Connect with us

Menjaring Suara dari Dunia Maya

Teknologi

Menjaring Suara dari Dunia Maya

AYAT suci masih sayup terdengar. Hitungan menit imsak tiba. Namun Suadi Sulaiman, calon legislatif (caleg) dari Partai Aceh itu, masih sibuk ‘kursus’ menata situs pertemanan barunya di facebook.com.

“Ajari saya, ini capek saya buat, tapi tidak bisa-bisa,” seru caleg untuk Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Pidie itu pada Misdarul Ihsan, caleg dari Partai Suara Independen Rakyat Aceh (SIRA). Imsak tiba, pengusaha muda perkebunan pisang asal Laweung, Pidie, itu sukses membuat situsnya.

Ihsan sendiri sudah sejak pertengahan September lalu mengikut jejak Senator Barack Hussein Obama, kandidat presiden Amerika Serikat dari Partai Demokrat dalam pemilu mendatang. Dia yang juga menggunakan facebook sebagai media kampanye. Di header situs ia menulis, ‘Misdarul Chek Ihsan for Aceh’s Parlemen 2009.’

Pemuda baru berusia 25 tahun, mengaku terjun ke politik untuk membalikkan asumsi politik itu kotor, kejam dan hanya diurus orang tua. Facebook, bagi Direktur Radio Citra Pesona ini ladang menjaring pendapat pengguna internet. “Setidaknya bisa memberi solusi bagaimana membangun Aceh!” kata caleg untuk Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) dari daerah pemilihan NAD 7.

Menariknya, sokongan yang diraup dari dunia maya juga berasal dari teman. Ia mengklaim officers yang bakal mengantarnya ke gedung parlemen terdiri dari fotografer, editor, pemilik media, sampai pegiat informasi teknologi. Sejumlah nama wartawan senior masuk dalam lingkar penyokong.

Hal serupa juga ada di facebook Oki Rahmatna Tiba, 25 tahun, caleg dari Partai Aceh untuk DPR Kota Banda Aceh. Politisi muda ini tak hanya mendapat senda gurau dari rekannya, bahkan ada yang mempertanyakan program.

“Bung Oki, apa yang anda perjuangkan untuk kebebasan pers?” tanya seorang pengunjung situsnya. Pertanyaan itu tak sempat dijawab. ”Koneksi internetku masih jelek,” dalihnya ketika dikonfirmasi ACEHKINI, 22 September lalu. Bila sudah begini, pertemuan langsung lebih mujarab.

Ia mengaku akan memperjuangkan kebebasan pers di parlemen kota. “Selama ini kan DPR Kota Banda Aceh masih tidak terbuka dengan wartawan. Nanti harus ada media center,” terang Oki.

Jamak janji para politisi, Oki juga mengaku menempuh jalur politik untuk melakukan perubahan secara langsung. Menurutnya, kebebasan politik yang diperoleh masyarakat Aceh usai konflik harus dimanfaatkan dengan baik.

“Sudah saatnya orang muda ambil bagian, sebagai generasi penggerak perubahan dalam peta politik di Aceh,” ujar putra almarhum Sofyan Ibrahim Tiba, sang juru runding Gerakan Aceh Merdeka (GAM) ketika masa Cessation of Hostilities Agreement (CoHA).

Terlepas ada tidaknya facebook, keterlibatan kaum muda dalam pemilihan umum (Pemilu) 2009 terbilang signifikan. Yarwin Adidarma, Ketua Kelompok Kerja Pencalonan Komisi Independen Pemilihan (KIP) Aceh, mayoritas caleg memang berusia antara 21 sampai 30 tahun.

Partai lokal, pendaftar caleg muda terbanyak. Disusul kemudian, partai nasional baru. Dalam persyaratannya memang disebutkan, bahwa batas minimal bakal caleg adalah 21 tahun. ”Mungkin mereka butuh orang-orang yang memiliki semangat, makanya dipilih yang muda-muda,” katanya.

Yarwin mencatat, setidaknya dari 1.387 caleg yang memperebutkan 69 kursi dewan propinsi, 40 persen di antaranya terbilang caleg usia muda. Menurutnya, kemungkinan pengurus partai memilih anak muda juga atas pertimbangan idealisme.

Ansharullah, 23 tahun, caleg dari Partai Keadilan Sejatera (PKS), sependapat. Baginya, inilah waktu kaum muda memberikan sumbangsih untuk daerah. Salah satu cara menata Aceh lebih baik dapat dilakukan dengan menjadi anggota parlemen.

”Awalnya saya sempat menolak, tapi karena niat saya begitu kuat untuk bisa berbuat lebih banyak buat masyarakat, akhirnya saya memutuskan bersedia menjadi caleg,” kata mahasiswa jurusan Matematika, Fakutas Tarbiyah, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ar-Raniry ini.

Menurut Ansharullah, parlemen saat ini bobrok. Anggaran untuk pembangunan Aceh begitu besar, namun sangat sedikit yang dirasakan masyarakat. Ia berjanji, ini akan diubahnya bila menjadi anggota parlemen kelak.

Dia sadar, tak punya bekal pengalaman politik. Pemilu mendatang, baginya juga ajang menimbun pengalaman. “Kalau terus berpikir tidak mampu, kapan lagi bisa berbuat? Ini juga ajang misi untuk perubahan,” ujarnya.

Dekan Fakultas Hukum, Universitas Syiah Kuala, Mawardi Ismail menilai trend masuknya kaum muda dalam kancah politik Aceh adalah sesuatu yang positif. “Saya optimis akan ada perubahan di ranah perpolitikan Aceh, dengan hadirnya para caleg yang masih muda-muda ini,” tegasnya.

Terbukanya kran buat kaum muda ikut bertarung menuju kursi parlemen, ujar Mawardi, adalah hal positif. Jadi ada kenaikan grade karena dimana kaum muda sudah mulai berpikir untuk kemaslahatan umat, tidak lagi berpikir pada hal-hal yang sifatnya kesenangan duniawi semata.

Kehadiran para caleg muda ini akan memberi harapan baru kepada masyarakat, khususnya para pemilih. “Mungkin saja angka golput (golongan putih) pun bisa turun manakala masyarakat mulai menaruh harapan besar pada orang-orang muda ini,” tambah Mawardi optimis.

Lisa Agustia, 22 tahun, caleg daerah pemilihan NAD 8 juga pemula dalam politik. Namun begitu, ia membekali diri ihwal konsen isu yang diusungnya. “Saya sudah ikut pendidikan politik pemberdayaan perempuan,” ujar politisi yang baru tiga bulan silam bergabung dengan Partai Rakyat Aceh (PRA).

Dia memuja ‘partai anak muda’ itu. Menurutnya, dalam lima program PRA, pemberdayaan perempuan salah satunya. Tak sekadar tertulis, tapi juga langsung dilaksanakan. Setidaknya, Lisa ditempatkan pada urutan nomor urut dua partai itu.

Beda dengan beberapa politisi muda, Lisa tidak memperkenalkan dirinya melalui facebook. Bukannya dia tak gaul, tapi di kampungnya tidak ada internet. [a]

* Tulisan telah dimuat di Majalah ACEHKINI edisi 8. *

Continue Reading
Baca juga...
1 Comment

1 Comment

  1. fuel

    Apr 8, 2009 at 10:22 pm

    Rasanya belum tepat untuk di indonesia kampanye melalui facebook, apa lagi di aceh belum semuanya bisa berinternet..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Teknologi

To Top