Connect with us

Para Pelintas Batas

Laporan Khusus

Para Pelintas Batas

[vc_row][vc_column][vc_column_text]

MERAUKE | ACEHKITA.COM — Jelang tengah hari, para pelintas batas asal Papua New Guinea kembali ke negaranya setelah melakukan aktivitas ekonomi di wilayah Papua, Indonesia.

Dari kampungnya, mereka membawa rusa, madu, gambir, atau kasuari. Lalu kembali dengan sembako yang dibeli di Distrik (kecamatan) Sota, Merauke. Biasanya, mereka menempuh perjalanan mengayuh sepeda. Namun tak jarang pula yang bertelanjang kaki.

David, mantan warga negara Papua Nugini, menyebutkan, menjelang peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia yang diperingati saban 17 Agustus, ratusan pelintas batas mampir di sini. Mereka ikut berbagai kegiatan tujuhbelasan, termasuk aneka lomba. David, setelah memperistrikan perempuan Papua, menjadi warga negara Indonesia.

Para pelintas batas yang tak dipusingkan dengan urusan kepabeanan ini masih harus menempuh 15 kilometer jalan hutan untuk tiba di kampung mereka di wilayah Western Province.

Mata uang yang digunakan Kina, yang bila dirupiahkan setara 4.000 – 4.500.

Sejak Inggris dan Belanda membagi tapal batas di selatan Papua menjadi dua pada Mei 1895, mereka mulai berurusan dengan apa yang disebut ‘batas negara’. Konsep ini tentu asing bagi masyarakat adat yang hanya mengenal batas tanah suku atau marga. Suku Malind dari marga Ndiken, misalnya, ada di kedua negara.

Lebih ‘membingungkan’ lagi ketika wilayahnya lalu beralih ‘majikan’ dari Inggris ke Australia (1949) di sisi timur dan dari Belanda ke Indonesia (1963-1969) di sisi barat. Lengkap dengan atribut bendera, lagu kebangsaan, KTP, administrasi di perbatasan, dan kehadiran tentara.

Ini belum menghitung faktor pelajaran sekolah yang tiba-tiba ada pahlawan ‘nasional’ bernama Diponegoro, Sudirman, atau Soekarno-Hatta yang tak pernah mereka kenal sebelumnya.

Maka bisa dibayangkan bila dalam semua ‘kebingungan’ itu, tiba-tiba negara baru bernama Papua New Guinea mengizinkan tambang emas beroperasi di sungai Fly atau pemerintah Republik Indonesia dengan aneka perusahaan kelapa sawit di sepanjang sungai Bian atas nama MIFEE (Merauke Integrated Food and Energy Estate).

Semua pentas geo-politik dan geo-ekonomi ini terjadi di atas tanah ulayat mereka. []

NASKAH: DANDHY D. LAKSONO
FOTO: SUPARTA ARZ | EKSPEDISI INDONESIA BIRU[/vc_column_text][/vc_column][/vc_row]

Continue Reading
Baca juga...
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Laporan Khusus

To Top