang ada selama ini karena ada faktor lain yang lebih berpengaruh. Misalnya, orang sering menyalahkan minim bahkan hilangnya “keteladanan” sebagai penyebab gagalnya pendidikan karakter bangsa kita.

Tapi premis yang ketiga inipun bisa dengan mudah kita bantah saat kita menemukan banyak anak-anak bangsa yang berkarakter dan sukses yang berasal dari kalangan dan keluarga tanpa teladan atau model yang umum kita bayangkan. Ada anak sukses dari keluarga broken home, keluarga miskin, keluarga dengan orang tua tunggal, bahkan keluarga tanpa orang tua.

Sebagai anak tertua dari orang tua yang hanya tamat SD, saya misalnya tak punya teladan atau “model sukses” untuk diikuti selain dari inspirasi yang bangkit lewat ragam bacaan sejak waktu kecil.

Kalau begitu, bagaimana “karakter baik” harus dibangun?

 

Membangun karakter ala Ki Hajar

Menurut Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Indonesia yang belajar ragam teori, filsafat, dan praktek pendidikan, anak itu seperti selembar kertas yang sudah ada tulisannya. Tapi tulisan-tulisan pada kertas itu masih kabur. Bukan seperti selembar kertas kosong seperti yang sebagian kita hafalkan. Karena itu, pendidikan seharusnya bukan untuk “menuliskan” apa yang kita mau pada “kertas kosong” jiwa anak, tapi adalah “menebalkan” atau “lebih mengaburkan” tulisan-tulisan kabur tersebut.

Tugas orang tua dan pendidik lainnya adalah memastikan karakter baik yang masih kabur itu semakin tebal, nyata, dan kuat. Sebaliknya, kita perlu memastikan “tulisan kabur” yang menunjukkan karakter buruk bisa tetap kabur bahkan terhapus sama sekali.

Pendidikan matematika atau pendidikan apapun lainnya, jika dilakukan dengan benar akan membuat sebagian tulisan kabur yang berisi karakter baik pada anak menjadi nyata dan menguat. Demikian juga sebaliknya, pendidikan yang buruk, dilakukan secara salah, walaupun bernama “pendidikan karakter” sekalipun, akan mempertebal dan memperkuat tulisan kabur yang berisi perilaku buruk dalam jiwa anak.

Belajar dan mengajar Matematika dengan baik akan melahirkan karakter yang baik. Belajar dan mengajar “agama” dengan cara-cara yang salah dan buruk akan melahirkan karakter yang buruk. Walaupun yang diajarkan adalah agama!

Matematika bisa melatih disiplin, kerja keras, kejujuran, problem solving, dan struktur berpikir analitis jika diajarkan dengan baik. Tapi jika saat ujian di sekolah atau saat ujian nasional, guru atau sekolah yang khawatir prestasi matematika siswanya akan mencoreng nama sekolah, sehingga membiarkan bahkan membantu anak-anak melakukan kecurangan saat ujian, maka pendidikan matematika sebaik apapun tak kan bisa melatih kejujuran.

Mungkin yang dimaksud kedua profesor di atas bukanlah hubungan langsung antara pendidikan matematika dan karakter. Matematika sebagai ilmu dasar seperti halnya bahasa, kalau tidak cukup baik dan kuat sejak dasar, dapat mempengaruhi kemampuan belajar seseorang untuk seterusnya.

Dan itu sangat dipengaruhi oleh cara kita melihat “keberhasilan belajar” seorang anak. Banyak anak yang kemudian mendapat label “anak nakal” dus “tidak berkarakter baik” hanya karena dianggap “tidak cukup pintar”. Sayangnya yang dianggap “pintar” seringkali adalah yang “jago matematika”. Karena itu, yang jago matematika sering mendapat pujian, dan yang tidak bisa dapat ejekan. Buktinya kita memuja para pemenang “Olimpiade Matematika”!

Mereka yang sering mendapat pujian sebagai “pintar” atau “jago matematika” akan makin pintar karena “tulisan kabur”, yang sudah ada dari sononya, yang berisi “bisa matematika” terus-menerus ditebalkan oleh stimulus positif. Sebaliknya, mereka yang kita anggap tidak “jago matematika” akan betul-betul tidak jago bahkan bisa benci pada matematika karena tulisan kabur “bisa matematika” terus-menerus kita kaburkan dengan stimulus negatif. Apalagi ketika orang tua atau guru yang melakukannya.

Karena anak bukan kertas kosong. Anak manusia sudah ditakdirkan Tuhan membawa sifat-sifat kemanusiaan: baik-buruk, benar-salah, mulia-nista. Karena manusia adalah manusia. Bukan setan, bukan pula malaikat.

Tapi sifat-sifat kemanusiaan itu semuanya seperti ibarat tulisan kabur pada kertas. Kita hanya bisa ikut membantu menebalkan sifat-sifat baik, benar, mulia, dan mengaburkan sifat-sifat buruk, salah, dan nista.

Kalau sekarang ada masalah dengan “karakter”, bisa jadi karena kita, termasuk lewat pendidikan, telah makin menebalkan sifat-sifat buruk, salah, dan nista pada jiwa anak-anak bangsa kita. Bisa lewat pendidikan matematika dan atau pendidikan agama yang salah, bisa juga karena ketiadaan teladan yang menghapus atau mengaburkan tulisan-tulisan kabur yang ada pada kertas jiwa-jiwa anak kita.

*Saiful Mahdi adalah staf pengajar pada Program Studi Statistika, FMIPA dan peneliti pada Pusat Penelitian Ilmu-ilmu Sosial dan Budaya (PPISB), Universitas Syiah Kuala. Isi tulisan adalah pandangan pribadi. Email: saiful.mahdi@fmipa.unsyiah.ac.id

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Kolom Fakhrurradzie Gade

  • Kolom Fakhrurradzie Gade

    Merokok Haram! Titik!

    By

    Merokok Haram! Titik! Saiful Mahdi* Saya termasuk yan paling senang dengan perhatian pada masalah rokok dan...

  • Kolom Fakhrurradzie Gade

    Iqra dan Media Sosial

    By

    Iqra dan Media Sosial Saiful Mahdi* Belakangan, makin banyak teman yang memutuskan untuk berhenti membuka aplikasi...

  • Kolom Fakhrurradzie Gade

    Singklet Gaki

    By

    Singklet Gaki Saiful Mahdi* Sejak menjelang pelantikan Gubernur/Kepala Pemerintahan  Aceh yang baru, beredar luas di berbagai...

  • Kolom Fakhrurradzie Gade

    Kenangan Idul Fitri di Amerika (3)

    By

    Kenangan Idul Fitri di Amerika (3) Saiful Mahdi* Tahun kedua di US, Ramadhan dan Idul Fitri...

  • Kolom Fakhrurradzie Gade

    Kenangan Idul Fitri di Amerika (2)

    By

    Kenangan Idul Fitri di Amerika (2) Saiful Mahdi* Hingga saat ini kami masih suka terharu dalam...

  • Kolom Fakhrurradzie Gade

    Kenangan Idul Fitri di Amerika (1)

    By

    Setiap menjelang Idul Fitri, kita sering terkenang dengan Idul Fitri-Idul Fitri terindah dalam hidup kita. Selain...

  • Kolom Fakhrurradzie Gade

    Jak Meudagang

    By

    Jak Meudagang Saiful Mahdi* Sikap inklusif dan terbuka atau eksklusif dan tertutup adalah cara kita memandang...

  • Kolom Fakhrurradzie Gade

    Sistem Ekonomi untuk Aceh

    By

    Sistem Ekonomi untuk Aceh Saiful Mahdi* Hidup nelayan di Aceh tak lepas dari peran “toke bangku”...

  • Kolom Fakhrurradzie Gade

    Aceh, Keberagaman, dan Keberagamaan

    By

    Hingga kini kita masih sering mendengar “ACEH” dibentuk dari huruf awal kata Arab, Cina, Eropah, dan...

  • Kolom Fakhrurradzie Gade

    Terorisme & Korupsi

    By

    Terorisme & Korupsi Saiful Mahdi* Dalam beberapa hari ini, ribuan penduduk mengungsi, meninggalkan Marawi, untuk menghindari...

To Top