Connect with us

Mengenal Masjid Ulee Lheu, tak Lekang Diamuk Tsunami

Masjid Baiturrahim Ulee Lheu, Juli 2015 | Foto: AW

Wisata

Mengenal Masjid Ulee Lheu, tak Lekang Diamuk Tsunami

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM – Halamannya tertutup tenda, menghalangi masjid itu dari depan. Warga memadati kursi-kursi di halaman, sebagian tumpah ke luar pagar. Satu spanduk berisi foto-foto tsunami terpacak di jalan masuk.

Hari ini, Masjid Baiturrahim Ulee Lheu kedatangan banyak tamu. Pemerintah Aceh memusatkan peringatan 12 tahun tsunami di sana, Senin 26 Desember 2016.

Salah seorang pengurus Masjid, Subhan mondar mandir mengarahkan tamu. Sejak dari kuburan massal Ulee Lheu, dia dan pengurus lainnya kebagian tugas sebagai tuan rumah. “Nanti juga ada kenduri di sini,” katanya. Sebanyak 17 kuah beulangong disiapkan untuk menjamu tamu.

Subhan adalah saksi hidup, bencana yang menggada Aceh pada 2004 silam. Dia kerap menjadi pemandu, jika ada tamu yang ingin tahu tentang masjid yang tak lekang digulung ombak gergasi.

Masjid Baiturrahim punya sejarah panjang, saksi bisu sejarah Aceh sejak masa perang melawan Belanda hingga bencana tsunami.

Ketika tsunami melumat pesisir Aceh 26 Desember 2004, Ulee Lheu rata tanah. Satu-satunya bangunan tersisa adalah Masjid Baiturrahim. Padahal letaknya hanya terpaut puluhan meter dari bibir pantai. Dari 6 ribuan penduduk di desa ini, separuh lebih menjadi korban. Empat dusun raib ditelan gelombang.

Usai gempa 9,2 skala richter, gelombang raya menerpa daratan. Banyak orang menyelamatkan diri dalam masjid. Hanya sembilan orang yang berhasil naik ke pucuk masjid selamat, selebihnya diseret arus.

Amuk gelombang sangat ganas, tapi di dalam masjid air cukup tenang. “Orang bisa berenang antara tiang ini ke tiang itu, sementara di luar (air) bergulung-gulung sangat ganas,” kisah Subhan sebelumnya kepada kami.

Masjid peninggalan kesultanan Aceh, dibangun sekira abad ke-17 Masehi, semasa Sultan Iskandar Muda (1607-1636 M) memimpin Kerajaan Aceh Darussalam. Masjid dibangun secara swadaya oleh masyarakat di atas tanah yang diwakafkan oleh Teuku Hamzah, seorang Uleebalang di Ulee Lheu.

Pada mulanya masjid ini hanya berkontruksi kayu sederhana dengan arsitektur khas Hindu. Letak bangunannya di samping masjid sekarang, atau tepatnya di pertapakan menara. Saat itu masih bernama Masjid Jami Ulee Lheu.

Nama Baiturrahim ditabalkan setelah Masjid Baiturrahman yang berada di pusat kota, dibakar serdadu Belanda pada invasi tahun 1873 M. Segala aktivitas peribadatan seperti salat Jumat kemudian dipindah ke Masjid Baiturrahim.

Ketika Belanda menyerang Aceh pertama sekali melalui Ulee Lheu, Masjid Baiturrahim merupakan salah satu basis perlawanan rakyat Aceh saat itu. Setelah menguasai Ulee Lheu, Belanda kemudian menjadikan kawasan ini sebagai kota pelabuhan, tempat kapal pengangkut rempah-rempah bersandar.

Belanda ikut membantu pembangunan Masjid Baiturrahim secara permanen dengan arsitektur khas Eropa. Tanpa menggunakan besi dan tulang penyangga, masjid ini dibangun hanya dari tumpukan batu-bata dan semen. Kayu digunakan berasal dari India. Masjid makin terlihat indah dengan ukiran-ukiran bahasa Arab penuh makna di dalamnya.

Hanya bertahan sekitar satu dekade, bagian depan masjid kemudian direnovasi karena dinilai mirip bangunan gereja. Ketika gempa besar melanda Aceh tahun 1983, kubah masjid ini sempat rubuh. Sejak itu masjid ini tak lagi berkubah.

Sepuluh tahun kemudian masjid ini direnovasi besar-besaran, diperluas hingga dua lantai, namun bangunan aslinya tetap disisakan yakni pada bagian depan. Hingga bencana maha dahsyat tsunami menerjang, Baiturrahim tetap agung berdiri di bibir pantai Ulee Lheu. []

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Wisata

To Top