Pianis Belanda Bakal Tampil di Museum Aceh

0
1166
Pianis Belanda Bakal Tampil di Museum Aceh
Konferensi pers di Komunitas Tikar Pandan jelang pertunjukan piano Wouter Bergenhuizen di Museum Aceh. (Foto: Habil/Acehkita)

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM – Besok sore, Jumat (17/5), pianis asal Belanda, Wouter Bergenhuizen, bakal pentas di Aula Museum Aceh, Kota Banda Aceh. Ia tampil pada pertunjukan piano dalam rangkaian lawatannya ke tiga kota di Indonesia.

Lawatannya ke Indonesia difasilitasi oleh Pusat Kebudayaan Belanda Erasmus Huis di Jakarta. Sebelum tampil di Aceh, pria berusia 31 tahun itu dalam rangkaian lawatannya sudah tampil di Pusat Kebudayaan Belanda Erasmus Huis, Jakarta (11/5) dan Gereja Wesley Methodist, Medan (13/5).

Pada pertunjukan piano di Museum Aceh, Wouter bakal memainkan repertoar Sonata No.31 dalam A Mayor Op.110 (Ludwig van Beethoven), Holberg Suite Op.40 (Edvard Hagerup Grieg), dan Images-premier livre (Claude Debussy).

Pada 2017, Wouter Bergenhuizen menjadi satu-satunya kontestan pianis Belanda yang mencapai semifinal The International Franz Liszt Piano Competition di Utrecht. Kompetisi itu diikuti oleh pianis dari seluruh dunia.

“Di Kota Banda Aceh saya rasa punya banyak penikmat musik klasik, tapi tidak ada pemainnya. Jadi saya punya kesempatan untuk memperkenalkan musik klasik kepada masyarakat Aceh,” kata Wouter Bergenhuizen kepada jurnalis, dalam konferensi pers di Komunitas Tikar Pandan, Rabu (15/5).

Manajer Proyek Pusat Kebudayaan Belanda Erasmus Huis, Bob Wardhana, dalam konferensi pers itu menyampaikan bahwa pasca-tsunami 2004 hingga sekarang sangat jarang ada musik klasik di Aceh. Padahal, musik klasik punya penikmatnya tersendiri di Aceh.

“Di Aceh selama ini sangat jarang ada musik klasik sejak setelah tsunami. Makanya begitu ada musisi musik klasik Belanda ke Indonesia, saya bawa kemari (Aceh),” kata Bob Wardhana.

Fauzan Santa dari Komunitas Tikar Pandan, menyampaikan penampilan Wouter Bergenhuizen di Aceh menjadi pemantik untuk menghidupkan kembali musik klasik di Tanah Rencong.

Bahkan, dia optimistis ke depannya musik klasik piano bakal berkolaborasi dengan alat musik tradisional di Aceh, seperti rapai. “Ini sebagai batu asah atau pemantik untuk membangkitkan musik klasik di Aceh. Kita mungkin ke depannya akan berkolaborasi dengan alat musik tradisional di Aceh, seperti rapai,” sebut Fauzan.[]

HABIL

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.