Connect with us

OBITUARI
Imam Syuja’: Ulama Pemberani

Aceh

OBITUARI
Imam Syuja’: Ulama Pemberani

SAAT itu tahun 2000. GAM dan RI baru saja mencapai kesepakatan untuk menghentikan kekerasan.

Dimediasi Henry Dunant Center (HDC), kedua belah pihak berhasil membentuk joint forum (forum bersama) untuk memantau kondisi keamanan Aceh dan menyalurkan bantuan kepada korban konflik. Di bawah joint forum, dua komite dibentuk dengan tugas yang berbeda yaitu Komite Bersama Aksi Kemanusiaan (KBAK) dan Komite Bersama Modalitas Keamanan (KBMK).

Selain GAM, pihak RI dan HDC, banyak tokoh masyarakat dan ulama yang mendorong tercapainya kesepakatan ini, salah satunya adalah Tengku Imam Syuja’.

Beliau sangat aktif dalam pelbagai upaya untuk mendudukkan GAM dan RI. Dalam pelbagai kesempatan Tengku Imam Syuja’ menyampaikan pendapatnya di hadapan semua bahwa konflik Aceh tidak akan bisa diselesaikan dengan kekerasan.

Tahun 2000, saat itu saya baru pertama kali mendengar nama beliau. Sikapnya jelas, pernyataannya tegas, bahwa Aceh butuh damai sehingga memudahkan orang untuk beribadah dan melaksanakan kegiatan sehari-hari.

Saya penasaran dengan tokoh berani ini.

Saya tambah penasaran, ketika pihak RI dan GAM saling menggertak, saling mengancam akan menggunakan kekerasan ketika Jeda sedang berlangsung, Tengku Imam Syuja’ lagi-lagi mengeluarkan penyataan yang sangat berani. Kokoh dan tegar bersuara dan berdiri bersama rakyat Aceh. Beliau mengajak bersyukur atas damai dan menyayangkan sikap aparat yang mengorbankan rakyat kecil.

“Sekarang saja, tiap individu rakyat Aceh seolah-olah sudah berada di ambang kematian,” kata Ketua Majelis Ulama Aceh, saat itu, Tengku Imum Syuja’. (Tabloid Kontras, No. 104 Tahun II 27 September – 2 Oktober 2000).

Salah satu keberanian beliau yang dikenang orang ramai terjadi pada tahun itu juga.

Said Iqram yang berumur 15 tahun, putra Kapolres Aceh Besar, Superintenden Sayed Hoesaini, menyeberang ke pasukan GAM Aceh Besar. Kejadian ini mempermalukan kepolisian sehingga kapolres berencana untuk mengerahkan pasukan besar untuk menyelamatkan putranya. Namun pengerahan pasukan tidak pernah terjadi, karena kepiawaian Tengku Imam Syuja’ melakukan negosiasi dengan pihak GAM dan kepolisian. Dengan penuh keberanian, Tengku Imam Syuja’ menjemput langsung anak kapolres Aceh Besar ke markas GAM.

Tengku Imam Syuja’ sehari-hari tidak hanya berkomunikasi dengan pejabat saja, tetapi menjadi kawan anak-muda dan aktivis Aceh. Tidak pernah absen dalam acara untuk Aceh. Beliau adalah seorang ulama yang banyak memberikan masukan dalam pertemuan Aceh baik di Jenewa, Amerika Serikat dan juga di Swedia.

Saya pertama sekali bertemu beliau pada sebuah pertemuan di Malaysia sebelum damai. Sosok yang ramah dan sangat menghargai anak muda. Beliau tawaddhu’, ketika berbicara memandang sepenuhnya ke arah lawan bicara. Sangat berani dalam berpendapat.

Ketika pulang ke Aceh mendampingi Tengku Bakhtiar Abdullah untuk membantu Aceh Monitoring Mission (AMM) dari GAM yang dikomandoi Irwandi Yusuf, kami sering bertemu dan berdiskusi. Walaupun beliau anggota partai nasional (PAN), tetapi menaruh harapan besar kepada partai lokal. Ilmu beliau dan pengalaman yang luas dalam partai nasional, tidak ragu-ragu beliau share kepada kami.

Ketika GAM membuat pertemuan di Stockholm pascadamai, Tengku Imam Syuja’ termasuk salah satu undangan. Beliau saat itu anggota DPR RI. Di sana, beliau bertemu dengan pimpinan GAM dan terlibat aktif dalam memberikan masukan berharga agar partai yang dibentuk GAM di Aceh menjadi kuat dan memenangi pemilu.

Ketika bertugas sebagai anggota DPR RI atau selesai bertugas, sikap beliau tidak pernah berubah. Setiap bertemu, hanya keramahan yang hangat saya ingat dari sosok Tengku Imam Syuja’.

Hari ini, Jumat tanggal 11 Desember 2015, Allah memanggil kembali Tengku Imam Syuja’ ke haribaan-Nya. Inna Lillahi Wainna Ilaihi Raajiun, telah pergi seorang ulama yang syuja’, gagah berani, sesuai dengan namanya. Semoga Allah tempatkan di tempat yang mulia. Amin. []

MUNAWAR LIZA ZAINAL

Keterangan Foto: Almarhum Imam Syuja’ dengan tokoh-tokoh Aceh dalam pertemuan dengan GAM di Stockholm, Swedia. | FOTO: Dok Warzain/Teuku Hadi

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Aceh

To Top