Connect with us

Menakar Kelebihan Calon Pemimpin

Kolom

Menakar Kelebihan Calon Pemimpin

Walaupun sederhana, warkop Cek Pan sering dikunjungi orang-orang penikmat kopi dan sanger dari berbagai golongan. Mulai dari pedagang kecil, petani, nelayan, kontraktor, mahasiswa hingga pegawai negeri (golongan terakhir ini masuk dalam kategori the most frequent visitor).

Pak Keuchik (kepala desa) atau Pak Camat juga kerap berjumpa dengan para stakeholders di warkop tersebut. Namun, pagi itu tampak beda, karena para calon keuchik yang akan berkompetisi dalam pemilihan pemimpin kampung kami tahun ini duduk satu meja. Tiga meja disatukan untuk mempersatukan enam calon keuchik.

Biasalah, kontestasi yang katanya demokrasi ini sering diwarnai adu strategi, intrik, bahkan tidak jarang berujung pada adu fisik atau saling tonjok. Tujuannya cuma satu, yaitu untuk merebut hati warga desa.

Walaupun saya sering tidak habis pikir, untuk merebut hati kok harus dengan sikut sana-sini, sikat kiri-kanan. Saya jadi ingat sewaktu SMA dulu, perkelahian antar pelajar bahkan tawuran antar sekolah sering dipicu oleh masalah sepele yaitu persaingan “merebut hati” kembang sekolah dan agar terlihat jago.

Keenam calon keuchik (disingkat cake) itu terlihat duduk manis setelah memesan minuman selera mereka. Entah kenapa, mereka meminta saya ikut duduk di forum tak resmi itu. Mungkin karena mereka tahu profesi saya sebagai akademisi, para calon itu meminta saya untuk mengomentari rencana-rencana yang telah dirancangnya.

Salah satu isu penting yang dibahas adalah fenomena yang makin mengkhawatirkan di kampung kami. Gara-gara urusan pemilihan ini warga kampung mulai saling curiga dengan tetangga yang memiliki afiliasi politik berbeda. Kini mulai muncul perselisihan dan pertikaian antar sesama tim sukses dan warga. Gosip menggila, fitnah merajela.

Bahkan wabah penyakit menular yang menyerang anak-anak di kampung kami diduga bersumber dari persaingan “adu ilmu” antar-para dukun pendukung kandidat. Mungkin itu penyebab tidak adanya tindakan serius dari aparat kecamatan untuk mengatasi wabah penyakit, karena mereka takut kena imbas dari lintasan arus ilmu hitam itu.

Saya mulai melakukan analisis SWOT, menggali kekuatan, kelemahan, peluang dan tantangan para cake. Dan saya lebih tertarik untuk menanyai kekuatan dan kelebihan mereka sehingga cukup percaya diri mencalonkan diri menjadi pemimpin.

Dimulai dengan cake pertama, karena beliau adalah keuchik incumbent, jadi saya kasih kesempatan untuk berbicara pertama. Selesai menyeruput jus jeruk yang dihidang oleh Cek Pan, ia mulai cerita.

“Saya ini sudah sangat senior dan capek dengan urusan politik seperti ini. Tapi sanak-saudara dan orang-orang di sekitar saya berhasil meyakinkan bahwa saya masih mampu dan disenangi warga. Jadi kehebatan saya dibandingkan dengan calon lain adalah saya punya kelebihan umur,” paparnya.

Kami semua manggut-manggut. Lalu saya melirik cake kedua, yang sebenarnya wakil keuchik yang sedang menjabat.

“Kalo saya, selain punya banyak toko di kampung ini, lon yakin paling teuga di antara awak di sinoe. Jadi kelebihan saya selain kuat berantam, saya juga punya istri yang lebih banyak dari calon lain,” ujarnya.

Cek Pan sempat melirik saya, entah apa yang dipikirkannya. Memang calon kedua ini dulunya dikenal sebagai guru silat perguruan Cakar Singa. Menurut info terbaru perguruan silat ini juga berkolaborasi dengan perguruan silat top kecamatan, Garuda Sakti Mandraguna yang dulunya dikenal musuh bubuyutan.

Selesai menghabiskan segelas sanger, calon ketiga mulai bicara.

Lon, na chit pengalaman jeut keu keuchik. Kelebihan saya adalah ahli bawa boat, jadi nanti orang kampung kita akan ajak keliling laut naik boat saya. Oya, bagi warga yang mau beli boat, boleh hubungi saya, karena saya punya kenalan dengan produsen boat dari luar kampung kita,” tuturnya.

Calon keempat, yang tadinya memainkan sendok kopinya, mulai unjuk gigi.

“Saya juga punya banyak pengalaman di level kecamatan, sebagai supir Pak Camat. Kelebihan saya adalah punya kenalan di kecamatan. Jadi, buat warga yang mau ke kantor camat, boleh saya temani nanti,” katanya.

Cek Pan, yang sedari tadi ikut mendengar perbincangan ini makin terlihat serius. Ia serahkan tugas melayani pembeli kepada asistennya. Ia fokus pada diskusi calon keuchik.

Calon, kelima belum menyentuh teh dingin di hadapannya.

Kalo saya, jauh lebih berpengalaman dari kalian semua. Bahkan saking berpengalaman, saya sempat menikmati hotel prodeo karena korupsi pengadaan becak. Dan pengalaman korupsi itulah kelebihan saya yang paling hebat. Karena sekarang saya punya keahlian atau skill cara aman korupsi, agar tidak masuk penjara,” katanya.

Kami semua manggut-manggut. Calon terakhir, yang keenam, bersiap-siap setelah menyelesaikan secangkir kopinya.

Lon unik. Menyoe jeut keu keuchik, saya akan bikin warga kampung selalu tertawa. Karena kelebihan saya adalah jago lawak dan bikin orang ketawa. Jadi kalo ada warga yang miskin atau minta bantuan modal usaha, saya akan cerita-cerita lucu sehingga mereka tertawa, lalu pulang dengan riang gembira. Program utama saya nanti sebagai keuchik, namanya JKK, atau “Jaminan Ketawa Kampung,” jelasnya.

Kami semua tertawa. Forum diskusin non-formal yang awalnya terlihat tegang, kini mulai rileks. Tak lama kemudian, satu persatu calon keuchik meninggalkan warung Cek Pan. Mereka pamit.

Sambil membereskan meja, Cek Pan yang tadi lebih banyak diam mulai angkat bicara.

Phon-phon, saya agak bingung mau pilih calon yang mana. Dan jinoe lon tamah mumang. Kini saya tau, bahwa semua cake itu punya kelebihan. Kesimpulan saya, mereka semua punya kelebihan uang, kelebihan umur, kelebihan tenaga, dan yang paling penting kelebihan nafsu.”

“Jeh, kok kelebihan nafsu?” saya heran dengan kesimpulan Cek Pan.

“Jelaslah, kelebihan nafsu di sini adalah nafsu untuk berkuasa, untuk memiliki kuasa lebih, walaupun mereka sudah punya itu sebelumnya. Walaupun mereka gagal bahkan ada yang masuk penjara, tapi mereka ditutupi nafsu yang berlebih untuk berkuasa.”

“Jadi, ini bukan lagi tentang mensejahterakan warga, apalagi memperjuangkan keadilan. Ini adalah tentang bagaimana mendapatkan kuasa untuk bisa berkuasa lagi dan lagi.”

Kesimpulan Cek Pan mengingatkan saya pada salah satu iklan makanan snack anak-anak, “Gak Cukup Satu… Lagi, Lagi, dan Lagi..”[]

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Kolom

To Top