Connect with us

Pemimpin “Yang Melampaui”

Kolom

Pemimpin “Yang Melampaui”

Dalam perjalanan sejarahnya, sejatinya, Aceh adalah nanggroe yang menyatukan segala keterpisahan dan keterpilahan. Dimana kelanjutan perjalanannya adalah ikhtiar agung kosmopolitanisme, yaitu membuka diri bagi kemajuan dan menerima ide-ide donya (dunia) bagi kekokohan fondasi bangunan peradabannya.

Dari penyatuan semua inilah, maka dalam makna terdalamnya, sama seperti nanggroe-nanggroe dunia lainnya, Aceh menjadi nanggroe dengan ibukota berbilang abad yang penuh peradaban.

Di narasi kekinian, sebagai nanggroe yang telah mengalami berbagai peristiwa, suka dan duka, dengan segala esensi keberadaannya bagi manusia di dalamnya, maka kepemimpinan Aceh hendaknya bukanlah dipegang oleh sosok yang dinilai berdasarkan ketaatan personal simbolik tetapi sosok yang punya kesalehan dan ketaatan sosial yang melampaui sekat-sekat agama, suku, ras, bahasa dan lainnya.

Kepemimpinan ini hendaklah kepemimpinan yang menyatukan, bukan memisahkan. Kepemimpinan “yang melampaui”, bukan “membatasi”, karena gerbang gemilang peradaban tak akan pernah hadir karena kepemimpinan yang membatasi, tetapi hanya didapat melalui kepemimpinan yang punya keterlampauan imajinasi dan keberpihakan pada spirit kebebasan.

Apa itu Pemimpin “Yang Melampaui”?.

Pemimpin “Yang Melampaui” adalah pemimpin yang sudah selesai dengan dirinya sendiri dan memandang warga nanggroenya melompati identitas yang melekat seperti agama, keyakinan, suku, ras dan status sosial. Selesai dengan dirinya sendiri adalah syarat mutlak bagi seorang pemimpin. Karena nantinya dia tidak lagi mengurus dirinya sendiri, tetapi mengurus orang banyak.

Selesai dengan dirinya sendiri dapat dibaca bahwa pemimpin ini adalah pemimpin yang tidak lagi memerlukan pujian, tidak ada lagi kebencian, tidak lagi memperkaya diri, keluarga dan kroni-kroninya, tidak bekerja supaya dianggap sebagai pahlawan, apakah pahlawan syariat dan lain sebagainya, tidak berjarak dengan rakyatnya tetapi selalu dekat dan bersahabat.

Ketika ini semua sudah selesai, maka kepemimpinan akan beroperasi semata-mata hanya sebagai pengabdian, mengabdi dan melayani rakyat, bukan sang pemaksa kehendak dengan arogansi tanpa batas.

Pemimpin “Yang Melampaui” ini menjadi begitu penting, karena, sekian lama perjalanan Aceh paskatsunami dan konflik, kita punya permasalahan dalam hubungan antarmanusia yang disekat-sekat oleh kekuasaan berdasarkan agama, status sosial dan punya permasalahan dalam dua hal penting lainnya yaitu, kekuasaan yang mempertentangkan antara spirit keagamaan dengan spirit kebebasan dan persoalan antara irrasionalitas logika kekuasaan dan rasionalitas warga, dimana kekuasaan dipaksa bekerja berdasarkan hegemoni teologi. Akibatnya kebijakan yang lahir adalah hitam putih penghukum moral, bukan pengayom dan penjaga kemanusiaan yang berwarna. Sehingga, dapat segera ditebak bahwa praktik ini hanya menciptakan penjara-penjara baru. Di sini, kekuasaan melahirkan kepemimpinan yang menjadi penghalang tertinggi bagi manusia untuk merealisasikan dirinya.

Pemimpin “Yang Melampaui” dan masa depan kita.

Aceh butuh pemimpin “yang melampaui”, karena kita sudah belajar sekian banyak dan sekian lama dari kepemimpinan yang membatasi. Pemimpin yang melampaui, dibaca tidak sebagai sebuah identitas kekuasaan tetapi sebagai kebaikan yang memanusiakan manusia, memandang manusia sebagai sesama ciptaan tidak sebagai objek bagi pemaksaan kehendak kekuasaaan.

Pemimpin ini adalah pemimpin yang tidak melihat manusia berdasarkan agama, suku, ras, etnis dan kelas sosial, tetapi memandang manusia melompati sekat-sekat itu, dan melihat manusia, selaku sesama makhluk ciptaan Allah SWT yang punya hak sama tanpa boleh dihalangi dan dibatasi.

Pemimpin yang melampaui adalah pemimpin yang santun dengan rakyat, tidak menjengkal rakyat berdasarkan berapa banyak pelanggaran etika dan moral yang dilakukan dan mempermalukan warganya dengan menggelar sebanyak-banyaknya panggung penghukuman.

Pemimpin “Yang Melampaui” tidak akan pernah berkata pada “untuk mengusir rakyatnya keluar dari Aceh, bagi siapapun yang punya pemikiran yang berbeda dengan logika kekuasaan.

Kita dapat belajar banyak dari kepemimpinan yang mendekati kita dan menyapa kita selama ini. Pemimpin memasuki ruang rasionalitas kita dengan penentangan atau memberi ruang realisasi segala ekspresi ?.

Ketika kita sadar sesadar-sadarnya bahwa kepemimpinan yang ada selama ini belum bisa menjembatani spirit keagamaan dengan spirit kebebasan, yang kedua-duanya punya tempat dalam setiap ruang hati dan pikiran manusia, maka kita juga harus segera betindak cepat dengan menghadirkan kepemimpinan “Yang Melampaui”.

Berkaca pada kepemimpinan selama ini, dimana spirit keagamaan dan spirit kekuasaan selalu dihadirkan ke ruang publik sebagai arena pertentangan. Sehingga dalam model ini, kehebatan sejati kepemimpinan hanyalah kebijakan “membatasi” tanpa berani membuka ruang pertemuan.

Ini semua terjadi karena titik anjak kepemimpinan adalah “kecurigaan”, sehingga yang hadir adalah “jarak dan batas”. Ketika tahun 2017 ini, Aceh punya pemimpin “Yang Melampaui”, maka sejak saat itulah nanggroe peunulang endatu ini segera menjadi rumah gemilang bagi kita semua.[]

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Kolom

To Top