Nagina, Masjid untuk Perempuan Istana

0
1280

SARWAR bergegas masuk dalam areal Masjid Nagina setelah melepaskan sepatunya. Pria itu tidak menyimpan sepatunya di penjaga pintu. Dia memilih menjinjing.

Nisha, anaknya dengan patuh mengekor di belakang. Sarwar sengaja datang ke Masjid Nagina yang berada di Kota Agra, India, untuk menghabiskan masa liburan sekolah Nisha. Ia melakukan perjalanan menggunakan bus dari Jammu Kashmir, berjarak 22 jam perjalanan.

Dekho, Dekho bahot sunder lagi hai [lihat itu, sangat indah bukan],” kata Sarwar kepada gadis kecilnya. Ia lalu meletakkan sepatu yang telah dibungkus jaket di lantai. Dua jeruk dan sebotol air mineral turut diletakkan.

“Ini jaket Nisha tapi ternyata setelah siang di sini panas, ia melepaskannya, padahal di Kasmir salju masih turun,” kata Sarwar. “Karena ini masjid walaupun sudah lama tidak pernah digunakan lagi, kita harus tetap menjaga kesuciannya.”

Keduanya asik berswafoto. Nisha hanya tersenyum saat diminta berpose oleh ayahnya. “ Iya, di sana tersenyum,” kata Sarwa kepada anaknya.

Selain berfoto, Sarwa menjelaskan sejarah Masjid Nagina.

“Tempat ini mengajarkan kita bagaimana Islam sangat menjaga dan menghormati perempuan dengan kasih sayang yang luar biasa. Saya sebagai ayah mencoba melakukan hal terbaik kepada anak perempuan saya,” tutur Sarwa kepada acehkita.com yang berkunjung ke India beberapa waktu lalu.

***

FOTO: Khiththati/acehkita.com

Masjid Nagina, sebuah masjid di Agra, India, yang dibangun oleh Kesultanan Mughal Shah Jahan pada tahun 1635 masehi. Raja Mughal juga membangun Taj Mahal.

Kesultanan Mughal salah satu dinasti Islam yang berkuasa cukup lama. Bahkan, pada masa kejayaannya wilayahnya hingga ke Thailand.

Sebelum pusat kesultanan dipindahkan ke Delhi, sultan dan keluarga menetap di Agra Fort, Kota Agra. Sultan tinggal di Benteng Agra yang berwarna merah. Warna merah itu karena bahannya dari batu pasir merah.

Meski semua bangunan di kompleks kesultanan berwarna merah, namun ada sebuah bangunan yang berbeda, yaitu Masjid Nagina persis di lantai dua Benteng Agra yang menghadap ke arah jalan.

Tak Jauh dari situ juga terdapat Macchi Bhavan dihiasi oleh dua singgasana, satu batu tulis hitam, marmer putih lainnya. Yang putih digunakan oleh Shah Jahan, yang hitam oleh kaisar setelahnya Jahangir untuk bersantai. Pengunjung juga dapat melihat pemandangan Taj Mahal dari balkon.

Masjid Nagina berwarna putih dan berada dalam kompleks kesultanan. Masjid ini didesain khusus sebagai tempat ibadah perempuan muslim. Tujuannya agar perempuan di istana (royal family) lebih nyaman beribadah.

Warna putih di bangunan masjid karena dirancang menggunakan marmer putih. Masjid ini hanya memiliki tiga pintu kerawang melengkung tanpa dinding di bagian depan.

Ada teras kecil sebelum akhirnya berdiri tembok kokoh yang mengelilinginya. Pada tembok diberikan lubang-lubang angin kecil serta tirai.

FOTO: Khiththati/acehkita.com

Pintu utama menuju lokasi masjid berbentuk kecil berada di sudut ruangan lantai dua bangunan. Dari situ terlihat bangunan kecil di sebelah kiri dengan sedikit ruang terbuka.

Muka depan bangunan terdapat tiga muka bangunan [fasad] yang melengkung indah. Halamannya yang kecil juga terbuat dari marmer.

Dinding penahan juga digunakan fasad tengah yang ukurannya lebih besar untuk memperkuat pahatan-pahatan di sekitarnya.

Chahajja atau pelindung seperti kanopi kecil juga digunakan untuk melindungi bagian lengkungan dari fasad.

Ada tiga kubah kecil berukirkan kelopak bunga teratai serta tiang kecil di atasnya. Kubah di tengah sedikit lebih besar daripada yang berada di sampingnya.

Fitur bangladar menjadi kemegahan tersendiri dari bangunan ini. Fitur ini merupakan garis lengkung yang melingkar dari chahajja dan parapet yang membuat ruang tengah langit-lagit bangunan terlihat istimewa dan punya karakteristik tersendiri.

Selain itu, langit-langit ini kemudian membentuk segitiga bangladar.

Sebuah miniatur tangki air dengan pancuran kecil disediakan di dinding timur untuk wudu. Masjid mungil yang terlindungi dari pemandangan luar benteng ini memiliki arsitektur yang memikat dan sangat detil seperti bangunan peninggalan kerajaan Mughal lainnya.

FOTO: Khiththati/acehkita.com

Keindahan ini hanya tersaingi sedikit di kemudian hari. Setelah memindahkan ibukota kerajaan dari Agra ke Delhi, masjid yang nyaris sama namun berukuran lebih besar dirancang di dalam Red Fort (benteng merah baru Kerajaan Mughal).

Masjid yang nyaris sama itu diberi nama Moti dan dibangun tahun 1658 masehi.

Mesjid Nagina dijuluki masjid permata. Di bagian belakang kanan ada sebuah balkon kecil dengan ukiran cantik pada dindingnya. Tempat ini memiliki tempat mengintip kecil dengan tirai yang tidak terlihat dari luar.

Masjid Nagina memiliki luas 10,21 meter dan kedalaman 7,39 meter, menghadap teras berjajar. Ada balkon yang menyajikan panorama jalan yang membentang ke arah Hathi Pol yang terletak di sisi utara.

Balkon menawarkan pemandangan keluar tempat para wanita di istana dapat melihat dan memeriksa barang-barang dagangan yang di jajar di Mina Bazaar seperti sutra, perhiasan dan lainnya, yang ditata para pedagang di halaman lantai bawah tanpa mereka terlihat dan dapat membeli barang-barang tersebut hanya dengan berdiri di balkon.

Ruang doa dirancang dengan indah, sederhana, dan memikat.

Sebuah suara ketukan keras terdengar dari arah perempuan yang bertugas menjaga pintu dan sandal. Itu menandakan sudah saatnya pengunjung meninggalkan masjid.

Di pintu masuk, seorang perempuan penjaga pintu mengomel kepada pengunjung. “Ini masjid jangan terlalu ribut,” kata dia. []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.