Connect with us

Pental, Pentil atau Pentol?

KOLOM KUPI SANGER

Pental, Pentil atau Pentol?

Apa yang akan kita lakukan jika mendapati kantor pemerintah yang melayani urusan publik tutup atau sedang tidak ada petugas? Jawabannya gampang. Pergilah ke warung-warung kopi (warkop), maka di sana kita akan menemukan mereka sedang menjalankan ritual penting di pagi hari. Tapi, apa yang akan kita lakukan jika justru warkopnya yang tutup? Tidak mungkin kita pergi ke kantor pemerintah kan? Di sini saya berkesimpulan bahwa warkop lebih penting daripada kantor pemerintahan.

Kemarin, warkop Cek Pan tutup. Bukan hanya saya, puluhan pelanggan setia lain sempat gundah-gulana. Tak ada keterangan resmi dari Cek Pan sebelum penutupan itu, apalagi ada pengumuman di media-media. Paling selembar kertas dengan tulisan pakai spidol tertempel di depan warkopnya, “Lakee Meuah, Hari Ini Warkop Cek Pan Tutup.”

Fenomena penutupan warkop Cek Pan secara tiba-tiba, di luar kebiasaan menimbulkan pertanyaan besar. Biasanya warkop ini tutup jika ada hari-hari penting seperti di awal bulan puasa, dan beberapa hari saat hari raya. Bahkan saat tanggal merah di mana kantor publik tutup, warkop Cek Pan tetap buka. Bagi Cek Pan warkopnya bukan sekadar entitas bisnis, tempatnya mencari nafkah. Warkop Cek Pan adalah “lembaga” yang sangat peduli konsumen atau pelanggannya. Seperti yang selalu diajarkan ayahnya, sang pendiri warkop, bahwa pelanggan itu adalah raja. Pelanggan itu bukan hanya sekadar tamu, tapi juga menjadi mitra, layaknya kawan baik.

Apa yang diyakini dan dipraktekkan oleh Cek Pan dan orangtuanya menjalankan bisnis sangat sesuai dengan disiplin marketing modern. Konsumen (consumer), lalu yang kemudian naik peringkat menjadi pelanggan (customer), perlu dipertahankan salah satunya dengan memperlakukan mereka seperti mitra (partner). Menurut saya, Hermawan Kartajaya, seorang pakar dan guru marketing, perlu ngopi di Warkop ini untuk membuktikan teori-teorinya.

Hari ini, saya berkesempatan untuk menanyakan langsung alasan penutupan warkop Cek Pan sebelum menjadi isu meresahkan dan hoax yang menyebar kemana-mana.

Saya sempat berfikir jangan-jangan kemarin Cek Pan sakit. Jawaban Cek Pan atas pertanyaan dihentikannya operasional warkop selama satu hari di luar dugaan.

“Warkop sedang dalam pemeliharaan.”

Saya tak mampu menahan senyum atas jawaban itu.

Omen, ka lagee PLN lagoe warkop droe. Ada pemeliharaan pulak.”

“Ya iyalah Pak Dos. Dalam minggu ini ada puluhan ribu tamu dari luar datang ke Aceh. Na acara nyan, Penas. Warkop ini harus siap-siap, harus tampil lebih mantap. Bagian dinding yang agak kusam juga sudah saya cat lagi, supaya lebih fresh.”

Pantas saja, tadi saat masuk ke warkop ini saya sempat merasakan nuansa yang agak berbeda. Ternyata Cek Pan sedang mempersiapkan diri menjamu para tamu dari luar Aceh. Selain Cek Pan, lembaga-lembaga Pemerintah Aceh, khususnya yang terlibat dalam Pekan Nasional (Penas) petani dan nelayan, sibuk mempersiapkan diri menghadapi event berskala nasional ini. Kota Banda Aceh khususnya terasa beda. Ada banyak polesan sana-sini yang membuat Banda Aceh lebih berwarna. Apalagi Presiden Jokowi juga akan hadir.

“Pohon di sepanjang jalan kota aja dipakein kain warna-warni. Mungkin biar terlihat lebih sopan.”

Cek Pan adalah seorang pedagang yang masuk dalam kategori kecil-menengah, termasuk orang yang paling senang dengan perhelatan akbar seperti ini. Para pedagang musiman lain juga biasanya tidak pernah melewatkan kesempatan emas ini. Para tamu pasti harus melakukan kegiatan konsumsi. Makan, minum, beli souvenir atau apa saja yang diperjual belikan. Akibatnya warkop seperti Cek Pan berpotensi dijunjungi oleh pembeli lebih banyak lagi. Sudah pasti jika banyak pembeli, keuntungan meningkat, pendapatan ikut meroket. Sederhananya ada banyak pihak yang diuntungkan secara ekonomi.

Bek karna ramee jamee dari lua, droe neu peumeuhai harga. Jangan mentang-mentang banyak orang luar, harga-harga dimahalkan.”

Bukan hal aneh di saat acara-acara besar para pedagang sering mengambil untung lebih, yang kadang di luar batas kewajaran. Namun orang luar sering tidak ada pilihan lain selain harus membeli barang-barang tersebut.

Cek Pan mengangguk-angguk tanda sepakat.

Tiba-tiba, kami melihat satu unit mobil baru berwarna merah yang sedang mencari posisi parkir di depan warung. Selesai parkir, pengemudinya keluar mobil, ternyata Bang Jon, dan langsung menghampiri kami. Terus terang saya tidak tahu apa pekerjaan tetap teman “sewarkop” ini (maksudnya teman yang sering dijumpai di warkop). Tapi yang pasti dalam setahun ia bisa gonta-ganti mobil dua kali. Cek Pan pernah bilang, Bang Jon itu pengusaha “serba bisa”, alias broker atau agen proyek. Dia terkenal sangat dekat dengan kekuasaan, ia “orang dalam” dan ahli negosiasi. Bahasa lainnya, ahli dalam melakukan lobi-lobi proyek yang berasal dari uang negara.

Sambil duduk dan meletakkan kunci mobil barunya di hadapan kami, ia pesan minuman kepada karyawan Cek Pan.

“Sanger dingin, satu.”

Cek Pan dengan nada nakal bertanya.

“Oman, mobil baru lagi ya? Sabee-sabee moto baroe. Dari proyek mana lagi nih?”

Yoi Cek Pan. Biasalah, sekarang kan lagi Penas. Apalagi pemerintah sekarang juga kan sudah mau berakhir. Kayak gak tau aja, Cek.”

Cek Pan dan saya pura-pura lugu, tidak tahu, dan bertanya lagi maksudnya.

“Proyek Penas ini kan menghabis puluhan milyar, masak orang kayak saya gak bisa dapat mobil baru. Jangan sok lugu lah Pak Dos, hehehehe.”

Saya dan Cek Pan hanya saling berpandangan.

Event Penas belum tuntas, tapi seorang broker seperti Bang Jon sudah dapat mobil baru. Itu baru tingkat acara nasional, bayangkan kalau ada acara seperti ini dengan level internasional.

“Kalo nanti ada acara seperti ini di level internasional nama yang cocok apa ya, Cek?

“Kalo pekan internasional, namanya bisa jadi Pental, atau Pentil atau mungkin juga Pentol. Bebas aja.”

Sambil menyeruput segelas cangkir kami tertawa bersama.[]

Fahmi Yunus adalah pengajar pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, UIN Ar-Raniry, peneliti pada ICAIOS dan CENTRIEFP, Banda Aceh. E-mail: fahmiyunus@gmail.com

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in KOLOM KUPI SANGER

To Top