Connect with us

Novel Sastrawan Aceh Masuk Nominasi Kusala Sastra Khatulistiwa

Novel Kura-kura Berjanggut karya Azhari Aiyub, 2018. (Foto: Husaini/ACEHKITA.COM)

Aceh

Novel Sastrawan Aceh Masuk Nominasi Kusala Sastra Khatulistiwa

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM — Novel Kura-kura Berjanggut diumumkan masuk nominasi 10 besar karya terbaik ajang penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa ke-18 kategori prosa.

Novel Kura-kura Berjanggut yang diterbitkan Banana pada April 2018 ini merupakan hasil karya terbaru sastrawan Aceh bernama Azhari Aiyub yang ditulisnya selama 12 tahun.

Sebelum novel Kura-kura Berjanggut terbit, Azhari Aiyub yang sehari-sehari bergiat di Komunitas Tikar Pandan telah menerbitkan dua kumpulan cerpen; Perempuan Pala (2004) dan The Garden of Delights and Other Tales (2015).

Kumpulan cerpen pertamanya Perempuan Pala telah diterjemahkan ke dalam dua bahasa; Inggris dan Prancis. Sedangkan kumpulan cerpen keduanya penulis yang lahir dan besar di kota Banda Aceh ini, sedang dipersiapkan terbit dalam edisi bahasa Arab.

Azhari AIyub pada 2003 lalu memenangkan juara pertama sayembara menulis cerpen Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Kemudian dua tahun kemudian, pada 2005 ia meraih penghargaan Free Word Award dari Poets of All Nation Belanda.

Dikutip dari laman Wikipedia, Kusala Sastra Khatulistiwa sendiri sebuah ajang penghargaan bergengsi bagi dunia kesusastraan Indonesia yang didirikan oleh Richard Oh dan Takeshi Ichiki sejak 2001 itu, baru saja mengumumkan karya-karya terbaik 10 besar untuk kategori prosa dan puisi.

“Karya-karya terseleksi Kusala Sastra Khatulistiwa ke 18 tahun ini,” tulis Richard Oh di akun twitternya pada Kamis, 6 September 2018

Richard Oh menyertakan tweetnya itu dengan melampirkan 10 besar kategori puisi dan 10 besar kategori prosa yang urutan judulnya secara acak.

Novel Kura-kura Berjanggut karya sastrawan Aceh, Azhari Aiyub, disebutnya di urutan pertama, berikutnya Tiba sebelum Berangkat (karya Faisal Oddang), Gentayangan (Intan Paramaditha), Laut Bercerita (Leila S Chudori), Muslihat Musang Emas (Yusi Avianto Pareanom yang juga penyuting novel Kura-kura Berjanggut), Ibu Susu (Rio Johan), Sang Raja (Iksaka Banu), Gerimis di Kuta (Wendoko), Sai Rai (Dicky Senda) dan Manifesto Flora (Cyntha Hariadi).

Sementara 10 terbaik kategori prosa juga disebutkan dengan urutan judul secara acak dimulai dari Museum Masa Kecil (karya Avianti Armand, Belajar Lucu dengan Serius (Hasta Indriyana), Perawi Rempah (Ahmad Yulden Erwin), Buku Latihan Tidur (Joko Pinurbo), Batu Ibu (Warih Wisatsana), Manurung (Faisal Oddang), Sakuntala (Gunawan Maryanto), Rekaman Terakhir Beckett (Aripahala Hutabarat), Cuaca Buruk Sebuah Buku Puisi (Ibe S Palogai) dan Berlatih Solmisasi (Dedy Tri Riyadi).

Pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa, dikutip Wikipedia, didasarkan pada buku-buku puisi dan prosa terbit dalam kurun waktu 12 bulan terakhir, yang kemudian diseleksi secara ketat oleh para dewan juri. Belum disebutkan malam penganugerahan Kusala Sastra Khatulistiwa 2017-2018 kapan akan diumumkan. Biasanya pada tahun-tahun sebelumnya dilakukan pada November.

Sebelum karya Azhari Aiyub masuk nominasi pada tahun ini, pada 2011 lalu novel Lampuki karya Penulis Aceh, Arafat Nur, terpilih sebagai pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa kategori fiksi.[]

Continue Reading
Advertisement
You may also like...
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

More in Aceh

Advertisement

ACEHKITA TV

Trending

Kolom

Kuliner

Facebook

To Top