Connect with us

Menuju Nanggroe Gagal

KOLOM KUPI SANGER

Menuju Nanggroe Gagal

Sambil mengaduk-aduk kuah beulangong yang menjadi menu utama kenduri buka puasa bersama di masjid, Cek Pan mengajukan kepada saya dan beberapa warga kampung lain yang ikut membantu proses memasaknya.

Peng setengoh triliun nyan, seberapa banyak jumlahnya?”

Menurut saya, pertanyaan yang diajukan Cek Pan saat semua orang sedang berpuasa dan mempersiapkan kenduri gampong di siang menjelang sore itu sungguh tidak tepat. Buktinya tak ada satupun dari lima orang yang menangani satu belanga besar kuah kari daging sapi ala Aceh itu menjawab pertanyaan kawan saya tersebut.

Sudah menjadi hal lumrah di beberapa daerah di Aceh, pasca puasa hari ke tujuh belas diadakan kenduri besar, buka puasa bersama. Juga menjadi hal yang biasa, menu utama dan andalan adalah kuah beulangong yang dimasak secara gotong-royong dan dilakukan hanya oleh para pria.

Nantinya kuliner istimewa itu dihidangkan saat menjelang buka puasa, yang tidak hanya dihadiri oleh warga gampong itu saja, namun juga mengundang warga dari gampong atau kampung-kampung lain. Makanya, pada hari-hari dalam minggu tersebut akan ada banyak undangan berbuka puasa, jika hari ini dari gampong A, besok gampong B, gampong C dan seterusnya.

Seakan tahu bahwa pertanyaannya tidak mampu dipecahkan, akhirnya Cek Pan pun menjawab sendiri pertanyaannya.

“Uang setengah triliun itu, kalo dicairkan dalam pecahan 50.000 rupiah, lalu diurutkan satu per satu dari Banda Aceh, maka uang yang terakhir bisa mencapai provinsi Bengkulu. Atau kalau ditumpuk secara rapi, tingginya bisa mencapai 2 kilometer. Lebih tinggi dari menara masjid manapun di dunia.”

Akhirnya saya paham, Cek Pan mengambil istilah setengah triliun untuk membahas masalah megaproyek Masjid Raya Baiturrahman, senilai Rp492 milyar atau mencapai setengah triliun perak, yang sempat heboh di media massa karena bernuansa “ada mainnya”.

Bang Rijal, salah seorang panitia buka puasa bersama, yang sedang menyempurnakan letak kayu bakar sebagai penyuplai api, mencoba memberi nasihat.

“Cek Pan, bek macam-macam droe neuh, nanti bisa dituduh macam-macam. Bisa-bisa dituduh kafir, baru tau.

Cek Pan tak rela dipersalahkan. Ia membela diri.

“Jeh, peu salah lon? Kan saya cuma bilang uang sebanyak itu kalo bisa disusun setinggi apa atau sejauh apa. Lagi pula coba Bang Jal baca koran, sekarang masalah itu memang sedang heboh kok. Lagian saya dari awal tidak sepakat uang ratusan milyar hanya untuk memperindah masjid yang sudah sangat indah.”

Pernyataan Cek Pan cukup masuk akal. Kalau mau membangun masjid, sebenarnya masih banyak masjid di Aceh yang butuh biaya pembangunan. Bahkan di beberapa daerah, panitia masjid sempat “mempekerjakan” orang-orang” untuk berdiri di tengah jalan raya, sambil menengadahkan kotak amal kepada para pengguna jalan, yang katanya untuk membangun masjid.

Saya sepakat, kenapa uang ratusan milyar tersebut tidak dialokasikan kepada masjid yang membutuhkan agar panitianya tak perlu berlaku seperti peminta-minta.

Saya lalu teringat pada masjid di gampong kami yang sudah dua kali puasa, kubahnya masih beratapkan langit, akibat angin kencang atau badai yang memporak-porandakannya. Saat ini, hanya atap darurat yang mampu menghambat air menggenangi lantai masjid ketika hujan tiba.

Tidak hanya kasus masjid, proyek-proyek pembangunan di Aceh lainnya juga ditengarai marak praktik-praktik manipulatif dan koruptif. Mulai dari proyek bendungan, jalan, hingga lapangan golf, indikasi korupsi seakan menjadi hal lumrah dan normal. Yang membedakannya adalah besar kecilnya. Jika kerugian negara yang ditimbulkan besar, maka akan ada banyak pihak yang mensoalkan, mulai dari media, LSM hingga anggota parlemen. Namun tidak sedikit kasus manipulasi uang rakyat diselesaikan dengan resep sederhana tapi manjur, yaitu TST= Tahu Sama Tahu.

Pak imam masjid, yang sedari tadi menyimak, akhirnya berkomentar dengan nada geram.

“Menyoe terbukti na koropsi di masjid, arti jih donya ka akhee, sebentar lagi kiamat. Biasanya di masjid yang sering kita lihat adalah pencuri kotak amal atau celengan masjid, yang jumlahnya hanya puluhan atau ratusan ribu. Kalau yang dikorupsi bernilai milyaran, artinya ia sudah termasuk pencuri, perampok masjid yang nekad mencuri di rumah Allah.”

Seharusnya kita perlu belajar pada sejarah. Dulu, pada abad ke 18, penjajah Nusantara sebelum diwakili oleh institusi negara adalah perusahaan besar dari Belanda yang dikenal dengan VOC (Verenigde Oost Indische Compagnie). Perusahaan kongsi ini dulunya dikenal sebagai unit usaha yang sangat besar dan maju bahkan mampu beroperasi pada skala internasional. Wilayah termasuk salah satu tempat yang didatangi, dengan tujuan pertama adalah kepentingan bisnis. Lalu, karena nafsu, muncullah rasa ingin menguasai perdagangan dan sumber daya alam secara lebih besar, dengan menggunakan cara militeristik salah satunya.

Namun, VOC tidak bertahan lama, lalu bangkrut. Beberapa alasan penyebab tutupnya perusahaan ini adalah di antaranya perubahan situasi ekonomi politik di Eropa, hingga persaingan dagang dengan para pedagang Inggris, atau Perancis. Namun faktor yang paling kuat dan signifikan penyebab bangkrutnya VOC adalah korupsi. Saat itu, terjadi kebocoran dan penyelewengan dalam skala yang besar di tubuh perusahaan itu.

Aceh sebagai salah satu provinsi perlu belajar banyak dari sejarah. Dulu siapa sangka perusahaan sebesar VOC bisa kolaps dan runtuh, dikarenakan oleh orang-orang yang serakah, greedy alias geureda.

Era modern juga memperlihatkan bukti-bukti bagaimana perusahaan yang senang dengan praktik-praktik seperti ini juga harus menuju ke jurang kehancuran.

Pemerintah Aceh yang baru terpilih perlu mensikapi secara serius fenomena korupsi yang seakan makin menjadi tren, khususnya di kalangan para pengelola uang negara. Jika tidak, siapa tahu dan siapa sangka bisa saja Aceh bakal “tenggelam” atau setidaknya akan dikenang sebagai salah satu provinsi gagal, ya gagal membangun dan mensejahterakan rakyatnya karena dikuasai praktik korupsi yang masif. Aceh akan gagal jika para pejabat atau pengelola uang rakyat asik mengadakan “kenduri uang rakyat.”

Sambil menuangkan garam secukupnya, Cek Pan dengan nada dingin mengajukan saran.

“Menurut lon, jika nanti terbukti melakukan korupsi, para koruptor seharusnya diikat pada tiang-tiang payong di halaman Masjid Raya, lalu dicambuk sebanyak nilai uang yang diselewengkannya.”

Semua mata kini tertuju ke arah Cek Pan dengan berbagai kesimpulan.[]

 

Fahmi Yunus adalah pengajar pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, UIN Ar-Raniry, peneliti pada ICAIOS dan CENTRIEFP, Banda Aceh. E-mail: fahmiyunus@gmail.com

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in KOLOM KUPI SANGER

To Top