Connect with us

Menjemput Sehat di Negeri Jiran (2)

Lobby RS Tawakkal. SUPARTA/ACEHKITA.COM

Feature

Menjemput Sehat di Negeri Jiran (2)

Di lain waktu, Zulfikar Muhammad hampir saja diangkat ginjalnya, setelah divonis mengidap Hidronefrosis stadium 4 oleh dokter di Aceh. [Baca juga: Menjemput Sehat di Negeri Jiran (1)]

Bermula pada 2011, Direktur Eksekutif Koalisi NGO HAM Aceh ini dioperasi dengan metode URS (Ureterorenoscopy) di Rumah Sakit (RS) dr Fauziah, Bireuen. Tiga hari pasca tindakan medis itu, pria 36 tahun itu mengalami demam tinggi disertai menggigil. Dalam keadaan seperti itu dia memilih meninggalkan RS karena tidak ada dokter yang memeriksa, apalagi pada akhir pekan.

Setelah diobati tak kunjung sembuh, sebulan kemudian dia kembali diopname di Rumah Sakit Arun. Dokter saat itu menduga sudah ada infeksi di ginjalnya. Tapi Zulfikar hanya minta diobati demamnya, karena hasil pemeriksaan menunjukkan kadar eritrosit sudah di luar ambang batas, mencapai angka 600. Setelah demamnya turun beberapa hari kemudian dia meninggalkan RS.

Seiring waktu, demam disertai menggigil kerab kambuh. Hingga akhir tahun 2015, ia merasa ada yang mengganjal pada perutnya saat tidur miring ke kanan. Bergegas memeriksakan diri ke dr Rahmawati, ahli ginjal di Lhokseumawe, ia menerima hasil yang mengejutkan.

“Ginjal kamu sudah harus diangkat, hidroneforsisis atau pembekakan ginjal kamu sudah stadium empat,” ujar Zulfikar mengutip vonis dokter.

Rahmawati menyarankan Zulfikar dirujuk ke dr Marzuki, spesialis bedah ginjal. Dia juga menyatakan harus segera dioperasi, kemungkinan bedah terbuka untuk membersihkan atau mengangkat ginjal.

Merasa tak yakin, Zulfikar bertanya penyebab pembekakan ginjal yang dialaminya.

“Bisa jadi batu atau yang lain-lain,” jawab dokter kala itu.

“Dari hasil diagnosa dokter apa penyebabnya?,” tanyanya lagi.

“Belum tahu, setelah diopersi baru bisa diketahui,” jelas sang dokter.

“Saya tidak mau begitu, mohon dokter buat saja rujukan untuk mengecek lebih lanjut di Rumah Sakit Umum Daerah Zainoel Abidin (RSUD-ZA) supaya tahu apa penyebab ifeksi ginjal ini,” ungkap Zulfikar.

Berdasarkan rujukan itu, ia kemudian ditangani di RSUD-ZA. Salah satu tindakan medis yang dilakukan adalah foto IPV (Intravenous Pyelogram) atau pemeriksaan saluran kencing kandung kemih dengan sinar-X.

Setelah pemeriksaan usai, Zulfikar kembali ke ruang urologi. Di sana, dia ditemui dokter yang masih sekolah spesiasasi ginjal.

“Ini harus dibedah,” kata dokter tersebut setelah membaca hasil pemeriksaan.

“Apa alasannya?,” Zulfikar balik bertanya.

Lalu dokter muda itu menelpon seniornya untuk menyampaikan tentang pasien yang sudah difoto IPV dan pemeriksaan lain; ginjalnya bengkak, tapi tak tampak batu dan lainnya.

Menurut Zulfikar, dokter yang di seberang menjawab: sudah dilakukan tindakan operasi saja, apa pasiennya terbaring lemas?

“Tidak pasiennya bisa jalan-jalan,” jawab dokter muda yang menelpon.

“Oh, ya.”

“Iya, dok.”

“Saya juga heran, sepengatahuan saya hidronefrosis stadium 4 sudah tidak bisa beraktifitas atau terbaring lemas,” kenang Zulfikar.

Lantas dokter yang ditelpon memintanya untuk dirujuk ke ruang bedah, tindakan operasi akan dilakukan esok harinya.

“Seperti itu percakapan via telpon, apa nggak syok saya dengar. Tapi saya sudah pasrah, menurut saja apa yang akan dilakukan dokter,” kisahnya.

Malam itu sejumlah teman datang membesuk, di antara mereka ada yang tidak bisa menerima dan menyarankan untuk mencari second opinion ke rumah sakit lain.

“Atas bantuan teman-teman, beberapa hari kemudian barangkatlah saya ke Rumah Sakit Lam Wah Ee di Penang, Malaysia,” katanya.

Menurut Zulfikar, di Lam Wah Ea prosedural pemeriksaan medis sama dengan yang dilakukan di Zainoel Abidin, cek urin dan darah, USG, foto Rontgen.

“Hanya CT Scan yang tidak dilakukan di Aceh,” jelasnya.

Selanjutnya Zulfikar ditangani Dokter Ciew. Setelah memeriksa hasil, sang dokter menolak menangani lebih lanjut.

“Minta maaf Pakcik, saya tidak sanggup, ini harus ditangani oleh dokter yang lebih senior,” ujar Ciew.

“Saya bilang, saya tidak ada kenal dokter satupun di sini,” jawab Zulfikar.

“Saya nak rekom dokter, Pakcik setuju.”

“Saya setuju saja. Oleh dr Ciew saya disarankan ke Dokter Lee. Semua rekam medis yang ada di komputer dr Ciew kemudian ditransfer ke dr Lee. Jadi saya tak perlu menggotong-gotong mab besar.”

“Ini bengkak besar sekali, sudah parah. Gelembung air sudah tipis. Ini dipenuhi nanah dan sudah mengental di ujung ureter akibat luka dinding ginjal. Ini tidak ada batunya tapi harus dioperasi,” kata Lee sambil menunjuk ke komputernya.

“Apa ginjalnya harus diangkat dok?,” Zulfikar menimpali.

“Pengangkatan organ, apalagi kamu yang masih muda langkah terakhir harus dilakukan. Kita tidak lakukan macam tu. Nanti kita pasang selang untuk menyedot nanah,” jelas dokter Lee.

Operasipun dilakukan. Menurut Zulfikar, di ruang operasi radio dalam bahasa Mandarin dinyalakan, di sela percakapan terdengar lagu-lagu dalam bahasa Cina. Setelah dibius, sebuah selang dimasukkan melalui saluran kencing ke dalam ginjal. Untuk buang air, dipasang selang katater.

Setelah selesai, Zulfikar diboyong ke ruang rawat inap. Di sana, setiap tiga jam petugas datang memeriksa suhu badan dan tensi darah.

“Hari pertama, saat tengah malam saya terkejut, tiba-tiba ada yang memegang tangan saya, ternyata petugas rumah sakit yang sedang melakukan pemeriksaan,” kenang Zulfikar.

Di hari ketiga, Lee memerintah Zulfikar untuk duduk.

“You besok dah boleh balik,” kata dokter.

“Tapi saya belum sembuh.”

“Sudah, besok kamu akan sihat.”

Esoknya, kateter dibuka, Zulfikar disuruh berdiri selanjutnya diminta berjalan pelan-pelan.

“Kemudian saya diperbolehkan meninggalkan rumah sakit, dan diminta balik tiga bulan kemudian untuk operasi mengeluarkan selang. Takut kenapa-napa saya tidak langsung balik ke Aceh, tapi menyewa kos-kosan dekat rumah sakit selama tiga hari,” katanya.

Setelah dioperasi, berat badan Zulfikar yang tadinya menyusut pelan kembali berisi. Pihak Rumah Sakit Lam Wah Ee sempat menghubunginya, sebab Zilfikar tak kembali sesuai jadwal operasi untuk mengeluarkan selang. [Bersambung]

1 Comment

1 Comment

  1. Pingback: Menjemput Sehat di Negeri Jiran | ACEHKITA.COM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Feature

To Top