Connect with us

Pendekar Jihad Sekitar Exxon

Feature

Pendekar Jihad Sekitar Exxon

“Allah Akbar… Allahu Akbar!” pekik sejumlah pria lantang. Berhamburan melompat dari mobil pick up. Wajah mereka ditutup kain, hanya mata yang terlihat, persis gerilyawan Hamas, Palestina. “Kami baru pulang jihad,” ujar seorang di antaranya. Jihad yang dimaksud pria itu tak sungguhan, tapi sekadar ‘perang-perangan’.

Januari lalu, perbukitan Cot Kareung di Desa Blang Weu Panjoe, Kecamatan Blang Mangat, Lhokseumawe, memang berubah seakan medan tempur. Saban waktu, para santri berbagai pesantren dan warga yang ingin berjihad ke Palestina berkumpul. Tidak untuk mempelajari ilmu agama, melainkan belajar karate.

Front Pembela Islam (FPI), di belakang ‘latihan tempur’ para pemuda itu. Sebuah pesantren didirikan untuk menjadi markas, namanya Darul Mujahidin. Pimpinan pesantren bersemboyan “hidup mulia bermatikan syahid” itu, menyatakan telah mencetak puluhan lulusan yang siap membantu pejuang Hamas melawan serdadu Israel.

Pesantren ini hanya memfasilitasi segala kebutuhan santri dari penginapan sampai logistik untuk calon pendekar. Tanah lapang tempat latihan, letaknya berdampingan dengan lintasan pipa milik Exxon Mobil, raksasa minyak asal Amerika Serikat (AS).

Soal guru ilmu perang dan karate, diserahkan ke FPI Pusat di Jakarta. Dua pelatih dikirim untuk mengajarkan teknik dasar bela diri; gerakan kaki dan tangan, serta cara efektif melumpuhkan lawan. Ilmu dasar kemiliteran, diasuh tutor khusus yang juga kiriman Jakarta.

Ketua FPI Aceh, Yusuf Al Qardhawi, mengatakan, selama latihan tempur dan taktik perang gerilya, mereka digembleng oleh Abu Alyas, 38 tahun. Alyas, katanya, adalah seorang mujahidin yang telah berpengalaman di Afghanistan, berperang bersama kelompok Abu Sayyaf di Filipina Selatan dan bergabung dengan pejuang Hamas.

“Kita tidak memandang suku. Hanya memandang agama, untuk menegakkan amar makruf nahi mungkar, biar kuat kita harus berjaringan,” ujar Tengku Muslim At-Thahiri, petinggi FPI Aceh lain, pada ACEHKINI, Januari lalu.

Sistem rekrutmen pendekar tak serupa pesantren lain di Aceh. Serangkaian seleksi harus dilalui, dari tes ilmu agama, ketaatan menjalankan ibadah dan yang terpenting siap mati di Jalur Gaza. Tahap akhir, penentu kelulusan usai latihan fisik.

Peminat jihad di Aceh terbilang ramai. Menurut Muslim, yang mendaftar mencapai 500 santri. Namun tak semuanya lulus seleksi. “100 lewat administrasi, dari latihan gugur lagi, tinggal 80 orang yang siap dikirim ke Palestina,” jelasnya. “Kita hanya menyiapkan dasar saja, kemudian setelah di Palestina akan digembleng kembali.”

Walau mengaku melatih relawan jihad, tapi para santri tidak langsung diterjunkan ke medan perang sesungguhnya. Bahkan bisa jadi, tidak ikut perang sama sekali. “Di Palestina akan ada arahan kembali, mungkin saja dibekali kemampuan yang lain,” jelas Muslim.

***

Akhir Januari, Darul Mujahidin mulai lengang kembali. Namun ‘bau FPI’ masih tersisa di selembar spanduk, dipajang di pagar masuk. Bunyinya, “ulama jahat lebih berbahaya daripada dajjal.” Bekas markas militan ini juga masih menyisakan slogan pembakar semangat, “rumoh ureung meujihad,” jelas tertulis di balai-balai.

Tak hanya itu, anak-anak desa juga telah giat memainkan trik-trik pertempuran. Sebelum mengaji usai Magrib, sempat mereka unjukkan aksi layaknya militan Gaza. “Allahu Akbar….Allahu Akbar!” teriak santri cilik sambil mengacungkan potongan bambu seolah senjata.

Militan jebolan Darul Mujadin sudah dipulangkan ke basisnya, bersiap-siap ke Gaza. Seiring dengan itu, santri lain masih sibuk mengumpulkan dana dari penguna jalan. Menurut Muslim, FPI Pusat yang bertanggungjawab untuk pemberangkatan relawan ke Palestina.

Awal bulan lalu, 15 pendekar lulusan sekitar Exxon telah diberangkatkan ke markas pusat FPI di Jakarta. Sementara sisanya akan dikirim sesuai dengan permintaan FPI Pusat. “Dalam waktu dekat akan diberangkatkan.”

Sebelum diperangkatkan, mereka dipeusijeuk di sebuah pesantren pinggiran Kota Banda Aceh. Menurut Yusuf Al-Qardhawi, mujahid yang telah lulus tes itu tak hanya dikirim ke Palestina, tetapi ke semua negara Islam yang membutuhkan bantuan.

Di antara 15 mujahidin gelombang pertama, katanya, terdapat empat orang yang siap melakukan aksi bom bunuh diri dan dua sniper. “Kami menyebutnya pasukan bom syahid. Bukan pelaku bom bunuh diri karena istilah itu konotasinya negatif yang dilabelkan oleh media asing,” katanya.

Ketika ditanya alasan keempat orang ini siap menjadi pasukan bom syahid, Yusuf mengatakan karena selama latihan, mereka telah teruji dari segi mental dan fisik. “Saat latihan, mualim bilang bahwa keempat orang ini sudah siap dari segi jiwa dan raga untuk menjadi pasukan bom syahid. Mereka mujahidin sejati dan merupakan orang-orang pilihan,” katanya.

“Mereka kami sebut ‘Mujahidin Al Alami’ atau mujahidin internasional yang siap diberangkatkan kemana saja untuk membela umat Islam,” ujarnya. “Mereka sudah menjadi tentara Allah yang telah siap berjuang untuk membela agama Islam.” [a/Tulisan ini dimuat di Majalah ACEHKINI edisi April 2009, beredar Jumat (27 Maret)]

Continue Reading

More in Feature

To Top