Connect with us

Merekrut (Jurnalis) Diam-diam

Kabar dari ACEHKITA

Merekrut (Jurnalis) Diam-diam

HARI ITU Munawardi Ismail memperoleh undangan rapat misterius dari teman wartawannya, Murizal Hamzah. Dia kenal baik Murizal hamzah karena dulu pernah sama-sama bekerja di Tabloid Kutaradja pada awal tahun 2000-an. Namun setelah tabloid itu berhenti terbit, masing-masing mereka terpisah bekerja pada media lain.

Munawardi masih ingat, rapat misterius itu diakan usai salat Isya. Dengan sepeda motornya dia menuju hotel Jeumpa. Di sana telah berkumpul beberapa kawan lainnya, sekitar 10 orang. Dia mengaku baru mengenal Dandhy ketika bertemu di hotel Jeumpa.

Dari banyak hal yang disampaikan Dandhy, gaya menulis acehkita-lah yang mampu memikat hati Munawardi; Menulis panjang 1.000 kata, bebas berekspresi menuliskan apa yang dialami oleh masyarakat sebagai pihak yang seharusnya dibela oleh media.

Belakangan Munawardi tahu bahwa genrenya acehkita itu merupakan jurnalisme sastrawi yang tren pada penulisan masa kini. Mirip gaya menulis cerpen akan tetapi tetap faktual dan fakta.

Setelah pertemuan singkat malam itu, Munawardi dan kawan-kawan wartawan bergerak cepat. Dandhy pulang ke Jakarta dan para jurnalis Acehkita langsung bekerja. Lama setelah pertemuan di Jeumpa, dia tidak pernah bertemu Dandhy lagi.

Pun demikian, semua berjalan sesuai rencana. Generasi pertama wartawan acehkita tetap dikoordinasi langsung dari Jakarta. Setiap minggu Acehkita memiliki banyak informasi yang diabaikan media mainstrem. Terutama dari daerah yang konsentrasi konfliknya tinggi; Aceh utara, Aceh Timur, Langsa, dan sekitarnya.

Bukan hanya dampak konflik yang disiarkan, tapi Acehkita mengangkat isu dari segala segi kehidupan masyarakat Aceh. Isu menarik itu bagi Munawardi adalah perekonomian masyarakat Aceh ketika perang. Mereka tak ubahnya sistem VOC pada masa pemerintahan kolonial Belanda.

Suka atau tidak, misalnya dalam satu kasus para petani harus menjual hasil perkebunan mereka kepada tentara, baru setelah itu tentara kembali menjual ke pihak-pihak lain. Tentunya dengan keuntungan jauh lebih besar daripada yang diterima masyarakat.

Selain terjun langsung meliput berita, pagi menjelang siang biasanya Munawardi dan kawan-kawan menghabiskan waktu nongkrong di Coha, sebuah kedai kopi kecil di depan kantor Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), seputaran Simpang Lima, Banda Aceh. Tempat berkumpulnya wartawan masa konflik.

Dulu dia sering mengirim berita lewat Jambo Net, sebuah warnet tak jauh dari sana. Atau melalui Dunia Net, di jalan Diponegoro, Banda Aceh. Maklum saja, internet baru popular di Aceh awal 2000-an dan acehkita.com menjadi salah satu media online pertama di Aceh.

Sebulan dia bisa mengirim lebih dari 30 judul berita. Dari semua berita yang dikirim Munawardi, ada satu berita yang paling berkesan. Judulnya, Tak ada Panglima GAM, Seniman pun Jadi.

Kala itu, PDMD memanggil seniman-seniman ke Seramoe Aceh. Nyawoeng-lah penyebabnya. Sebuah nama album yang lirik lagu di dalamnya dianggap dapat membangkitkan semangat pemberontakan. Para seniman akhirnya diintervensi agar tidak lagi menyanyikan lagu-lagu itu. Dan album Nyawong pun ditarik dari peredaran. Padahal menurut Munawardi, lirik lagu-lagi itu lahir jauh sebelum Darurat Militer diterapkan.

Album Nyawoeng sendiri lahir pada 2000-an. Diproduksi oleh Joe Project, sebuah karya intelektual putra Aceh. Lagu itu kemudian hanya diputar diam-diam dalam oleh warga yang menggemarinya.

Pertengahan November 2003, Pemerintah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) di bawah Penguasa Darurat Militer Daerah (PDMD) menyelisik setiap kaset dan VCD berisi lagu-lagu yang dicurigai berbau propaganda. Album Nyawoeng pun dilarang beredar karena beberapa lagunya dianggap ‘berbahaya’. Liriknya menyinggung beberapa peristiwa berdarah di Aceh, mulai dari mayat-mayat yang dibuang di Sungai Arakundo, tragedi Simpang KKA, pembantaian Teungku Bantaqiah, hingga penyiksaan di Rumah Geudong.

“Saya sangat kecewa,” ujar Jauhari, produser album itu. “Ketika kita menyenandungkan sesuatu yang benar terjadi, apakah itu salah. Siapa yang mengingkari fakta dari serangkaian peristiwa itu? Mengapa muncul ketakutan berlebihan, padahal kami hanya bermaksud mendokumentasikan sejarah.”(Kompas, 18 Januari 2005, hal 12)

Munawardi juga berkisah tentang penyamaran. Semua wartawan acehkita diberikan nama samaran dalam setiap laporannya. Mengingat wartawan acehkita dianggap ancaman oleh kedua pihak yang bertingkai. “Saya punya lima nama samaran atau identitas dalam tulisan,” ujarnya tersenyum. []

ADI WARSIDI | DESI BADRINA | TEUKU ARDIANSYAH (KAKI LANGIT)

Continue Reading
Advertisement
You may also like...
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

More in Kabar dari ACEHKITA

Advertisement

ACEHKITA TV

Trending

Kolom

Kuliner

Facebook

To Top