Connect with us

Menanti Hilal di Lhoknga

Warga memantau hilal menggunakan teleskop di Markas Observatorium Hilal Tgk Chiek Kuta Karang, Lhoknga, Aceh Besar, Selasa petang, 15 Mei 2018. Foto oleh Habil Razali/acehkita.com.

Aceh

Menanti Hilal di Lhoknga

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM – Di lantai dua gedung di tepi pantai Lhoknga, puluhan mahasiswa dan petugas berdiri. Pandangan mereka terus mengarah ke laut di sebelah barat. “Matahari tidak tampak, karena tertutup awan,” kata salah seorang di antara mereka.

Meski tidak tampak apa yang ingin dilihat, sejumlah mahasiswa lain berusaha meneropong menggunakan teleskop. Ujung teleskop tertuju ke arah matahari yang perlahan tenggelam dan tertutup awan hitam.

“Bulannya enggak nampak,” kata seorang pria. Matanya terus mengintip di balik bidikan teleskop.

Selasa petang, 15 Mei 2018, gedung Markas Observatorium Hilal Teungku Chiek Kuta Karang, Lhoknga, Kabupaten Aceh Besar menjadi tempat pusat pemantauan munculnya hilal (bulan sabit) di Provinsi Aceh. Pemantauan hilal dilakukan guna menentukan awal puasa Ramadan pada sidang isbat.

Sejumlah teleskop disediakan di lantai dua gedung itu. Pemantauan hilal selain dilakukan oleh petugas, juga melibatkan warga dan mahasiswa. Hal itu menjadi pembelajaran bagi masyarakat tentang cara penentuan awal puasa Ramadan menggunakan metode rukyat.

“Kita sedang melakukan proses pembelajaran dan edukasi untuk masyarakat umum yang dihadiri oleh semua elemen masyarakat, baik perguruan tinggi, dinas terkait, dan ormas Islam,” kata Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Aceh, Drs HM Daud Pakeh, kepada wartawan di lokasi.

Menurut Daud Pakeh, hal itu dilakukan agar masyarakat paham betul mengapa harus memantau hilal, di mana posisi hilal, dan bagaimana proses penetapan dimulai puasa Ramadan apabila hilal tidak kelihatan.

 

Anak-anak turut memantau hilal menggunakan teleskop. Foto oleh Habil Razali/acehkita.com.

 

Hilal tidak Kelihatan

Hasil pantauan acehkita.com Selasa petang di Lhoknga, pemantauan hilal sempat terhalang karena tertutup awan mendung. Namun, Daud Pakeh memastikan bahwa hilal memang tidak tampak karena bulan sabit masih berada di posisi di bawah nol derajat.

“Pada sore hari ini hilal diperhitungkan tidak terlihat, karena hilal hari ini berada di posisi min nol derajat 29 menit 57 detik,” kata Daud Pakeh.

“Berdasarkan hisab dan perhitungan, maka bulan pada hari ini adalah di bawah nol derajat, jadi tidak akan kelihatan.”

Meskipun tidak kelihatan, kata Daud, pihaknya tetap melakukan pemantauan dengan metode rukyat untuk memastikan awal masuk bulan Ramadan.

Bagaimana jika hilal tidak kelihatan? Daud Pakeh mengatakan jika hilal tidak kelihatan, maka ketentuan agama, bulan Sya’ban disempurnakan menjadi 30 hari. “Ini adalah proses pembelajaran bagi masyarakat.”

 

 

Puasa Dimulai Kamis

Tak lama berselang usai pernyataan Daud Pakeh, dari Jakarta, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengumumkan bahwa pemerintah menetapkan 1 Ramadan tahun ini dimulai pada Kamis, 17 Mei 2018. Penetapan itu setelah dilakukan sidang isbat di Kantor Kementerian Agama di Jalan MH Thamrin, Jakarta.

“Dengan mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim, 1 Ramadan jatuh pada hari Kamis, 17 Mei 2018,” kata Lukman seperti dikutip dari situs resmi Kemenag RI. Dalam penetapan itu turut hadir  Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan pimpinan ormas Islam.

Direktur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah (Urais Binsyar) Juraidi dalam laporan hasil rukyat awal Ramadan mengatakan ketinggian hilal di seluruh Indonesia berada di bawah ufuk. Menurut laporan petugas dari 31 titik rukyat menyatakan tidak melihat hilal. []

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Aceh

Advertisement

ACEHKITA TV

Trending

Kolom

cermin

Kolom

Cermin

By Nov 22, 2017

Kuliner

Facebook

CREW AK

To Top