Connect with us

Mensos Serukan Perlindungan Bagi Pekerja Kemanusiaan

Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa berbicara pada Peringatan Hari Kemanusiaan Sedunia di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, 22 Agustus 2017. [Foto Dok. Humas Kementerian Sosial]

Berita

Mensos Serukan Perlindungan Bagi Pekerja Kemanusiaan

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM – Menteri Sosial (Mensos), Khofifah Indar Parawansa menyerukan perlindungan bagi pekerja sosial dan warga sipil dalam berbagai bencana alam dan konflik kemanusiaan di dunia.

Hal ini disampaikannya pada Peringatan Hari Kemanusiaan Sedunia yang dipusatkan di Kawasan Relokasi Hunian Tetap Siosar Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara, Selasa (22/8/2017).

Tema yang diangkat tahun ini adalah Perlindungan Warga Sipil, Pekerja Kemanusiaan dan Semua Pihak yang Terdampak Konflik.

“Dalam setiap kejadian bencana alam maupun konflik, harus dipahami bersama bahwa seluruh pekerja kemanusiaan bukan sasaran, They Are Not A Target,” kata Khofifah seperti dilansir dalam siaran pers yang diterima acehkita.com, pagi tadi.

Menurutnya, dalam penanganan konflik sosial maupun bencana kemanusiaan seringkali pekerja kemanusiaan mempertaruhkan nyawa mereka. Bahkan mereka menjadi korban ketika melakukan tugas kemanusiaan terhadap masyarakat terdampak bencana dan konflik.

Maka, lanjutnya, dalam memperingati Hari Kemanusiaan Sedunia, adalah saat yang tepat untuk meneguhkan komitmen perlindungan terhadap pekerja kemanusiaan berdasarkan prinsip-prinsip dasar kemanusiaan.

Mensos mengungkapkan Pemerintah Indonesia telah berkontribusi aktif memberikan dukungan pada berbagai bencana kemanusiaan, seperti di Chile, Pakistan, Turki, Myanmar, Vietnam, Laos, Phipippines, Thailand, Haiti, Kamboja, Jepang, Australia, Korea Utara dan Vanuatu.

Pekerja kemanusiaan dari Indonesia juga telah bekerja di negara yang berisiko tinggi seperti Rakhine State di Myanmar, Somalia dan lainnya.

Ini, katanya, menunjukkan Indonesia bukan negara yang hanya mendapatkan bantuan kemanusiaan tetapi juga pemberi bantuan kemanusiaan kepada negara yang terkena bencana, baik secara bilateral maupun melalui keanggotaannya dalam Asosiasi Negara-negara Asia Tenggara (ASEAN).

Hari Kemanusiaan Sedunia dirayakan setiap tanggal 19 Agustus, yang dilatarbelakangi pemboman Kantor PBB di Baghdad, ibukota Irak, pada 2003 silam, yang menewaskan 22 pekerja kemanusiaan.

Hari Kemanusiaan bertujuan untuk mengenang jasa-jasa para pekerja kemanusiaan yang mempertaruhkan nyawanya demi pelayanan kemanusiaan dan memberikan dukungan bagi mereka yang terdampak krisis di seluruh dunia.

Kementerian Sosial bekerja sama dengan UN OCHA (Badan PBB di Bidang Urusan Kemanusiaan) serta mitra organisasi kemanusiaan lain mengambil inisiatif untuk memperingati Hari Kemanusiaan Sedunia untuk memberikan penghargaan bagi pekerja kemanusiaan yang telah mempertaruhkan nyawa mereka bagi upaya kemanusiaan.

Perwakilan UNHCR untuk Indonesia, Thomas Vargas mengatakan, Indonesia melalui Kementerian Sosial telah menjadi contoh bagi dunia dalam perlindungan bagi sesama.

“Indonesia telah melakukan bagiannya dengan sangat baik dalam hal perlindungan warga sipil dan pekerja kemanusiaan,” katanya dalam rilis Biro Humas Kementerian Sosial tersebut.

Ia mencontohkan Hunian Tetap Siosar yang merupakan lokasi relokasi bagi penyintas erupsi Gunung Sinabung, sebagai bentuk usaha perlindungan dilakukan pemerintah Indonesia dalam konteks kebencanaan. Tercatat 384 Kepala Keluarga berada di lokasi pengungsian ini.

Relokasi di Siosar

Mensos mengatakan kawasan Hunian Tetap Siosar merupakan sebuah sejarah penting dalam proses panjang memberikan perlindungan maksimal kepada warga terdampak erupsi Sinabung.

Bagi Khofifah, Siosar merupakan prestasi relokasi Sinabung yang sukses dimana awalnya warga enggan dipindahkan ke wilayah tersebut.

“Siosar ini merupakan tempat relokasi pertama dari korban erupsi Gunung Sinabung,” ujarnya.

Apalagi, lanjutnya, kini beragam fasilitas sudah tersedia. Ada aula yang luas untuk menampung kegiatan warga, tempat ibadah, fasilitas umum yang lengkap, perumahan, dan lahan pertanian untuk bercocok tanam dan keberlanjutan hidup.

Dia menyebutkan, Siosar adalah tempat bersejarah dimana banyak masyarakat sipil yang terdampak bencana alam dan banyak pekerja kemanusiaan dari berbagai pihak baik yang terlibat dalam penanggulangan bencana erupsi Gunung Sinabung.

“Tempat ini indah. Terletak di suatu bukit yang berseberangan dengan gunung Sinabung. Udaranya sejuk dan warganya sangat ramah. Ini merupakan titik kumpul warga dari sejumlah desa yang terdampak erupsi Gunung Sinabung,” katanya.

Dahulu, lanjutnya, membuka jalan ke Siosar adalah tantangan besar.

“Jadi untuk menuju ke sana tidak bisa mobil double gardan. Semua perlengkapan harus dibawa dengan ransel naik ke atas bukit dan membuat jalan setapak. Sekitar 3.000 tentara terlibat dalam pembukaan jalan. Saya tiga kali ke sana istilahnya mulai dari ‘babat alas’, bangunan selesai sebagian, hingga sudah sangat representatif seperti sekarang. Sungguh kerja bersama yang luas biasa,” kenang Khofifah.[]

RILIS

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Berita

To Top