Connect with us

Pembakaran Lahan, Suku Dayak Punya Aturan Mainnya

Laporan Khusus

Pembakaran Lahan, Suku Dayak Punya Aturan Mainnya

WARGA Dayak Jalai dan Sekayuq di pedalaman Ketapang, Kalimantan Barat, menanam padi ladang secara bergotong-royong atau dikenal dengan tradisi “menugal”. Barisan pertama melubangi tanah dengan tongkat, barisan kedua mengisinya dengan benih padi atau beras ketan.

Kegiatan ini dilakukan dengan melibatkan warga dari berbagai kampung secara bergantian, dan ditutup dengan acara pesta adat (biasanya makan gulai babi).

Ladang ini disebut “dahas” yang dimiliki secara komunal oleh beberapa keluarga. Bukan lahan pribadi. Namun, seiring banyaknya lahan yang berpindah tangan ke perusahaan perkebunan atau pertambangan, tradisi ini mulai banyak ditinggalkan.

Orang Dayak mengenal pembukaan lahan (land clearing) dengan cara membakar. Namun ada beberapa syarat:

Pertama, semua pohon ditumbangkan dan bambu-bambu diratakan. Semua tanaman dan kayu harus rebah untuk menghindari bara api mudah terbang tinggi tertiup angin.

Kedua, di lingkar lahan yang akan dibakar harus dibuat ruang kosong sebagai sekat dengan kawasan hutan atau ladang milik orang lain.

Ketiga, pembakaran dilakukan berkelompok dengan melibatkan warga lain secara bergantian. Mereka berjaga di lingkar lahan untuk menjaga api.

Keempat, pembakaran dilakukan berlawanan dengan arah angin, atau posisi api harus berjalan mundur.

“Tidak benar kalau kabut asap seperti ini sudah ada dari dulu. Kami orang Dayak tidak membakar lahan dengan cara seperti sekarang. Kami takut kena lahan kawan. Ganti ruginya berat. Kalau mau bakar harus ramai-ramai bawa teman untuk menjaga api. Itu pun tidak sampai berhektare-hektare. Paling sepetak dua petak,” tutur Aloysius, salah satu warga Dayak Jalai.

Dahas ini disebut Dahas Pancing seluas delapan hektare, terletak di Kecamatan Jalai Hulu, Kabupaten Ketapang. Kawasan sekitar dahas ini kini telah ditumbuhi perkebunan kelapa sawit milik grup Cargill dan Sinar Mas.

Menurut warga Dayak Jalai, sepanjang hidup mereka, api tidak bisa timbul secara alami akibat musim kering atau gesekan ilalang kering tertiup angin.

“Tidak pernah ada api muncul sendiri (secara alamiah) dan membakar hutan. Selalu ada yang membakar,” pungkas mereka. []

DANDHY D. LAKSONO | SUPARTA ARZ | EIB

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Laporan Khusus

To Top