Connect with us

Mengenang 13 Tahun Tsunami, Warga Ziarah ke Kuburan Massal

Foto: Habil Razali

Berita

Mengenang 13 Tahun Tsunami, Warga Ziarah ke Kuburan Massal

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM – Warga Aceh mengenang 13 tahun bencana gempa dan tsunami dengan menziarahi sejumlah kuburan massal korban tsunami. Di sana, mereka berdoa dan menaburkan bunga.

Dua kuburan massal korban tsunami paling banyak dipadati penziarah. Di antaranya kuburan massal tsunami di Ulee Lheue, Kecamatan Meuraxa, Banda Aceh, dan kuburan massal di Desa Siron, Aceh Besar.

Pantauan acehkita.com di kuburan massal korban tsunami di Ulee Lheue, warga berdatangan ke sana sekitar pukul 08:00 WIB. Mereka tampak mengenakan pakaian putih. Selain membawa yasin, sebagian warga ikut membawa bunga untuk ditaburkan di kuburan.

Seorang penziarah, Narliani (54 tahun) mengatakan dirinya setiap tahun berziarah ke kuburan massal di Ulee Lheue. Rumah tempat keluarga besarnya sebelum tsunami berada di dekat lapangan bola kaki Desa Ulee Lheue.

Jasad keluarganya tidak ditemukan setelah ditelan gelombang tsunami. Namun ia meyakini jika keluarganya dikuburkan di kuburan massal di Ulee Lheue bersama ribuan korban lainnya.

“Memang setiap tahun ke sini. Karena saya yakin memang di sini. Karena rumahnya dulu dekat sini,” kata Narliani kepada acehkita.com, Selasa, 26 Desember 2017.

Narliani mengatakan banyak anggota keluarganya yang meninggal saat tsunami melanda Aceh 2004 silam. Dari tujuh bersaudara, kini ia tinggal berdua dengan kakaknya. “Lima saudara kandung yang hilang.”

Hingga kini, warga Geuceu Meunara ini tidak bisa melupakan kejadian pahit itu. Trauma berat ia rasakan. Bahkan, sejak tsunami terjadi sampai hari ini, ia mengaku tidak lagi melihat laut.

“Saya tidak bisa lagi melihat laut. Setiap melihat ombak, hanya tsunami yang terbayang,” kata Narliani.

Walikota Banda Aceh, Aminullah Usman ikut hadir dan menaburkan bunga di kuburan massal korban tsunami di Ulee Lheue. Ia mengatakan musibah gempa dan tsunami yang pernah melanda Aceh harus dijadikan iktibar (pengajaran).

Menurutnya musibah gempa dan tsunami sebagai dan bukti kebesaran Allah yang ditujukan kepada hambanya.

“Terhadap musibah ini kita tidak bisa menghindari, namun ada beberapa langkah kita untuk menimalisir dengan beberapa macam upaya yang dilakukan,” kata Aminullah.

Meski musibah tidak bisa dihindari, kata Aminullah, upaya menimalisir di antaranya mempersiapkan berbagai jalur evakuasi. Sehingga, lebih mudah menyelamatkan diri ketika bencana terjadi. Selain itu, di Banda Aceh juga telah dibangun sejumlah escape building (bangunan untuk evakuasi).

“Kita harus menguatkan keimanan dan diri kita dengan penerapan syariat Islam. Sehingga kita dijauhkan dari segala musibah,” katanya. “Coba kita mulai menempuh hidup baru dengan semangat baru, sehingga kita keluar dari kesedihan bencana yang telah kita hadapi.”

Aminullah mengharapkan warga Aceh agar terus bangkit. Ia mengajak warga untuk melihat dan membantu orang-orang yang masih lemah dan masih membutuhkan perhatian dan dorongan. “Agar kita lebih bangkit menuju kota yang gemilang,” kata Aminullah. []

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Berita

To Top