Connect with us

Menyusuri Taman Rahasia di Dalam Istana

FOTO: Khiththati

Travel

Menyusuri Taman Rahasia di Dalam Istana

CHANGDEOKGUNG dibangun sebagai back up istana utama Gyeongbokgung pada masa Raja Taejong memerintah antara tahun 1400 sampai 1418. Di antara lima istana utama, tempat ini paling sering digunakan sebagai kediaman raja dan keluarganya. Selain itu, ada juga tempat pertemuan publik, menyambut tamu dan sebuah taman luas.

Istana Timur yang berada di Jongno-gu, Seoul, Korea, ini sering dijadikan tempat untuk belajar sejarah dan arsitektur masa lalu. Para pengunjung juga bisa mengikuti tur yang disediakan. Pengunjung bisa memilih bahasa pemanduan, seperti Inggris, Korea, Jepang, dan Mandarin. Menariknya, tur istana dan taman memiliki jadwal berbeda-beda. Karenanya, saya memilih tur taman rahasia.

Taman dan istana adalah perpaduan yang apik dan selalu menyimpan keindahan tersendiri. Hal yang sama dengan Secret Garden atau Huwon yang ada di Changdeokgung Palace. Namun taman rahasia ini tak hanya indah dipandang mata tetapi juga menyimpan sejarah panjang istana yang paling dicintai pada zaman Dinasti Joseon berkuasa di Korea.Korea2

Huwon atau kemudian disebut sebagai Secret Garden yang menjadi tempat favorit raja- raja beristirahat pada masa lalu masih menyimpan pesona yang sama hingga sekarang, Ada lebih dari 26.000 spesimen dari lebih dari seratus jenis pohon bahkan beberapa pohon di belakang istana yang kini berusia lebih dari 300 tahun tak ketinggalan Kolam –Kolam dan beberapa Pavilion pada masa lalu.

“Tur ini memakan waktu lebih dari dua jam, buat yang sudah merasa lelah berjalan boleh meninggalkan tur dan keluar dari jalur terdekat,” pesan Lee, perempuan pemandu pada hari itu. Ia mengatakan bahwa taman yang akan segera kami jelajahi 60 persen dari luas istana.

“Ikut saya jangan sampai tersesat,” katanya. Hari itu hanya saya yang berwajah Asia Tenggara dari semua peserta yang ada.

Sepanjang jalan terlihat banyak pohon menjulang, beragam jenis tanaman dan bunga. “Saat musim gugur selesai semuanya kelihatan kotor walaupun indah ketika difoto. Karena sekarang musim semi cuma warna hijau yang kelihatan,” kata Lee sebelum berhenti di area Buyongji Pond dan Juhamnu Paviliun.

Musim terbaik berkunjung ke taman ini memang musim gugur ketika semua daun menguning, terkadang oranye ataupun menjadi coklat dan kemudian mulai berjatuhan tertiup angin.

Kolam Buyongji dirancang dengan cara yang unik berbentuk persegi dengan tambahan daratan kecil di tengahnya. Gambaran kolam mewakili Bumi, sedangkan pulau kecil mewakili langit. Kolam adalah representasi arsitektur kosmos bila diartikan secara bersamaan. Atap Paviliun Buyongjeong juga unik berbentuk silang tak jauh di depannya ada perpustakaan Juhamnu. Perpustakaan ini dijadikan tempat penyimpanan buku dan ruang membaca oleh raja Jeongjo. Dibangun pada 1776, pada lantai dasarnya merupakan perpustakaan kerajaan yang dikenal sebagai Gyujanggak. Tempat ini bukan hanya sekedar perpustakaan tetapi juga ruang penelitan politik, tempat raja bekerja dengan ide-ide terbarunya. Sedangkan lantai dua digunakan sebagai ruang baca.Korea4

Bangunan ini dibagun mengikuti kontur tanah yang berbukit tanpa merubah bentuknya. Pintu Eosumun menjadi gerbang untuk mencapai Juhamnu nama ini memiliki filosofi bahwa ikan tidak bisa hidup di luar air. Ini untuk pengingat raja pada saat itu bahwa sebagai penguasa ia harus mempertimbangkan dan menghormati orang-orang  yang diperintahnya. Pada September 2012 Buyongjeong Paviliun ini dibuka kembali setelah direnovasi yang lama berdasarkan stuktur istana timur dan merupakan harta nasional Korea nomor 249.

Berjalan beberapa menit, Aeryeonjeong Pavilion menjadi tempat perberhentian selanjutnya. Paviliun persegi kecil yang terletak di kolam Aeryeonji, ini pertama kali dibangun pada 1692 pada masa pemerintahan Raja Sukjong. Paviliun awalnya terletak di sebuah pulau kecil di tengah kolam. Setelah pulau itu dihilangkan, bangunan itu dipindahkan ke lokasi saat ini di sisi kolam.

Namun sebelum melihat kolam peserta tur akan melewati Bulromun Gate sebuah pintu utama yang terbuat dari batu yang diatur sedemikian rupa. “Menurut kepercayaan bahwa siapa yang melewati pintu ini akan diberkati panjang umur dan hidup sehat,” kata pemandu yang disambut bisik-bisik para peserta. “Mari kita melangkah bersama” tambahnya lagi.

Tepat di depan kolam dari kejauhan terlihat Uiduhap Pavilion yang dibangun oleh putra mahkota Hyomyeong sebagai tempat belajar, membaca, dan merenung. Tidak seperti seluruh corak lain di istana yang bercorak vivid paintwork, arsitektur tempat ini bisa dibilang konservatif dan merupakan salah satu bangunan paling modern di sini.

Para peserta terus berjalan mengikuti petunjuk untuk mencapai Jondeakjeong Pavilion. Tiba-tiba salah seorang turis tersungkur jatuh setelah terburu berjalan untuk memotret. Pemandu dengan sigap membantunya berdiri. “Sesekali ketika berjalan lihatlah pijakan kaki.”

Tak jauh dari sana terdapat Jondeokjeong Paviliun, sebuah tempat beristirahat dengan atap bersegi enam. Tempat ini terkenal dengan lukisan dua naga bermain dengan sebuah permata di bawah langit-langitnya. Permata ini dikenal sebagai Cintamani. Lukisan ini merupakan simbol dari keseluruhan otoritas kerajaan. Para pengunjung diperbolehkan memotret dan beristirahat sambil membaca buku. Di depannya terdapat susunan batu setapak yang bisa dipakai oleh raja untuk berjalan sekitar Paviliun.

Berjalan lebih jauh mendaki dan menurun di jalan setapak yang sudah diberi pengaman agar tidak licin dan aman untuk pejalan kaki, sampailah pada lokasi favorit banyak raja.Korea3

“Apakah menurut kalian dulu para raja kemari berjalan kaki seperti kita?” tanya si pemandu.

“Pasti tidak, mereka mungkin ditandu,” Jawab beberapa peserta riuh.

“Banyak yang bilang seperti itu, karenanya banyak yang percaya bahwa alasan mereka mangkat dalam usia muda karena jarang berolah raga,” jawab pemandu tersenyum.

Di balik pepohonan  terdapat sebuah sungai kecil yang mengalir yang disebut Ongnyucheon dan juga saluran air bulat yang diberi nama soyoam yang berarti batu. Saluran air berbentuk U juga buat pada tahun 1636, selain itu juga ada air terjun kecil yang batunya terukir puisi. Di tempat ini terdapat lima paviliun yang salah satunya beratapkan jerami. Atap khusus ini dibuat oleh raja pada masa itu untuk menghormati para petani atas keberhasilan mereka mencukupi pangan seluruh kerajaan. Lokasi ini juga menjadi tempat perayaan beberapa pesta privasi anggota kerajaan.

“Tempat ini menjadi begitu disenangi karena suhu di sini lebih dingin tiga derajat dibandingkan keseluruhan taman dan lebih terpencil sehingga sering dipakai untuk berpikir,”ungkap pemandu.

Tempat selanjutnya adalah Yeongyeongdang yang difungsikan sebagai penginapan dan dibangun pada tahun 1828 oleh putra mahkota Hyomyeom untuk Jinjakryke yang merupakan acara spesial sang ayah raja Sunjong. Selama perayaan akan dihidangkan makanan istimewa oleh pejabat peradilan sebagai pertanda otoritas istana yang kuat.

Di sebelahnya terdapat Seonghyangjae yang dibangun untuk menjadi tempat belajar selama menginap, di mana buku juga banyak disimpan, menjadi tempat yang sering dipakai untuk membaca dan sering juga tamu kerajaan disambut.

Bangunan terakhir yang ada di dalam taman adalah Seonwonjeon yang baru atau biasanya disebut New Royal Shrine. Setelah hampir dua jam akhirnya tur berakhir dan kami berjalan ke luar taman dan kembali menuju Istana.

Taman ini luasnya sekitar 32 hektare. Dulu dikenal dengan nama Geumwon atau Forbidden Garden karena tidak semua penghuni dapat kemari tanpa seizin raja. Penghuni istana menyebutnya sebagai Naewon (Inner Garden). Sekarang orang Korea mengenalnya dengan Biwon atau Secret Garden nama yang dipakai pada akhir abad 19. Walaupun memiliki banyak nama namun yang paling sering dipakai pada zaman Dinasti Joseon adalah Huwon.

Beberapa perayaan digelar oleh raja di dalam taman, pada masa awal Dinasti Joseon, seperti inspeksi militer yang langsung dipimpin oleh raja. Raja Sejo bahkan mempunyai pasukan parade dan prajurit yang berlatih dan diberi perintah olehnya di dalam taman. Selain itu perayaan lain juga sering digelar, pertandingan memanah atau sekedar menikmati kembang api.

Tertarik berjalan jalan di taman raja-raja Korea masa lalu? Cukup beli tiket seharga lima ribu won, tapi jalan lupa melihat jadwal tur karena tempat ini hanya dibuka sesuai jadwal dan kamu tinggal pilih mau yang berbahasa Inggris, Cina ataupun Jepang. Selamat jalan-jalan di taman rahasia para raja Korea. []

KHITHTHATI – SEOUL, KOREA SELATAN

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Travel

To Top